Home / Berita / Opini / Mengapa Kader PKS Tidak Berpaling?

Mengapa Kader PKS Tidak Berpaling?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Alhamdulillah, banyak yang heran bahkan sampai kesal. Kenapa kader PKS masih istiqamah membela dan tidak lari dari partai berlambang Ka’bah dan dua padi ini. Padahal pemberitaan media yang begitu gencar menjelek-jelekkan PKS, seakan PKS sudah berubah tak seperti dulu lagi.

Malah ada yang berdoa kepada Tuhan, agar memberikan kesadaran kepada kader-kader PKS, agar meyakini bahwa mereka (baca: kader PKS) telah keliru dan melakukan kesalahan.

Ok, ke persoalan. Kenapa kader PKS tak berpaling? Sebab mereka tetap yakin dengan kendaraan dakwah mereka. Satu-satunya kendaraan yang mampu mengantarkan ke tujuan. Sebab kendaraan lain sudah tak bisa diharapkan.

Kerusakan yang ada di kendaraan bernama PKS ini, masih mending dan bisa diperbaiki, tidak terlalu parah disbanding kendaraan lain. Padahal, belum tentu kerusakan.

Kader PKS, meyakini benar ada konspirasi itu. Bagi mereka yang paham dengan betapa bencinya orang non-muslim dengan Islam, akan meyakini dengan sepenuh hati bahwa konspirasi itu benar adanya. Terhadap orang Islam secara individu saja, mereka khawatir. Pelajari tentang ghazwul fikri. Apalagi terhadap sekelompok umat Islam yang teratur secara gerakannya/berorganisasi, jelas mereka semakin khawatir. Maka mereka akan melakukan konspirasi.

Kalau ditanya, LHI memang melakukan itu atau tidak, secara pribadi saya mengatakan tidak. Saya masih percaya, kader PKS itu luar biasa akhlaqnya (kecuali saya). Saya tahu dengan kawan-kawan saya, mereka menjaga sekali dengan perilaku mereka. Tak mau makan yang haram. Berhati-hati terhadap apa yang dilakukannya. Contohnya begini, di kos saya ada roti yang tergeletak tanpa ada yang tahu siapa yang punya. Sampai berhari-hari, roti itu tetap utuh tak ada yang menyentuh.

Lalu, pernah di posko PKS, ada uang jatuh Rp 5.000 ketahuan oleh petugas piket, uang itu di selotip di papan pengumuman. Tidak ada diambilnya. Itu hanya sebagian kecil saja. Masih ada banyak contoh serupa.

Semakin tinggi level kader di PKS, semakin luhur akhlaqnya. Orang baik di PKS, belum tentu jadi petinggi. Baik di sini menurut saya adalah: ibadahnya lancar, baca Quran rutin, puasa sering. Dan seterusnya. Orang seperti ini, di PKS belum tentu jadi petinggi. Tapi begitu di partai lain, sudah wah.

Kalau orang PKS melakukan kesalahan? Kader menyadari, jamaah PKS bukanlah jamaah malaikat yang tak ada melakukan kesalahan. Mereka adalah kumpulan manusia. Selama kesalahan itu bisa dibenarkan, maka yang dilakukan adalah memperbaiki kesalahan itu. Selama kekhilafan itu masih bisa diluruskan, maka kekhilafan itu diluruskan. PKS tetap beda dengan partai lain. Bandingkan saja konflik yang dilakukan partai lain, dan cara mereka meresponnya.

PKS bukan partai biasa; partai dakwah. Berada di dalamnya, mendapat pahala. Apa yang ditawarkan PKS, mengenyangkan kekosongan jiwa. Dan ini tidak didapat di partai lain. Saya pribadi pernah masuk di Golkar, PKB, dan PDI-P yang membuat saya tergila-gila. Tapi pilihan hati saya ternyata di PKS. Labuhan hati yang paling pas.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (16 votes, average: 8,94 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Supadilah, S.Si
Guru di SMP Islam Terpadu Darul Hikmah Pasaman Barat. Menuntut ilmu di Universitas Andalas, Padang.
  • Akhuukum

    Alhamdulillah. Masih ada alhawaariyyuun modern yang akan menolong agama ini.

    • Marttono

      ya betol sekali

  • robby

    untuk semua kader PKS harus lebih hati2 dalam melanggah lagi
    ingat kasus yang dulu seperti nira setitik, rusak susu sebelanga

  • pak Misbakhun dulu kader apa ya?

Lihat Juga

Presiden Joko Widodo (tribunnews.com)

Apakah Pak Jokowi Telah Berubah? Sebuah Telisik Dua Aksi Massa