Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Penakluk Kemustahilan

Penakluk Kemustahilan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Pengarang : Ammar Bugis

Halaman : xi + 180 Halaman

Cover : Soft Cover

Cetakan : Desember 2012

ISBN : 978-602-8997-57-7

Harga : Rp. 45.000,-

Penerbit : Republika

 

Pemuda Lumpuh Penakluk Kemustahilan

Cover buku "Penakluk Kemustahilan".
Cover buku “Penakluk Kemustahilan”.

dakwatuna.com – Hidup adalah serangkaian perjuangan melawan kemalasan dan ketakutan. Mengoptimalkan kekurangan untuk menggapai semua yang diimpikan. Karena Tuhan pasti memberikan hikmah di balik semua yang diciptakanNya.

Adalah Stephen Hawking. Ilmuwan fisika internasional asal Inggris yang sangat dihormati dunia. Padahal beliau adalah sosok lumpuh yang sama sekali tidak dapat bergerak. Nasib serupa dialami oleh Dr Thaha Husen. Sastrawan asal Negeri Piramida yang menerima penghargaan tertinggi dari Perancis. Padahal, beliau seorang tunanetra. Pada akhirnya, beliau diangkat menjadi Menteri Pendidikan di negerinya.

Buku ini pun, ditulis oleh seorang yang ‘berkemampuan khusus’. Ia menderita penyakit Werdnig Hoffman sejak usia dua bulan. Di mana penderitanya mengalami kelumpuhan total kecuali mata dan lidahnya. Pemuda ‘berkemampuan khusus’ ini bernama Ammar Bugis. Lahir di akhir 1986 dari keluarga sederhana yang peduli pendidikan. Kakek Ammar adalah keturunan asli Sulawesi yang tinggal di Mekah.

Ammar dilahirkan di Amerika, dan besar di Jeddah, Arab Saudi. Meski lumpuh, Ammar sejatinya tidaklah cacat. Sehingga berulang kali ia menyampaikan, “Saya telah mendayagunakan pengalaman kesuksesan saya untuk menyelesaikan misi yang saya pikul di pundak saya, berupa cacat fisik yang sama sekali tidak pernah menjadi cacat tekad atau cacat inovasi. Karena cacat yang sesungguhnya adalah cacat tekad, cacat cita-cita, dan sikap menyerah pada keadaan; tanpa mau melawan dan membiarkan diri hidup dalam penderitaan. ” (Hal 94)

Tak heran, ia menjadi begitu bersemangat untuk menggapai semua yang diimpikan. Mulai dari menempuh pendidikan di sekolah orang-orang umum, prestasinya pun membuat kita berdecak kagum. Di sekolah menengah atas, Ia berhasil menyelesaikan pendidikan dengan nilai 97% (Hal 15). Ia pun melanjutkan ke Universitas King Abdul Aziz jurusan jurnalistik. Meski banyak kalangan yang mencibir dan meragukan kemampuannya, ia berhasil menjadi ‘juara’ pertama dalam wisuda di angkatannya dengan predikat cum laude. Ia berhasil menggondol IPK 4,72 dari total nilai 5 (Hal 59).

Sejak sebelum lulus kuliah, Ammar sudah mulai magang bekerja di sejumlah tempat. Sehingga, tak lama setelah gelar sarjana ia terima, Ammar langsung diterima untuk bergabung di Harian al-Madina (Hal 70). Di sana, Ia menjadi satu-satunya wartawan olahraga yang tidak menggunakan alat perekam. Ia mempunyai ingatan yang sangat tajam, sehingga bisa mengingat setiap detail peristiwa atau wawancara yang ia lakukan (Hal 74).

Ia semakin dikenal publik karena tulisan dan reportasenya yang membumi. Sehingga pada tahun 2006, ia terpilih menjadi juru bicara resmi untuk kalangan berkebutuhan khusus dalam Konferensi Internasional III yang diselenggarakan di Jeddah (Hal 81). Setelah ‘manggung’ di acara tersebut, sinarnya semakin cemerlang. Ia pun terpilih menjadi perancang acara, penulis skrip, reporter sekaligus presenter pada sebuah acara televisi di Arab Saudi tentang orang-orang berkebutuhan khusus berprestasi yang di tayangkan selama 20 episode (Hal 91).

Tak berhenti sampai di sana. Ammar juga aktif berbisnis melalui perdagangan valas, saham minyak bumi, hingga mendirikan warung makan. Hal ini, membawanya pada sebuah pemahaman yang sangat brilian, ”Salah satu pengalaman terpenting yang saya dapat dalam bidang bisnis adalah pemahaman bahwa siapapun yang ingin berhasil di dunia, baik dalam bidang bisnis maupun dalam bidang finansial harus melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati, penuh keseriusan dan ketekunan. (Hal 156)

Kini, Ammar menikmati sebuah keluarga kecil bersama istri dan satu orang anaknya. Pada tahun 2010 silam, Ammar menikahi seorang janda asal Mesir beranak satu. Seorang Sarjana jurusan Ilmu Komputer yang baik hatinya. Di mana ia telah menjanda selama sepuluh tahun dan akhirnya menerima Ammar sebagai kekasihnya. (Hal 137)

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 5,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Pirman
Penulis, Pedagang dan Pembelajar

Lihat Juga

Ilustrasi. (irontreedesigns.co.uk)

Dunia Dikejar, Akhirat Ditinggal