Home / Narasi Islam / Sosial / Fitrah Manusia Ketika Berinteraksi Dengan Berita

Fitrah Manusia Ketika Berinteraksi Dengan Berita

Ilustrasi (shutterstock.com / Jezper)
Ilustrasi (shutterstock.com / Jezper)

dakwatuna.com – Tidak asing lagi, saat ini media mempunyai pengaruh yang sangat besar. Dengan media sangat mudah opini publik diciptakan. Kalau opini itu baik, berarti media telah berperan dalam menyebarkan kebaikan. Namun kalau ternyata opini itu buruk, maka media paling bertanggung jawab atas merebaknya keburukan tersebut.

Al-Qur’an sudah mengingatkan bahwa ada hal-hal yang menjadi fitrah manusia dalam berinteraksi dengan berita, baik dalam menerima ataupun menyampaikannya. Kalau sudah menjadi fitrah, berarti manusia secara tidak sadar akan melakukannya kalau tidak selalu hati-hati atau diingatkan.

Konstruksi Berbalik

Al-Qur’an menyebut peristiwa yang menimpa Ibunda Aisyah RA dengan haditsatul ifki, yang berarti “peristiwa tersebarnya berita yang dikonstruksikan terbalik”. Dalam surat An-Nur disebutkan:

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga.” [An-Nur: 11].

Kata (الإفك) dalam Al-Qur’an selalu digunakan untuk hal merubah sesuatu yang benar menjadi salah, dan yang salah menjadi benar. Bisa digunakan pada semua yang berbalik arah. Dalam peristiwa itu, Ibunda Aisyah RA yang merupakan wanita paling suci di atas bumi dikatakan sebagai orang yang berzina.

Berita secara sengaja dikonstruksi seperti itu untuk kepentingan tertentu dengan memilih fakta, sumber, pemakaian kata, gambar, sampai penyuntingan. Biasanya dilakukan oleh sekelompok orang yang kuat. Oleh karena itu dalam ayat di atas disebutkan dengan kata (عصبة), artinya sekelompok orang yang mempunyai ikatan yang kuat di antara mereka.

Bahaya Konstruksi Negatif

Dalam bahasa iman, menyebarnya berita seperti ini akan mengundang siksaan Allah swt. Siksaan tersebut berupa kerusakan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Siksaan yang sangat besar, sehingga tanpa rahmat dan karunia dari Allah SWT, pasti akan terjadi sebuah kehancuran.

وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِي مَا أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu.” [An-Nur: 14].

Dengan konstruksi tersebut, sebuah berita akan menjadi berita negatif, menyebar di masyarakat, dan melakukan pengaruh-pengaruhnya. Menghilangkan kepercayaan, memecah-belah, memojokkan, menekan, permusuhan, dan sebagainya. Sehingga ada orang atau kelompok yang terzhalimi. Allah SWT tidak akan membiarkan ketika ada kezhaliman.

Lebih Populer

Namun sayangnya, hal yang berbahaya ini lebih laris di kalangan komunikan. Dalam ayat di atas berita dengan konstruksi negatif disebut dengan (مَا أَفَضْتُمْ فِيهِ). Kata itu awalnya digunakan untuk mengalirnya air yang tumpah ruah, berjalan dengan gelombang manusia yang sangat banyak, dan pembicaraan yang sudah menyebar. Makna-makna itu menunjukkan bahwa akan sangat populer.

Kebanyakan kita tertarik untuk mengikuti perkembangannya. Oplah surat kabar akan meningkat, rating televisi akan naik, jika yang diberitakan adalah hal yang negatif. Sehingga ada istilah the bad news is good news; the good news is bad news. Sesuatu dinilai buruk atau tidak pun secara subjektif. Misalnya kalau ada sebuah partai nasional terlibat korupsi trilyunan rupiah itu adalah hal biasa; tapi kalau ada partai Islam masih terduga korupsi semilyar rupiah itu adalah berita besar yang akan memenuhi headline semua harian.

Daya Sebar Cepat

Tidak butuh waktu lama-lama untuk tersebarnya berita seperti ini. Masih dalam surat yang sama, disebutkan:

إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ

“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja.  Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” [An-Nur: 15].

Kata (تَلَقَّوْنَهُ) bermakna menerima berita. Menerima berita seharusnya dengan telinga dan mata, lalu menyampaikannya dengan mulut. Tapi dalam ayat ini disebutkan menerima dan menyampaikan dengan mulut kalian. Artinya, berita tersebut tidak akan bertahan lama terpendam. Bahkan bagi seseorang, begitu mendengar atau membacanya dia pasti akan segera menyampaikannya kepada yang lain. Demikianlah, sesuatu yang merusak itu akan merebak luas, dan akan sangat sulit membendungnya. Sehari-hari, di mana-mana, informasi yang masuk otak kita semua adalah keburukan.

Sarat dengan Kebohongan

Dalam ayat di atas disebutkan (وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ) “kamu katakan dengan mulutmu”. Kata (أفواه) dalam Al-Qur’an selalu digunakan untuk perkataan yang mengandung kebohongan. Ketika mengembangkan sebuah berita, pasti akan ada tambahan-tambahan tertentu agar terlihat lebih menarik. Tambahan yang dimaksud haruslah wah sehingga komunikan akan terdorong keingin-tahuannya. Melakukan ini sudah masuk ke dalam bab memfitnah (dalam bahasa Arab disebutkan dengan kata qadzaf), menyebutkan seseorang melakukan kesalahan padahal dia tidak melakukannya. Ini adalah kezhaliman yang sangat besar.

Dianggap Biasa

Ada yang lebih berbahaya lagi dari semua di atas, yaitu sikap kita yang menganggap tersebarnya berita buruk dan bohong itu sebagai sesuatu yang biasa saja. Baik pada pembuat berita maupun yang menerimanya. Dalam ayat di atas disebutkan (وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ) “Dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja, padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” Di sisi Allah SWT, membuat, mendengar, dan menyebarkan berita yang belum pasti kebenarannya, dan mempunyai pengaruh buruk, adalah sesuatu yang sangat besar. Baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia saja, efek berita negatif itu bisa sangat parah. Bahkan bisa menjadi dasar jatuhnya vonis, baik dari lembaga hukum maupun dari masyarakat. Disebutkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” [Al-Hujurat: 6]

Demikianlah fitrah manusia ketika berinteraksi dengan berita. Diingatkan Allah SWT, agar kita bisa berhati-hati, dan tidak terjerumus dalam kerusakan yang diakibatkannya. Wallahu A’lam.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

M Sofwan
Ketua Studi Informasi Alam Islami (SINAI) periode 2000-2003, Kairo-Mesir
  • widia

    masyaallah..jazakillah khair.sgt mencerahkan.

Lihat Juga

gadget

Anak-Anak di Era Digital dan Media Sosial