Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Mencari Nafkah Jangan Abaikan Keluarga

Mencari Nafkah Jangan Abaikan Keluarga

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

keluargadakwatuna.com – Menjadi TKI di luar negeri bukan kali pertama terjadi. Sudah banyak masyarakat kita yang rela berpisah dari sanak famili demi mengais rezeki di luar negeri. Tempat tujuan mereka umumnya adalah Arab Saudi, Taiwan, Hongkong, Singapura, China, Malaysia. Orang Lamongan biasanya lebih memilih yang terakhir.

Alasan utama pergi ke Malaysia mulanya adalah tuntutan nafkah. Pekerjaan layak susah didapat di rumah, sehingga terpaksa merantau ke Malaysia. Bekerja di Negeri Jiran juga dipandang lebih cepat menghasilkan ketimbang di Indonesia. Perekonomian Malaysia lebih maju dari Indonesia, maka nilai tukar ringgit juga berada di atas rupiah.

Banyak orang yang pulang dari Malaysia lantas bisa membeli kendaraan, tanah, rumah, bahkan pergi haji ke Tanah Suci. Ini membuat tetangga kanan-kiri rumah yang juga ingin enak hidupnya kepincut ikut ke sana. Prosedur yang tidak lagi mudah bukan masalah. Malaysia menjanjikan masa depan cerah, maka harus ke sana dengan berbagai cara. Keamanan dan kenyamanan hidup di “negeri orang” itu nomor sekian.

Malaysia seolah menjadi jawaban masalah. Begitu yakinnya tentang Malaysia sebagai jawaban masalah, sampai-sampai mencari menantu pun harus yang “alumni” Malaysia ketimbang lulusan kuliah. Dianggapnya, menantu yang dari Malaysia itu akan lebih cepat kaya dibanding yang dari kuliah dengan membawa pulang ijazah. Ini benar-benar terjadi di sebagian masyarakat kita.

Maka tidak usah heran jika ada murid yang begitu lulus sekolah lebih suka ke Malaysia daripada kuliah. Yang sudah sarjana dan frustrasi akibat lama diwisuda tetapi belum dapat pekerjaan juga nekat mengadu nasib ke Malaysia. Tidak kalah dari itu adalah para penganggur yang capek keluyuran dan lontang-lantung ke sana-kemari di kampungnya.

Malaysia benar-benar dianggap obat mujarab yang bisa mengatasi segala masalah, meski dengan modal ilmu dan skill ala kadarnya. Beragam kabar buruk yang muncul seputar nasib pekerja kita di Malaysia sesungguhnya adalah karena tiadanya keseimbangan kenekadan dengan ilmu dan skill itu. Termasuk yang berani berutang jutaan rupiah agar bisa ke Malaysia, tetapi sampai kembali ke rumah, belum juga mampu melunasinya.

Ada fakta baru yang lebih lucu. Oleh sebagian orang, Malaysia bahkan dianggap tempat lari dari beban hidup yang menimpa. Akibat tidak kunjung mendapat jodoh, perempuan berusia matang mengadu peruntungan ke Malaysia. Ada pula istri yang frustrasi setelah dicerai sang suami lantas juga kabur ke Malaysia. Bahkan, ada ibu yang tega meninggalkan anaknya yang baru berumur 1,5 tahun dan minggat ke Malaysia karena lelah cekcok dengan suaminya.

Begitu sederhana pola pikir sebagian kita dalam menyikapi masalah. Bagi yang masih berusia lajang, mungkin tidak begitu rumit masalahnya. Tetapi bagi yang sudah berkeluarga, keputusan serampangan itu jelas tidak menyelesaikan masalah. Kita lihat banyak istri menjadi “janda” gara-gara ditinggal suaminya ke Malaysia. Akankah keluarga sakinah dapat terwujud jika suami-istri jarang tinggal serumah?

Malah ada anak yang merasa asing dengan orang tuanya sendiri karena terlalu lama ditinggal ke Malaysia. Padahal pendidikan anak sangat ditentukan oleh pendidikan kedua orangtua. Hampir pasti, adanya anak bermasalah, muasalnya adalah faktor keluarga. Anak menjadi susah diarahkan, kerap karena minim suntikan moral dari orangtua.

Dan betul-betul terjadi, anak gadis berusia sekolah hamil di luar nikah, pemicu utamanya adalah pergaulan bebas karena kedua orang tuanya di Malaysia. Belum lagi maraknya anak putus sekolah karena kasus serupa.

Kebutuhan materi anak memang terpenuhi, bahkan cenderung berlebih. Tetapi materi tidak akan berarti tanpa perhatian dan kasih sayang orangtua. Memberikan fasilitas yang tidak sesuai dengan umur dan kebutuhan anak juga sering berdampak negatif. Maunya memberikan kasih sayang ke anak, tetapi justru menjerumuskannya. Anak dilatih untuk hidup serba mewah. Padahal itu bukan sikap bijaksana.

Bukan berarti bekerja jauh dari rumah atau keluarga itu salah. Tetapi ia harus pilihan terbaik dari yang terburuk. Mendampingi dan mendidik keluarga, terutama anak, jelas tanggung jawab mulia dan bernilai ibadah. Mendidik anak tidak cukup dengan pasokan dana saja. Faktanya, anak-anak yang sukses sekolah dan baik akhlaknya umumnya adalah mereka yang hidup sederhana, tetapi selalu mendapat perhatian, kasih sayang, dan pengarahan penuh dari orang tuanya.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

M Husnaini
Pendidik dan Penulis Tinggal di Kota Soto Lamongan
  • Abdullah

    alhamdulillah, salah siapa negeri ini mencetak banyak pemahaman “pembantu” di negeri orang, dihalus-haluskan istilahnya menjadi “TKI”. ketersediaan tenaga kerja yang merupakan solusi hanyalah harapan yang meng awang-awang, Jatah mereka (kaum pecari kerja) seakan-akan menguap dijalan karena panasnya nafsu dunia. Banyak orang-orang dari perwakilan kita yang dipiliih oleh TKI kita, tidak mampu memperjuangkan komunitas pekerja untuk tidak ke luar untuk jadi babu…mereka menjadi warga yang hilang rasa…perusakan generasi dari saudara pekerja kita karena miskin kasih sayang dari para orang tua yang bekerja sebagai babu di negeri orang adalah tanggung jawab kita semua, so….sampai kapan expor TKI jumlahhnya makin menurun?

Lihat Juga

Islam di Indonesia, Jangan Ibarat Air Susu Dibalas Air Tuba