Home / Keluarga / Pendidikan Anak / Just Play, Have Fun, Enjoy the Game

Just Play, Have Fun, Enjoy the Game

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Keluarga bahagia (inet)dakwatuna.com – Ayah dan Bunda, itulah yang dikatakan Michael Jordan ketika orang bertanya apa kunci suksesnya sampai menjadi pebasket legendaris NBA. So? Janganlah lagi meragukan betapa pentingnya bermain bagi kehidupan kita.

Ssst… Ayah dan Bunda, sedikit buka rahasia nih: sampai saat ini saya masih menyimpan ratusan tentara plastik kecil yang dulu pernah saya mainkan ketika masih menjadi seorang bocah. Bersama mereka, saya pernah menjadi seorang jenderal yang menaklukkan berbagai negara khayalan. Karir militer saya waktu itu jauh lebih asyik, lebih fantastis dan lebih menyenangkan dibanding jenderal betulan manapun lho. Semuanya bertambah jadi sangat indah ketika ayah saya ikut terlibat dalam pertempuran bersama para prajurit kecil itu. Namun Ayah Bunda, semua keindahan itu menjadi berkali lipat lebih keren ketika sekarang saya telah menjadi jenderal mereka lagi, kali ini ditemani anak-anak lelaki saya yang telah berpangkat sebagai marsekal udara dan kapten bajak laut.

Wahai Ayah dan Bunda, bermain adalah kegiatan sepanjang hidup. Alangkah malangnya orang dewasa yang merasa tak punya gairah lagi untuk bermain. Lebih malang lagi bila ada anak yang orang tuanya merasa bermain bagi mereka jauh lebih tidak penting dibanding mengerjakan tugas sekolah. Biasanya para orangtua seperti ini memang berasal dari orang-orang dewasa yang telah kehilangan semangat bermainnya. Padahal Ayah dan Bunda, dengar deh apa yang dikatakan seorang filsuf Jerman terkenal, Friedrich Nietzsche (1844-1900), “Di dalam diri laki-laki sejati, bersembunyi seorang anak yang ingin selalu bermain.”

Ayah dan Bunda, mau tahu kapan ekspresi anak menjadi paling serius? Bukan, bukan pada saat dia marah atau ngambek. Coba saja beri dia bak pasir yang cukup besar. Tambahkan sekop, gayung, seember air dan beberapa mainan binatang, maka kita akan melihat ekspresi serius yang sering kali mengalahkan keseriusan ekspresi para eksekutif muda yang bersemangat di kantor-kantor bergedung tinggi. Kenapa harus heran? Bukankah seorang pelukis kontemporer Inggris bernama David Hockney pernah bilang, “Orang cenderung lupa bahwa bermain ternyata merupakan kegiatan yang sangat serius.”?

Mudah-mudahan Ayah dan Bunda jadi tambah yakin dengan menyimak apa yang dikatakan Lev Vygotsky (1896-1934), seorang psikolog Rusia, “Dalam bermain anak-anak selalu berperilaku lebih tinggi dari usianya, mereka juga selalu beraksi lebih matang dari kegiatan sehari-hari lainnya. Ketika sedang bermain, seolah-olah mereka bahkan lebih tinggi satu kepala dari tinggi badan sebenarnya.”

Bagi saya, di antara berbagai sifat intelektual manusia, yang paling mendekati sifat kebahagiaan adalah kreativitas. Mengapa? Sebab sifat kreatif tumbuh bersama kegiatan bermain. Ahli Psikoanalisa Swiss yang terkenal, Carl Gustav Jung (1875-1961) menguatkan hal ini, katanya, “Berkreasi dan membuat sesuatu yang baru bukanlah dilengkapi dengan intelektual, tetapi dengan insting bermain.”

Ayah dan Bunda, istilah kocak “Masa Kecil Kurang Bahagia” ketika melihat orang dewasa melakukan kegiatan “Kekanak-kanakan” memang banyak benarnya dalam arti positif. Bila ingin anak kita tumbuh menjadi orang yang berbahagia kelak, biarkanlah ia memuaskan semangat bermain dan bersenang-senang. Brian Sutton-Smith, seorang ahli cerita rakyat kontemporer Amerika, bahkan berpendapat, “Lawan dari bermain bukanlah bekerja, tetapi depresi.”

Bermain bermakna sangat penting dalam menyiapkan anak menghadapi kesulitan dan hal-hal di luar harapan, bahkan sampai kelak ia dewasa. Ahli biologi kontemporer Amerika, Marc Bekoff, bilang, “Bermain adalah latihan dalam menghadapi hal-hal di luar harapan kita.”

Nah, Ayah dan Bunda, jangan pernah berhenti bermain ya. Mulai sekarang nimbrung saja bareng para bocah tercinta kita saat bermain. Bermainlah dengan serius, dan kalau ada yang bilang, “Hei, masa kecil kamu kurang bahagia ya?” jawab saja dengan enteng sambil nyengir dan biarkan yang bertanya itu langsung jadi Gubraaak: “Memang…”

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Eka Wardhana
Telah menulis 300 judul buku dan remaja. Telah berkeluarga dengan 1 istri, 2 putri dan 2 putra. Sekarang tengah membangun bisnis berbasis penerbitan buku (PT Rumah Pensil Publisher) yang visinya adalah: "membangkitkan semangat keluarga-keluarga muslim untuk berprestasi di dunia dan akhirat". Dakwah lewat penulisan buku muslim untuk anak-anak, remaja dan parenting adalah jalan yang dipilih untuk mengaktualisasi potensi intelektual yang diberikan Allah secara maksimal. Hobi: Membaca buku, bermain dengan mainan dan naik sepeda motor. Motto hidup: Live is wonderfull.

Lihat Juga

Ilustrasi. (wikimedia.org)

Hari Terakhir Bersama Ayah

Organization