14:03 - Rabu, 03 September 2014
Amin Yusuf, SPd.

Thibbun Nabawi, Pertama dan Utama

Rubrik: Kesehatan | Oleh: Amin Yusuf, SPd. - 11/02/13 | 20:30 | 29 Rabbi al-Awwal 1434 H

Ilustrasi. (inet)

Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com - Sungguh, sebuah keniscayaan bahwa perkembangan dunia medis berjalan seiring dengan derasnya arus kapitalisme global dan modernisasi yang kian sulit dikendalikan, Namun perkembangan jenis penyakit juga tidak kalah cepat berkembang dan beregenerasi. Sementara itu banyak manusia yang tidak menyadari bahwa Sang Khaliq tidak pernah menciptakan manusia dengan ditinggalkan begitu saja tanpa ada aturan dari-Nya. Setiap kali penyakit muncul, pasti Allah SWT juga menciptakan obatnya, sebagaimana Sabda Rasulullah SAW: “Tidaklah Allah SWT menurunkan suatu penyakit, melainkan Dia turunkan penyembuhnya.(HR. Al-Bukhari dan Ibnu Majah).

Faktanya, memang ada manusia yang mengetahuinya dan ada yang tidak mengetahuinya. Kenyataan lain yang harus disadari oleh manusia, bahwa apabila Allah SWT dan Rasul-Nya secara jelas dan tegas menetapkan suatu penjelasan -termasuk dalam memberikan petunjuk pengobatan- maka petunjuk pengobatan itu sudah pasti lebih bersifat pertama dan utama. Dan memang demikianlah kenyataannya, Islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW secara Kaffah, bukan saja memberi petunjuk tentang perikehidupan dan tata cara ibadah kepada Allah SWT secara khusus yang akan membawa keselamatan dunia dan akhirat, tetapi juga memberikan banyak petunjuk praktis dan formula umum yang dapat digunakan untuk menjaga keselamatan lahir dan batin, termasuk yang berkaitan dengan terapi, penanganan penyakit atau pengobatan secara holistik.

Petunjuk praktis dan kaidah medis tersebut telah sangat banyak dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan diajarkan kepada para sahabat Nabi SAW. Bila keseluruhan formula dan kaidah praktis itu dipelajari secara saksama, tidak salah lagi! Bahwa kaum Muslimin dapat mengembangkannya menjadi sebuah sistem dan metode (thariqah) pengobatan yang tidak ada duanya. Di situlah akan terlihat korelasi yang erat antara sistem pengobatan Ilahi dengan sistem pengobatan manusia. Karena Allah SWT telah menegaskan: “Telah diciptakan bagi kalian semua segala apa yang ada di muka bumi ini” (QS. Al Baqarah [2]: 29). Ilmu pengobatan beserta segala media dan materinya, termasuk yang diciptakan oleh Allah SWT tidak hanya untuk kaum muslimin saja, tetapi juga untuk kepentingan seluruh umat manusia.

Ingatlah! Islam adalah agama dan Ideologi yang sempurna, yang dibawa Rasulullah SAW bukan hanya kepada orang sehat tapi juga kepada orang yang sakit, maka cara pelaksanaannya juga disediakan. Untuk itu, sudah seharusnya kaum Muslimin menghidupkan kembali kepercayaan terhadap berbagai jenis obat (Madu, Habatussauda, Zaitun, dsb.) dan metode pengobatan (Al-Quran, Bekam, Ruqyah, dll.) yang telah diajarkan Rasulullah SAW sebagai metode terbaik untuk mengatasi berbagai macam penyakit. Namun tentu semua jenis pengobatan dan obat-obatan tersebut hanya terasa khasiatnya bila disertai dengan sugesti dan keyakinan. Karena -demikian dinyatakan Ibnul Qayyim- bahwa “keyakinan adalah doa”. Bila pengobatan manusia mengenal istilah placebo (semacam penanaman sugesti lalu memberikan obat netral yang sebenarnya bukan obat dari penyakit yang dideritanya), maka Islam mengenal istilah Doa dan keyakinan. Dengan pengobatan yang tepat, dosis yang sesuai disertai doa dan keyakinan (Spiritual Healing), tidak ada penyakit yang tidak bisa diobati, kecuali penyakit yang membawa pada kematian. Jabir RA membawakan hadits dari Rasulullah SAW: “Setiap penyakit ada obatnya, Maka bila obat itu mengenai penyakit akan sembuh dengan izin Allah SWT.” (HR. Muslim)

Al-Quran dan As-Sunnah yang shahih sarat dengan beragam penyembuhan dan obat yang bermanfaat dengan izin Allah SWT. Sehingga seharusnya kita tidak terlebih dahulu berpaling dan meninggalkannya untuk beralih kepada pengobatan kimiawi yang ada di masa sekarang. Karena itulah Ulama Salafus Shalih, sekaligus Ahli Kedokteran & Pengobatan Islam, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata: “Sungguh Mereka (para tabib) telah sepakat bahwa ketika memungkinkan pengobatan dengan bahan makanan maka jangan beralih kepada obat-obatan kimiawi. Ketika memungkinkan mengkonsumsi obat yang sederhana, maka jangan beralih memakai obat yang kompleks. Mereka mengatakan bahwa setiap penyakit yang bisa ditolak dengan makanan-makanan tertentu dan pencegahan, janganlah mencoba menolaknya dengan obat-obatan kimiawi.” Ibnul Qayyim juga berkata: “Berpalingnya manusia dari cara pengobatan Nubuwwah seperti halnya berpalingnya mereka dari pengobatan dengan Al-Quran, yang merupakan obat bermanfaat.”

Maka, tidak sepantasnya seorang muslim menjadikan pengobatan Nabawiyyah sekadar sebagai pengobatan “tradisional” maupun alternatif lain. Justru sepantasnya dia menjadikannya sebagai cara pengobatan yang UTAMA, karena kepastiannya datang dari Allah SWT lewat lisan Rasulullah SAW. Sementara pengobatan dengan obat-obatan kimiawi (pengobatan cara barat), boleh saja manusia menggunakannya sebagai pelengkap dan pendukung pengobatan, namun kepastiannya tidak seperti kepastian yang didapatkan dengan Thibbun Nabawi, Pengobatan yang diajarkan Nabi SAW diyakini kesembuhannya karena bersumber dari wahyu. Sementara pengobatan dari selain Nabi Muhammad SAW kebanyakan hanyalah berangkat dari dugaan atau dengan pengalaman/ uji coba semata. Ibnul Qayyim kembali berpesan: “Pengobatan Ala Nabi tidak seperti layaknya pengobatan para ahli medis”.

Dengan demikian, Pengobatan Ala Nabi dapat diyakini dan bersifat pasti (qath’i), bernuansa ilahiah, Alamiah, berasal dari wahyu dan misykat Nubuwwah, Ilmiah serta berasal dari kesempurnaan akal melalui proses berfikir (aqliyah). Namun tentunya, berkaitan dengan kesembuhan suatu penyakit, seorang hamba tidak boleh bersandar semata dengan pengobatan tertentu, dan tidak boleh meyakini bahwa obatlah yang menyembuhkan sakitnya. Seharusnya ia bersandar dan bergantung kepada Al Khaliq, Dzat yang memberikan penyakit dan menurunkan obatnya sekaligus, yakni Allah SWT Rabbul Izzati. Seorang hamba hendaknya selalu bersandar pada hukum dan aturan-Nya dalam segala keadaannya. Hendaknya seseorang yang sakit selalu berdoa memohon kepada-Nya agar menghilangkan segala kemudharatan dan mengambil hikmah dari berbagai penyakit yang telah menimpa dirinya. Wallahu a’lam bish-showaab. 

Amin Yusuf, SPd.

Tentang Amin Yusuf, SPd.

Terlahir di Tanjung Redeb pada tanggal 27 Februari 1986. Pendidikan formal Strata 1 dilalui di Fakultas Pendidikan dan Ilmu Keguruan Jurusan Bahasa dan Seni, Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia,… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Topik:

Keyword: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (4 orang menilai, rata-rata: 7,25 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • http://www.facebook.com/people/Jamal-Ahmad/564938119 Jamal Ahmad

    Kenapa bukti ilmiah (evidence based) penting?

    1. Karena sikap ilmiah dalam ilmu pengetahuan adalah warisan Islam. Ilmuwan dan ulama Islam telah berperan penting dalam menemukan dasar ilmiah dalam mengembangkan ilmu kedokteran, di saat pengobatan barat di masa itu masih tidak rasional dan berdasar takhayul. Misalnya metode perumusan hipotesa dalam penelitian ilmiah diajukan oleh Ibnu Sina, dan masih digunakan sampai sekarang.

    2. Karena bersikap ilmiah adalah bagian dari ikhtiar. Allah SWT. yang menyembuhkan, dan manusia dituntut berikhtiar dengan mengupayakan terbaik. Ketika kita berhadapan dengan pilihan-pilihan terapi, maka kita perlu menentukan terapi mana yang paling efektif dan paling aman.
    Ketika sebuah terapi diklaim mampu menyembuhkan, maka sejauh mana kesembuhannya? Berapa yang sembuh dan berapa yang tidak sembuh? Jika dibandingkan dengan terapi yang lain, mana yang lebih baik kesembuhannya? Bagaimana dengan keamanan dan efek sampingnya? Pertanyaan-pertanyaan itu yang dicoba dijawab dengan penelitian-penelitian ilmiah sebagai bagian dari ikhtiar.

    3. Bagaimana mungkin kita tidak tergerak mengisolasi zat aktif dari berbagai obat herbal yang ada ? Al Qur’an jelas menganjurkan penggunaan madu dalam pengobatan. Tapi apakah ada ayat dan hadits yang menyatakan zat aktif apa saja yang bermanfaat dalam madu? Dosis, indikasi, kontraindikasi, efek sampingnya?

    Misalnya teman sejawat di bagian bedah plastik mulai menggunakan madu untuk perawatan luka, tapi juga menyisakan banyak pertanyaan, misalnya bagaimana pengaruh variasi genetiknya? Ada penelitiannya, tapi menggunakan madu New Zealand (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1297205/). Sedangkan ada ribuan variasinya, mulai dari variasi lebahnya, variasi bunga yg dihisap lebah, bahkan variasi musim (kabarnya madu dari bunga musim panas berbeda dengan bunga musim semi).

    Bagaimana mungkin umat Islam tidak merasa terusik ketika yang menindaklanjuti hadits Nabi tentang habbatussauda adalah non-muslim, yang melakukan penelitian ilmiah, uji klinis, sampai saat ini memproduksi habbatusauda dalam bentuk sediaan yang diresepkan.

    Penelitian di barat sudah mampu meng-ekstrak thymoquinone dari habbatussauda, mengujinya dalam pengobatan kanker, dan lain-lain.

Iklan negatif? Laporkan!
80 queries in 1,636 seconds.