02:59 - Minggu, 21 September 2014
Zahid Rabbani

Adab BerKeadilan Menyikapi Ujian

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: Zahid Rabbani - 11/02/13 | 19:30 | 29 Rabbi al-Awwal 1434 H

Ilustrasi. (inet)

Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Yang kita tahu, kebatilan tak akan pernah puas dan berhenti menerjang kebenaran.  Ia (kebatilan) tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan dan menyukai apa yang menyusahkan pada kebenaran (Q.S. Ali-Imran: 118). Bak badai yang terus melanda hingga akhirnya bahtera dapat merapat ke tepian kemenangan. Demikianlah, semua sudah merupakan sunnatullah dalam dakwah. Sudah ketetapan sejak zaman kerasulan.

“Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tak ada seorang pun yang dapat mengubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu”. (Q.S. Al-An’am: 34)

Maka para pejuang keadilan, cobalah untuk membiasakan diri dalam menghadapi ujian. Jangan gegabah ketika ujian melanda. Ketika ada fitnah yang hinggap dalam dakwah ini jangan habiskan energi untuk aksi yang tidak perlu. Cukupkan dengan doa, sabar dan introspeksi diri.  Jika ingin membela diri, terlebih dahulu coba ikhlaskan niat di dalam hati agar benar-benar dalam rangka membela yang haq dan untuk membongkar kebusukan kebatilan. Bukan dengan spirit ashabiyah yang hanya akan mencelakakan. Dan yang paling penting mohonlah petunjuk kepada Allah untuk tetap bersikap adil. Jangan sampai kecintaan kita terhadap kendaraan dakwah ini membuat kita ta’ashub dan taklid buta. Yang kita bela adalah dakwah, dan dakwah yang akan kita menangkan! Bukan individu, partai, atau golongan.

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Maidah: 8)

Apabila niat sudah diluruskan, maka lontarkanlah argumentasi-argumentasi yang kuat, beralasan, dan tajam agar musuh-musuh bungkam. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar” (Q.S. An-Naml: 64). “Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata?” (Q.S. Ash-Shaffaat: 156). Hingga nampak jelas perbedaan antara kejujuran dan kedustaan. Namun bila hati diselimuti nafsu dan emosi, maka tahanlah diri. Karena yang akan muncul hanyalah pembelaan buta dengan mewarisi adab jahiliyah dalam berkomunikasi. Ketahuilah, apa-apa yang kita persaksikan akan ditanyai.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. (Q.S. Al-Isra: 36)

Memang tidak ada manusia yang luput dari dosa. Tapi bukan berarti kita mempunyai alasan untuk berprasangka. Sungguh, yang beriman akan senantiasa menjauhi kebanyakan dari prasangka. Karena sebagian prasangka itu adalah dosa. Sungguh, yang beriman tidak suka mencari-cari kesalahan orang lain dan menggunjing sebagian yang lain (QS. Al-Hujurat: 12). Maka peliharalah khusnuzan sebagai realisasi kecintaan kita kepada saudara seiman. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah berbantah-bantahan, yang menyebabkan menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Q.S. Al-Anfaal: 46)

Semoga ujian ini tidak menyurutkan semangat dan melemahkan dakwah kita. Mari terus bekerja wahai para pejuang keadilan! Jangan biarkan diri dikungkung keraguan. Istiqamahlah dalam menapaki kebenaran. Jangan biarkan iman menciut dan ketakutan membesar. Ini hanyalah satu di antara banyaknya ujian yang menunggu untuk diselesaikan. Tanpa ujian bagaimana mungkin ada kesempatan untuk berjuang membuktikan keimanan? Maka mohonlah pertolongan kepada Allah dengan shalat dan sabar! Dakwah ini benar!

“Dan katakanlah bahwa telah datang kebenaran dan lenyaplah kebatilan, sungguh kebatilan pasti akan lenyap.”  (Q.S. Al-Isra: 81).

Zahid Rabbani

Tentang Zahid Rabbani

Mahasiswa Universitas Sumatera Utara, Jur. Kehutanan. Saat ini aktif di pengurusan Kaderisasi Fak.Pertanian USU dan menjabat sebagai ketua Dept. Kaderisasi KAMMI Komisariat Nusantara USU. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Topik:

Keyword: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (3 orang menilai, rata-rata: 9,33 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
76 queries in 1,419 seconds.