Lupa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com

Sehabis kepala dipindahkan ke lutut dan mata berpindah ke kaki, kemudian wangi daun tergilas di lumbung jalanan.
Ada pepatah bilang air beriak tanda tak dalam, entah apapun itu…
tetapi aku lupa jalan pulang, ketika tak satupun kata yang bisa ku rajut menjadi sebuah tanya.

Di ujung sana, kau terus saja memandang.
Berharap aku yang waras menjadi gila dan ketika aku gila menjadi waras.
Memasang muka manis padahal terasa pahit, katanya: yang pahit tak selalu pahit.

Bila ketika tak kenal bahasa ibu, bukan dikatakan anak.
Lalu mereka pergi pada tempat mereka menyusu.
Tertawa menangis, kemudian hilang tak tahu siapa aku.

Lupa….
ya aku lupa
tentang denyut-denyut kebisingan pembawa bahagia
tentang pohon-pohon tumbang yang menjadi penghalang
tentang air hujan yang terasa asam
tentang musim yang membuat tubuh menggigil

aku pulang Tuhan…
untuk sekadar mengingat.

Tangerang, 13 Januari 2013

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...Loading...
Menyukai fiksi dan non-fiksi.

Lihat Juga

Sedekah air PPPA Darul Quran cabang Yogyakarta. (IST)

Warga Gunungkidul Bersyukur Dapat Kiriman Air dari PPPA Daqu Jogja