Home / Berita / Nasional / Kemendiknas, Kecolongan Kok Berkali-kali

Kemendiknas, Kecolongan Kok Berkali-kali

Anggota DPR-RI, dari Fraksi PKS, Ledia Hanifa (inet)
Anggota DPR-RI, dari Fraksi PKS, Ledia Hanifa (inet)

dakwatuna.com Jakarta (31/1) Dunia pendidikan kembali dihentak dengan ditemukannya buku tak pantas yang beredar di sekolah. Buku Ngeunah Keneh Inem yang isinya merupakan cerita dewasa diketahui beredar di beberapa sekolah SMP dan SMA di Bandung.

Tahun lalu orangtua murid di Jakarta dikejutkan materi ajar berupa cerita Bang Maman dari Kali Pasir, yang bertutur soal isteri simpanan, yang terselip dalam buku pegangan mulok PLBJ. Kemudian di Mojokerto ditemukan foto Miyabi dengan pakaian minim tercetak dalam lembar kerja siswa (LKS) mata pelajaran Bahasa Inggris. Sementara di Kudus, pada LKS mulok Bahasa Jawa termuat kisah Resepe si Mbah yang mencantumkan nyimeng (mengkonsumsi ganja), ngombe rong gendul (minum minuman keras dua botol), dan merokok sebagai saran bagi tokoh cerita.

Anggota Komisi VIII DPR RI, Ledia Hanifa Amaliah, menyayangkan terulangnya kejadian ini. “Kalau kecolongan kok sampai berkali-kali,” katanya jengkel.

Masuknya buku ke lingkungan sekolah, kata Ledia, pastilah melalui saringan berlapis. Ada saringan dari penerbit, dari diknas, juga dari sekolah, baik itu meliputi kepala sekolah, guru maupun bagian kepustakaan. Maka, masuknya buku atau bahan ajar yang tak pantas dibaca apalagi diajarkan ke sekolah menunjukkan adanya kelemahan dalam sistem pemilahan, pengawasan dan evaluasi bahan ajar.

“Pada berberapa temuan, proses pemilahan, pengawasan dan evaluasi bahan ajar pada prakteknya hanya sampai di tahap formalitas seperti mengisi formulir dan berkas-berkas. Tidak sungguh-sungguh dilakukan atau kadang diserahkan bukan pada ahlinya. Misalnya saja, menilai bahan ajar semestinya bukan hanya melibatkan ahli tema pelajaran tertentu tetapi juga harus dikonsultasikan pada ahli bahasa dan ahli psikologi anak, apakah semua materi sudah benar, tepat dan layak disajikan pada anak didik yang dituju. ” Kata wakil pimpinan fraksi PKS ini pula

Untuk mencegah terjadinya kasus serupa, aleg PKS dari dapil Bandung Cimahi ini mengingatkan dinas pendidikan, guru dan penerbit bahwa tanggung jawab pendidikan anak itu termasuk dengan menyediakan bahan ajar yang bermutu, yang mampu membantu anak didik menjadi cerdas, kreatif dan tentu saja bermoral dan berakhlak.

“khusus dinas pendidikan harus lebih selektif dalam memilah buku sebagai rujukan bahan ajar. Jangan hanya mempertimbangkan faktor biaya yang lebih hemat misalnya lalu memilih penulis atau penerbit sembarangan. Mendidik generasi itu amanah besar. Maka faktor kecakapan menulis, kesesuaian tema ajar dan kelayakan serta ketepatan penyajian pada peserta didik yang dituju harus menjadi dasar pertimbangan.” Tegas Ledia.

About these ads

Redaktur: Samin Barkah, Lc., ME

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • Bagaimana mau mencerdaskan anak bangsa isi kurikulumnya aja berkali2 kecolongan materi yang ga jelas .bikin team khusus dong.ngapain aja nih kerja menteri pendidikan..

Lihat Juga

silaturahimprabowokemd

Aksi 4 November Murni dari Masyarakat