09:58 - Jumat, 28 November 2014

Gelombang Keadilan Vs Gelombang Fitnah…

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: Dwipa Aprianur - 31/01/13 | 09:11 | 18 Rabbi al-Awwal 1434 H

Dan melangkah kaki dengan pasti
Menerobos segala onak duri
Generasi baru yang telah dinanti
Tak takut dicaci tak gentar mati

Bagai gelombang terus menerjang
Tuk tumbangkan segala kezhaliman
Dengan tulus ikhlas untuk keadilan
Hingga pertiwi gapai sejahtera

Takkan surut walau selangkah
Takkan henti walau sejenak
Cita kami hidup mulia
Atau syahid mendapat surga

(Gelombang Keadilan, Shoutul Harokah)

Ilustrasi (inet)

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Alhamdulillah, syukur kepada Allah SWT telah menurunkan sang qudwah Rasulullah SAW ke bumi sebagai rahmatan lil ‘alamin sekaligus teladan dalam kehidupan. Tanpa terkecuali bagi para penggiat aktivitas perbaikan (baca: dakwah). Dakwah tanpa tantangan ibarat sayur tanpa bumbu, tidak sedap rasanya. Tidak akan habis di bahas dalam tulisan ini jikalau kita ingin menguraikan catatan-catatan rintangan dakwah yang telah dilalui oleh para pendahulu kita. Akan tetapi kita semua pasti akan sampai pada satu kesimpulan yang sama bahwa : dakwah bukan jalan yang penuh dengan mawar melati, melainkan onak dan duri.

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan”. (QS. Al-An’am : 112).

Dalam ayat ini Allah SWT telah menjelaskan bahwa Dia telah menakdirkan adanya syaitan-syaitan dari jenis jin dan manusia yang menentang, memusuhi, dan melawan para nabi. Mereka bersatu padu untuk menghalangi manusia dari hidayah Allah. Mereka mencoba memadamkan cahaya agama Allah; membuat makar, tipu daya, fitnah, dan berbagai gangguan lainnya.

Dalam ayat lain Allah berfirman: “…Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi…” (QS. Ali Imran : 118). Ayyuhal ikhwah, karena dakwah kalian merupakan kekuatan besar melawan kezhaliman, maka wajar kalau mereka mengerahkan segala senjata dan kemampuan untuk menghadapi dakwah kalian, bahkan tidak ada satu cara pun kecuali mereka manfaatkan untuk memerangi dan memberangus dakwah kalian.

Sebagai seorang kader dakwah, pejuang proyek perbaikan sejatinya kita selalu ingat salah satu dari banyak firman Allah SWT. “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (QS Muhammad: 7). Dengan ini kita semakin yakin dan kuat (istiqamah) di jalan ini hingga pada akhirnya kebenaran itulah yang akan muncul sebagai pemenang. Inilah sikap seorang mujahid dakwah yang menyebabkan dakwah tetap eksis. Dan pohon dakwah itu walaupun setiap hari menggugurkan dedaunannya namun tak pernah dan tak akan pernah lelah untuk tetap terus menumbuhkan pucuk-pucuk baru yang lebih segar dan siap mengganti daun yang gugur jauh lebih baik.

Kemudian atas segala bentuk ancaman dan gangguan berupa fitnah dan cacian serta makian, sikapilah dengan semakin banyak berdoa, semakin rajin beribadah, tambah semangat berjuang dan bekerja dengan bersabar dan semangat berkobar. Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar di antaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti(QS. Al-Anfaal : 65). Kemenangan milik orang yang berdoa, berjuang dan berusaha.

Pada akhirnya gelombang perbaikan itu pun menyentuh dengan lembut umat ini untuk meneguk segarnya mata air Islam. Di tengah rasa haus yang panjang menanti datangnya pelepas dahaga yang berkepanjangan. Nampak jelas dari wajah umat cahaya kesegaran berupa syukur. Rasa syukur yang membuncah melahirkan keimanan dan ketakwaan yang mendalam. “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…. (QS. Al- A’raaf : 96). Pentas pertarungan di menangkan oleh gelombang perbaikan dalam banyak wujudnya berupa keadilan, kasih sayang, persaudaraan, kesejahteraan, ketenteraman menuju sebuah negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.

Wahai para aktivis dakwah, bersemangatlah dalam melangkah. Pantang surut ke belakang. Takkan surut walau selangkah, takkan henti walau sejenak. Jika Allah adalah tujuan kita, Allahu Ghayatuna, maka Dia akan membimbing kita untuk dapat menatap wajahNya di surga nanti. Insya Allah. Cita kami hidup mulia atau syahid mendapat surga. Wallahu’alam bi showwab.

Tentang Dwipa Aprianur

Universitas Mulawarman, Samarinda, Kalimantan Timur. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Keyword: , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (9 orang menilai, rata-rata: 9,00 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
58 queries in 1,829 seconds.