Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Kader Kue Bolu

Kader Kue Bolu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

(sri)
(sri)

dakwatuna.com – Siapa dari kita yang tak tau kue bolu? Cake bahasa keren nya. Pangan ini hamper eksis di tiap kesempatan. Entah itu perayaan suka cita ataupun duka cita. Didukung bahan dan cara buat yang sederhana yang bisa disesuaikan dengan budget si pembuatnya, maka hadirlah ia di berbagai suasana. Seperti hari ini, kue bolu juga bagian dari snack panitia maulid di sekolah. Singkatnya, ada kue bolu di tiap kesempatan dan keramaian dan tak kenal kalangan.

Rasanya…mmm…saya pribadi tak begitu suka .malah rada eneg apalagi kalau tercium benar aroma margarine nya…beuhhh eneg. Tapi bagi yang suka, enak pasti. Dan lagi, sepertinya kue bolu itu jenis kue yang wajib bagi para emak dan remaja putri. Pernah, bunda bilang, “masa masak kue bolu aja ga bisa buat. Malu lah…”

Lalu terpintas di pikiran saya, jika kue bolu yang sederhana itu mampu hadir di tiap suasana dan lingkungan serta kalangan, lantas kenapa mereka yang mengaku du’at malah cenderung pilih-pilih lingkungan kerja ya?

Bukankah Dakwah tak terikat pada waktu, ruang, dan tempat. Kapan pun, di manapun, dan dalam keadaan apapun kondisi kita, tugas dakwah selalu akan menyertai. Maka, waktu 24 jam yang tersisa untuk aktivitas harian harus kita gunakan untuk dakwah, apapun bentuknya.

Lalu kita pun mengenal dan akrab dengan “Nahnu Du’at Qabla Kulli Syai’in” (Kita adalah penyeru sebelum menjadi apapun). Maka ia pun menuntut Semangat dakwah harus tetap dikobarkan setiap saat, karena dakwah tidak mengenal kata “berhenti”. Seluruh lini dakwah: siyasi, ilmi, dan da’awi, harus tetap berjalan dalam keadaan apapun. Dakwah yang begitu berat –dengan kader yang sedikit atau resistensi yang kuat—harus dihadapi dengan keteguhan dan determinasi aktivisnya.

“Ana rasa surga itu lebih dekat ketika berada di lingkaran teman kampus atau kota ketimbang di daerah.” Masih ada kan terdengar argument serupa.

Masa iya sich kalah sama kue bolu…

Kue bolu itu tak milih harus di tempat orang yang suka kue bolu baru disajikan. Seperti halnya tadi. Saya malah tak begitu tertarik dengan kue bolu di snack jatah saya karena lagi kurang enak badan hingga bawaan eneg margarine terasa begitu menyesakkan. Tapi tetap saja itu kue bolu adalah jatah saya kan. Entah itu nantinya akan saya makan habis atau saya berikan ke orang, tetap saja saya punya tanggung jawab terhadap kue bolu tersebut. Apa tidak sejatinya seperti itu pula lah harusnya para duat ya??

Bukankah sudah sepatutnya du’at siap di tempatkan di mana saja. Di lingkungan yang kondusif atau malah lingkungan yang tak mendukung sekalipun. Tetap da’i dalam kondisi dan ranah macam apa pun. Siap bertahan dengan warna nya walau mungkin hingga akhir belum juga mampu mewarnai. Seperti kue bolu yang tak iri dengan risole yang lebih saya pilih, nyammm… :D

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Penulis adalah Guru kelahiran Curup - Bengkulu, 21 Februari 1988. Saat ini penulis tercatat sebagai guru tetap di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Padang Ulak Tanding- Bengkulu. Penulis mengampuh mata diklat bahasa Inggris.

Lihat Juga

anak-di-rusia-bicara-7-bahasa

(Video) Luar Biasa, Anak Kecil Ini Mampu Bicara Dengan 7 Bahasa