Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Debu Pada Kaca

Debu Pada Kaca

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Hati. Kedalamannya tiada sangka mengetahui. Tidak juga riuh orang menerka, atau bahkan kau sendiri. Kecuali, Dia, Rabb pembolak balik hati.

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (Q.S Al-Anfal: 24)

Siapa yang tak tahu hati? Adakah yang telah berjumpa dengannya? Hati ampela ayam, hati sapi, hati kerbau, hati kambing, sungguh enaklah dimakan. Hehe..! Apalagi bila di masak menjadi sate, rendang, tongseng, oseng-oseng, hingga rica-rica, kemudian memakannya bersama nasi panas yang disajikan dengan bakul, dialaskan daun pisang, ditemani teh hangat pula lantunan suling di pinggir saung. Amboy rasanya…!

Tetapi kali ini kita bukan membahas perihal makanan nusantara yang amboy rasanya. Bukan pula membahas resep maupun cara memasaknya. Bukan itu. Ini tak ada kaitannya. Sebab, saat ini bukanlah tema yang tepat membahas masalah masak-memasak di sini, biarlah di lain waktu kita membahasnya bersama. Insya Allah…

Kali ini kita akan membahas mengenai hati manusia. Segumpal daging yang mampu menggerakkan segala.

“Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ini terdapat segumpal darah. Apabila segumpal darah itu baik, maka baik pula seluruh anggota tubuhnya. Dan apabila segumpal darah itu buruk, maka buruk pula seluruh anggota tubuhnya. Segumpal darah yang aku maksudkan adalah hati.” (Hadits Riwayat Al-Bukhari)

Hati adalah pusat pengontrol atau pusat kendali diri. Seperti yang di nukil dari Hadits Riwayat Al-Bukhari, di atas. Jika hati seorang insan itu baik, maka baik pula perangainya, tutur katanya, tingkah lakunya, terpancar cahaya di wajahnya, dan segala yang ia kerjakan bernilai positif.

Siapa yang tak suka dengan insan berwajah manis? Begitulah fitrah manusia. Seringkali kita akan dibuat menjadi terkagum-kagum bila memandang wajah seorang insan yang tampak manis, teduh, dan menyenangkan. Padahal itu baru bersifat fisik, yang mudah pendar dimakan masa.

Apalagi bila semua itu terpancarkan dengan alami? Tentu kita akan lebih dibuat kagum padanya. Dia tak cantik, tak tampan, tak putih, tak tinggi, tak langsing, tak gagah, hitam, gemuk, tak ideal. Ah, pokoknya dia biasa-biasa saja dan tak bisa dimasukkan ke dalam kategori mengagumkan. Tetapi, anehnya kita sering dibuat kagum padanya. Itulah pancaran hati.

Pancaran hati yang terwarna oleh iman akan terpancar cahayanya pada wajah dan perilaku. Pernah mendapati berkunjung ke suatu tempat, kemudian engkau dapati orang yang menyambutmu memasang wajah muram durja? Bagaimana rasa yang menyergapmu kala itu? Gondok, kesal, keki, dengki, macam-macam. Andaikan rasa yang mencokol dalam dada bisa di bentuk lain rupa, mungkin rasanya akan seperti permen asam manis, atau bisa juga berubah menjadi permen yang mampu berbunyi ‘bletak! Bletak!’ di dalam mulut.

Pernah juga mendapati, sedang berpapasan satu sama lain, ketika kita memberi senyum, hanya wajah acuh bahkan ‘mlengos’ yang didapati? Bagaimana rasanya? Mungkin bagaikan teko air mendidih yang bunyi ‘ngiiiiing’.

Ya! Siapa yang suka dengan wajah yang nampak masam. Bahkan pada buah-buahan sekalipun, kita enggan memakan bahkan melirik buah-buahan yang masam. Apalagi jika masam itu bertandang ke dalam wajah.

Walaupun begitu jangan simpan terlalu lama permen kedongkolan hati itu, tetapi segera minumkanlah dengan air putih dan biarkan ia melumer berpadu menjadi rasa menyegarkan dalam mulut, atau bahkan terasa manis yang ada.

Sedang patah hati mungkin, gaji kurang bisa jadi, atau memang ia memiliki wajah yang datar sejak lahir. Sehingga bukan maksud dari mereka untuk menampakkan wajah yang bermuram durja. Semua itu bisa terjadi. Selalu mencari cara untuk menimbulkan suasana positif. Sepakat?

Begitulah perkara hati. Kondisinya bisa mempengaruhi segala. Tidak hanya pada diri sendiri namun juga berimbas pada orang lain. Oleh karena itu mengapa hati sering disebut sebagai pengontrol diri atau pusat kendali.

 

 

Belajar Pada Teko

Saya sering terkesima dengan teko. Bahwasanya teko tak pernah ingkar. Tak seperti kita yang berusaha menutup-nutupi kesalahan ketika tersadar. Lihatlah teko, ia akan mengeluarkan jenis air  ke dalam cawan sesuai dengan air yang dimasukkan ke dalam teko. Tak pernah kulihat ada teko mengeluarkan air teh ke dalam cawan, padahal pada mulanya air putih yang dimasukkan. Tak pernah kulihat pula ada teko asyik mahsyuk mengeluarkan air kopi ke dalam cawan, padahal mulanya air teh yang dimasukkan ke dalam teko. Ya! Teko tak akan pernah berbohong. Ia akan mengeluarkan sesuatu sesuai apa yang ada di dalam dirinya.

Biarkan Alarm Itu Berbunyi

Begitu pula dengan hati. Kerja hati tak lepas dengan fitrah manusia. Fitrah manusia sebagai seorang hamba Rabb semesta alam. Ia selalu memiliki alarm-alarm pengingat bahaya.

Aisyah RA, berkata, “Nabi SAW sering berdoa dengan mengatakan, ‘Wahai Tuhan yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku untuk selalu taat kepada-Mu.’ Aku pernah bertanya, ‘Ya Rasulullah, kenapa Anda sering berdoa dengan menggunakan doa seperti itu? Apakah Anda sedang merasa ketakutan?’ Beliau menjawab, ‘Tidak ada yang membuatku merasa aman, hai Aisyah. Hati seluruh hamba ini berada di antara dua jari Allah Yang Maha Memaksa. Jika mau membalikkan hati seorang hamba-Nya, Allah tinggal membalikkannya begitu saja.’” (Hadits riwayat Ahmad dan Ibnu Abu Syaibah)

Namun alarm-alarm tersebut bisa jadi tak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Kemungkinan-kemungkinan itu bisa saja terjadi. Banyak juga alat deteksi bencana malah tak dapat berfungsi ketika bencana datang. Penyebabnya adalah rusaknya sang alat. Sehingga walau ada bencana sebesar apapun, alarm pertanda bahaya tak akan mengeluarkan bunyinya, bahkan tampak tenang seperti tak terjadi apa-apa. Dan parahnya kita baru sadar setelah bencana itu ada di depan mata.

Begitu pula dengan hati. Pada fitrahnya sebagai seorang hamba, adakalanya kita sering merasa bersalah luar biasa ketika melanggar perintah-Nya, atau melakukan sebuah kesalahan. Ya! Sebuah kesalahan. Itupun bukan kesalahan yang fatal. Namun, perasaan bersalah itu tak dapat kita hindari. Datang tiba-tiba dan secara alami.

Bersyukurlah, sebab rasa bersalah yang datang tiba-tiba dan secara alami itu adalah alarm hati yang masih berfungsi. Beda hal ketika alarm itu sudah tak berfungsi dengan baik. Kita jadi mudah memaklumkan setiap kesalahan yang kita perbuat. Misalkan saja ada seorang fulanah, ia sungguh sibuk luar biasa, karirnya cemerlang, oleh sebab itu ia diangkat menjadi seorang manager di sebuah perusahaan bonafit. Perihal gaji? Jangan ditanya! Besarnya lebih-lebih dari penghasilan sebagai seorang penulis dan pengajar seperti saya.

Memiliki kendaraan pribadi. Menyupir sendiri. Mantap, bukan? Di ibukota seperti Jakarta yang tak pernah lepas dari predikat macet ini membuatnya selalu pulang tepat waktu sesuai dengan jam kantor. Pulang jam lima sore, tak menunggu Maghrib dulu. Nanti saja shalat Maghrib di rumah, masih bisa. Pikirnya.

Bukan ibukota Jakarta jika jalan raya tak macet bukan kepalang. Waktu terus berjalan, hingga tertelannya waktu Maghrib, sementara sang fulanah masih berada di dalam mobil di antara hiruk pikuk ibukota. Samar, di antara bunyi klakson yang terus mengudara di jalanan, terdengar azan Isya. Gelisah? Tentu! Ada rasa bersalah timbul di hati sang gadis. Namun cepat-cepat ia singkirkan.

Masih ada waktu Isya. Besok tak akan di ulang lagi. Pikirnya menyeruak kembali.

Hingga tibalah sang gadis di rumah. Macet ibukota membuat remuk redam hingga menembus tulang. Lelahnya bukan kepalang. Dan satu-satunya tempat yang ingin ia tuju saat ini adalah kamar mandi untuk membersihkan diri, kemudian tempat tidur yang empuk. Alhasil ia lupa jua melaksanakan shalat Isya.

Hari pertama ia kembali merasa bersalah. Diam-diam dalam hati ia berjanji tak akan mengulanginya lagi. Hari kedua ia mulai mencari pembelaan dalam diri. Hari ketiga dan seterusnya ia memaklumkan segala kesalahan, toh Allah maha tahu dan maha penyayang, belanya kembali, Na’udzubillah min dzalik…

Begitulah jika alarm sudah mati maka bencana sebesar apapun tak akan dapat terdeteksi. Yang ada hanyalah penyesalan demi penyesalan ketika kita tersadar bencana itu sudah ada di depan mata.

Biarkan Kaca Itu Memantulkan Cahaya

Hati dan sesuatu yang baik tak dapat dipisahkan. Begitulah fitrah semestinya. Ia umpama kaca dan cahaya yang saling membutuhkan untuk memantulkan pesona. Ibarat kaca spion, kita membutuhkan kaca spion yang jernih, agar kita dapat melihat jarak di belakang mobil dengan tembus pandang yang baik. Beda hal dengan kaca spion yang kusam atau bahkan tertutup debu, tak bisa berfungsi sama sekali. Bahkan bahaya bisa terjadi.

Juga saat kita ingin bercermin dan bersolek di depan kaca. Kita tak akan bisa bercermin pada cermin yang tertutup debu. Oleh karena itu kita gemar sekali membersihkan kaca atau cermin dari debu-debu yang menempel, agar cahaya dapat masuk ke dalam kaca dan memantul keluar, dan kaca pun bisa berfungsi sebagaimana mestinya.

Sama pula dengan hati, kita di wajibkan untuk merawat dan tidak mengotorinya. Kotornya hati adalah karena maksiat. Dan maksiat mampu membuat noda yang sedikit demi sedikit tapi pasti membuat hati kita tertutup. Bahkan membuat bibit-bibit penyakit hati bersarang dengan bebas. Umpama debu-debu berterbangan yang sedikit-demi sedikit menutup pesona kaca.

Seperti kisah Imam Syafi’i. Siapa yang tak mengakui kepandaian imam Syafi’i dalam menghafalkan al-Qur’an dan hadits? Sungguh berbeda dengan kemampuan hafalan yang kita miliki. Namun demikian, sekaliber Imam Syafi’i pun ia pernah terlupa pada hafalannya. Mengapa? Sebab, pernah suatu ketika ia tanpa sengaja melihat aurat tumit seorang wanita yang berjalan dihadapannya, pakaian wanita itu sedikit terkoyak pada bagian tumitnya.

Imam Syafi’i tanpa sengaja melihat, itupun hanya beberapa detik, dan langsung memalingkan pandangan. Sungguh berbeda dengan kita, bukan? Bisa jadi bila kita di posisi beliau, kita akan memilih memandang berlama-lama. Tetapi tidak dengan Imam Syafi’i.

Lantas apa yang terjadi setelahnya? Imam Syafi’i pun kehilangan hafalannya kala itu. Masya Allah….

Sangat berat imbasnya perbuatan maksiat pada hati, walaupun saat itu Imam Syafi’i melakukannya secara tidak sengaja. Bagaimanapun sebesar dzarah pun selalu ada perhitungannya.

Hati yang tertutupi oleh maksiat, ibarat kaca yang tertutup debu, sehingga setiap ilmu yang bermanfaat atau sesuatu yang bernilai baik tak akan mampu masuk menembus ke dalam hati. Seperti cahaya yang tak akan mampu masuk dan memantul ke dalam kaca yang kotor tertutup debu.

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (Al-Muthofifin: 83)

Hati yang sudah tertutupi dengan noda-noda penyakit, akan membuatnya layu dan mengeras. Sehingga ia acapkali sulit untuk menerima kebenaran dan kebaikan macam apapun.

Maka jagalah hati, jangan kau kotori, jagalah hati, cahaya illahi… (Aa Gym)

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sari Asma Anggar
Penulis berkulit sawo matang ini sudah menyukai dunia tulis menulis sejak masih berusia 8 tahun. Baginya, menulis merupakan suplemen jiwa. Alasan lain yang membuatnya menyukai dunia tulis menulis adalah Dengan tulisan, bisa jadi kita mampu mengubah peradaban

Lihat Juga

Kriteria Manusia Beruntung Menurut Al-Quran