01:29 - Selasa, 29 Juli 2014

Merencanakan Hari Esok adalah Karakteristik Ketaqwaan

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: Zaky Amirullah - 30/01/13 | 09:30 | 17 Rabbi al-Awwal 1434 H

berdoa_webdakwatuna.com - Manusia hidup di dalam dimensi ruang dan waktu. Allah menciptakan kedua dimensi ini tentunya bukan tanpa sebab. Banyak sekali hikmah yang tersirat yang Allah simpan dibalik penciptaan dua makhluk ini. Bila dikaitkan dengan kehidupan manusia, dimensi ruang dan waktu memiliki peranan penting karena hidup manusia dibatasi oleh dua kejadian paling utama, yaitu lahir dan mati.

Alasan mengapa Allah melahirkan seorang manusia ke muka bumi tentu tidak perlu dipertanyakan. Hak Allah untuk menciptakan apa-apa yang Ia kehendaki. Dan manusia tidak memiliki hak untuk mempertanyakan apa yang Allah perbuat. Yang seharusnya menjadi perhatian dari manusia adalah bagaimana agar kesempatan menjadi bagian dari sejarah umat manusia di kehidupan alam dunia ini tidak menjadi sia-sia. Untuk itulah Allah memerintahkan manusia agar manusia mempersiapkan bekal sebaik-baiknya sebelum masuk ke kehidupan abadi di alam akhirat. Bekal yang tidak hanya mengantarkan manusia pada jalan keselamatan di akhirat kelak, namun bekal yang membawa manusia pada derajat taqwa.

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al-Hasyr: 18)

Penggalan Al-Hasyr ini termasuk ayat muhkamat, ayat yang bermakna jelas dan lugas, tidak ada perumpamaan atau kiasan di dalamnya. Artinya di ayat ini Allah benar-benar memerintahkan kepada manusia agar memperhatikan persiapan hari esok sebagai bentuk ikhtiar mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat kelak. Seruan untuk mempersiapkan hari esok ini diawali dan diakhiri oleh kalimat taqwa. Seruan yang diawali oleh seruan taqwa mengindikasikan bahwa seruan tersebut sangat penting untuk diperhatikan. Terlebih lagi, perintah ini telah dikhususkan untuk hamba-Nya yang bertaqwa. Bila dilihat dari sudut pandang lain, dapat disimpulkan bahwa memperhatikan hari esok itu juga merupakan salah satu karakteristik ketaqwaan.

Memperhatikan hari esok berarti melakukan perencanaan-perencanaan hidup agar hidup terarah dan tidak hanya sekadar mengikuti flow saja. Perencanaan yang dimaksud tidak hanya perencanaan yang bersifat ukhrawi saja, namun perencanaan yang bersifat duniawi juga perlu dirancang. Muslim yang baik adalah muslim yang melakukan perencanaan dalam berbagai hal, bahkan untuk ibadah yang bersifat mahdah seperti shalat. Di sini lah letak nilai tambah dari seorang Muslim dibandingkan dengan manusia pada umumnya. Teknis perencanaan yang dirancang tidak masalah bagaimanapun bentuknya. Yang terpenting adalah persiapan yang dilakukan adalah persiapan menghadapi hari esok yang terbaik yang pernah dirancang. Satu hal yang harus diyakini adalah siapa yang mempersiapkan yang terbaik, ia akan mendapatkan yang terbaik. Biidznillah.

Rencana yang dirancang sedapat mungkin tidak berakhir dalam sebuah ketidakjelasan. Setiap rencana harus jelas definisi dan rincian detailnya. Kelemahan yang masih lazim dimiliki oleh umat Islam adalah tidak dapat mengelaborasikan rencana dengan detail. Walau pada akhirnya hasil akhir bergantung pada kehendak Allah, tapi karena ranah usaha merupakan ranah manusia, maka sudah selayaknya manusia menuliskan setiap rencananya secara detail hingga waktu tercapainya rencana tersebut.

Beramal seolah hidup selamanya, beribadah seolah mati esok hari - Pepatah

Untaian kalimat di atas sudah tidak asing lagi terdengar. Makna dari kalimat tersebut bila dijadikan ruh dari pembuatan perencanaan untuk esok hari akan menyuntikkan semangat yang luar biasa besarnya. Ketika makna dari kalimat tersebut telah terinternalisasi, maka setiap rencana yang dirancang akan penuh dengan semangat kontribusi dan penorehan prestasi serta semangat berkompetisi menjadi yang terbaik di setiap harinya. Selain itu, ia akan menyisipkan poin-poin beribadah di setiap rencananya karena ia merasa bahwa akhir waktu yang tidak dapat didefinisikan manusia ini membuatnya harus senantiasa beribadah kepadaNya. Jika tidak, ia akan dipanggil olehNya dalam keadaan bekal yang sedikit. Dengan demikian, tidak akan ada hari-hari yang sia-sia. Setiap hari diisi dengan melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya serta upaya-upaya untuk meraih derajat taqwa.

Kini sudah saatnya memperhatikan apa yang terjadi di hari esok. Hari kematian pasti akan datang, kehidupan akhirat mutlak ada. Kehendak Allah untuk merahasiakan kapan itu semua terjadi dan perintah Allah dalam Al-Hasyr di atas cukup menjadi sebuah alasan untuk melakukan perencanaan hari esok yang lebih baik. Dengan mempersiapkan bekal yang terbaik, Insya Allah akan berakhir pada 2 akhir kisah yang terbaik: surgaNya kelak dan derajat taqwa. Aamiin.

Tentang Zaky Amirullah

Mahasiswa Teknik Kelautan ITB 2010, memiliki interest di bidang kepemimpinan dan psikologi. Terinternalisasi semangat "Be High Class for High Class" [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Topik:

Keyword: , , , , , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (2 orang menilai, rata-rata: 9,00 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
107 queries in 1,688 seconds.