13:26 - Kamis, 24 Juli 2014

Ketika Langit Menangis Kitapun Tersedu-Sedu

Rubrik: Puisi dan Syair | Oleh: Miyanto - 29/01/13 | 13:30 | 16 Rabbi al-Awwal 1434 H

Ilustrasi. (inet)

Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com

malam itu langit menangis sejadi-jadinya
menumpahkan segala keluh kesahnya
menuruni atap yang rapuh termakan usia
menyelinap ke kamar-kamar rumah tua

lalu perlahan namun pasti
ia genangi lantai dan ubin-ubin
inci demi inci
jengkal demi jengkal
meter demi meter

dan,
penuhlah!
meluaplah!

ah…
setelah itu tak lagi langit yang menangis
karena kitapun tersedu-sedu

Tentang Miyanto

Anggota Forum Ukhuwah dan Study Islam. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Topik:

Keyword: , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (4 orang menilai, rata-rata: 10,00 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
119 queries in 1,726 seconds.