23:32 - Minggu, 20 April 2014

Membangun Keluarga Kedua

Rubrik: Mimbar Kampus | Oleh: Nufi Eri Kusumawati - 28/01/13 | 15:30 | 15 Rabbi al-Awwal 1434 H

Ilustrasi (donialsiraj.wordpress.com)

Ilustrasi (donialsiraj.wordpress.com)

dakwatuna.com - Keluarga pertama saja belum dibangun, sudah ke keluarga dua saja nih #eaaa :P. Alhamdulillah, hari ini Allah kembali memanggil, menyeru pejuang-pejuang-Nya untuk kembali dalam barisan yang mungkin ‘sedikit’. Tapi semoga saja senantiasa istiqamah.

Alhamdulillah, lagi-lagi karena rahmat Allah jugalah yang masih menggerakkan hati kita, menuntun untuk tetap bersama di jalan ini. Semoga Allah tetapkan hati-hati kami untuk selalu terikat dengan cinta-Nya…

Sahabatku, perjalanan dakwah memang bukanlah perjalanan yang mudah.  Perjalanan ini panjang, butuh pengorbanan dan kesabaran. Banyak yang berguguran, namun tak sedikit pula yang masih tetap bertahan. Sungguh bahagianya melihat wajah-wajah sumringahmu yang selalu gigih dalam berdakwah.

Ada beberapa yang mungkin terlupa atau belum terbaca. Keluarga… Sebagaimana layaknya kehidupan adalah pondasi utama dalam menerapkan nilai-nilai kehidupan. Seperti yang kita tahu, keluarga terdiri dari ayah, ibu, adik dan kakak. Nah terus keluarga kedua itu siapa?

Sahabat, ketika kita pergi ke kampus… Pernahkah kalian bertemu dengan adik-adik tingkat yang lucu-lucu nan imut? Yang mereka melingkar bersamamu dalam lingkaran kecil yang biasa kau sebut halaqah/liqa/mentoring… Ya itulah sahabat, keluarga keduamu. Mereka cantik, polos, lugu… seperti halnya adikmu yang banyak bertanya dan belajar padamu.

Keluargamu adalah mereka. Bagaimana caranya agar mereka tak sekadar menjadi adik atau temanmu? Bagaimana pula caranya menjadikannya keluargamu?

Dalam mentoring, sebuah nilai-nilai keislaman atau ilmu-ilmu agama tak mungkin akan sampai jika kita tak menyampaikan dengan seadanya atau sekadar memenuhi kewajiban sebagai mentor. Perlu sekali, kita tanamkan pada diri kita…Bahwa adik-adikmu itu juga keluargamu, hingga suatu saat tertanam rasa saling rindu, saling ingin membantu, saling mencinta…

Ada beberapa cara agar kita mampu membangun keluarga kedua dengan baik:

1. Perbaiki iman kita. Dalam melakukan apa pun, keimanan yang kuat pasti selalu dibutuhkan. Ibarat sedang perang, iman adalah senjata utama. Menghadapi apa pun, sedang di mana pun, usahakan iman kita harus tetap terjaga… “Beraktivitas tanpa ruh itu bagai menjahit dengan jarum tapi lupa memasukkan benangnya” (kutipan)

2. Bangun dengan cinta. Sebenar-benar cinta yang tujuan akhirnya memang hanya Allah. Caranya dengan saling bertegur sapa, menjadi pendengar yang baik dan solutif, mengutamakan mentee, dan yang terpenting adalah mendoakannya. Karena hanya Allahlah yang memberi hidayah.

3. Pengorbanan. Untuk membangun cinta, pengorbanan pasti diperlukan. Seperti layaknya ibu dan bapak kita yang selalu berkorban, begitu pulalah harusnya dalam keluarga kedua kita.

ForMen (Forum Mentor) di Ruang Sidang IKK Lt. 4, Universitas Negeri Jakarta.

Tentang Nufi Eri Kusumawati

Mahasiswi Universitas Negeri Jakarta angkatan 2011. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Samin Barkah, Lc

Topik:

Keyword: , , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (1 orang menilai, rata-rata: 10,00 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
92 queries in 1,111 seconds.