11:58 - Rabu, 03 September 2014
Cahyadi Takariawan

Menikmati Kebersamaan Keluarga Hingga Akhir Usia

Rubrik: Pendidikan Keluarga | Oleh: Cahyadi Takariawan - 24/01/13 | 10:30 | 11 Rabbi al-Awwal 1434 H

 

Ilustrasi. (inet)

Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com - Apa yang kita dapatkan dari film “Habibie & Ainun” yang sekarang tengah diputar di berbagai bioskop? Saya sendiri belum menonton dan tidak tertarik untuk menontonnya. Membaca resensinya saja –seperti yang sudah diposting oleh mbak Winda Maulida (http://www.kompasiana.com/windamaulida) dan teman lainnya di Kompasiana – sudah membuat saya menangis, apalagi kalau langsung menonton filmnya. Saya tidak membayangkan akan berapa hari saya menangis. Seperti yang saya dengar dari semua teman yang pernah menyaksikan film tersebut, mereka mengaku menangis. Termasuk teman yang tidak biasa menangis.

Dikisahkan Habibie dan Ainun di masa remaja menempuh pendidikan di SMP yang sama. Tahun demi tahun pun berlalu, hingga pada tahun 1962, mereka berdua bertemu lagi di Bandung. Habibie jatuh cinta pada Ainun yang sudah berubah menjadi gadis cantik. Karena kecantikannya banyak pria yang menaruh hati pada Ainun. Kebanyakan yang menyukai Ainun adalah pria berpangkat dan kaya, tapi Habibie sama sekali tidak minder. Dengan percaya diri ia datang ke rumah Ainun menggunakan becak sedangkan para ‘pesaingnya’ kebanyakan bermobil.

Ainun tidak silau dengan semua pangkat dan kekayaan, ia lebih memilih Habibie dan menikah dengannya. Setelah menikah, mereka pergi ke Jerman. Di sana Habibie menyelesaikan studi S3-nya dan berharap bisa kembali ke Indonesia untuk bisa membuat pesawat terbang produksi anak bangsa seperti janji yang pernah diucapkan ketika sakit.

Habibie yang dihormati di Jerman, ternyata tidak dihormati di negerinya sendiri. Mimpi untuk membangun tanah air mengalami banyak hambatan. Terpaksa ia bekerja di industri Kereta Api di Jerman. Sampai tiba masanya Habibie memiliki kesempatan untuk mewujudkan mimpinya. Ia kembali ke Indonesia dan mulai berkarya. Habibie sukses mengembangkan teknologi di tanah air.

Kesuksesan Habibie mengabdikan diri pada negara, berdampak pada keluarganya. Ia tak lagi memiliki waktu untuk keluarga, bahkan untuk dirinya sendiri. Ia hanya sempat tidur satu jam setiap hari. Usai melepas jabatan sebagai Presiden RI, ia kembali ke Jerman bersama Ainun. Di Jerman mereka hidup lebih tenang dan damai. Tapi tak bertahan lama. Ainun divonis menderita kanker ovarium stadium 4, memaksanya harus dirawat di rumah sakit dan menjalankan operasi berkali-kali.

Selama sakit, Habibie dengan setia merawat Ainun dan menjaganya sampai Ainun menutup mata. Sebuah perpisahan yang sangat berat bagi siapapun yang saling mencinta.

Kebersamaan Yang Indah

Sangat mendalam kebersamaan Habibie dengan Ainun. Rasa cinta terhadap sang istri sedemikian besar, hingga Habibie merasakan kekosongan dalam relung jiwanya. Konon, kira-kira dua pekan setelah kematian Ainun, suatu hari Habibie memakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir, sambil memanggil “Ainun… Ainun…” Ia mencari Ainun di setiap sudut rumah.

Ainun adalah perempuan istimewa di mata Habibie. Ia menepati janji untuk selalu mendampingi Habibie sampai akhir hidupnya, di kala susah maupun senang. Bahkan pada detik-detik terakhir menjelang kepergiannya, ia tetap memikirkan Habibie. “Saya tidak bisa, saya tidak bisa berjanji akan menjadi istri yang sempurna untukmu. Tapi saya akan selalu mendampingimu, saya janji itu.” Itu janji Ainun ketika dilamar oleh Habibie. Dan ia membuktikannya.

Episode Habibie dan Ainun adalah contoh keluarga yang mampu menjaga kebersamaan hingga akhir usia. Sudah pasti, mereka juga diterpa berbagai dinamika kehidupan layaknya pasangan lainnya. Namun Habibie dan Ainun mampu bertahan dan menjaga kebersamaan yang begitu indah. Habibie sebagai suami memiliki banyak kelemahan, sebagaimana suami lainnya. Ainun sebagai istri juga memiliki banyak kekurangan, sebagaimana istri lainnya. Namun mereka berdua mampu menjadi pasangan yang setia dan bahagia hingga akhir usia.

Tidak perlu sempurna untuk menjadi pasangan yang setia dan bahagia. Semua dari kita memiliki kelemahan dan kekurangan. Tidak ada suami yang sempurna, sebagaimana tidak ada istri yang sempurna. Untuk itu, yang diperlukan adalah kedewasaan sikap dalam menjalani kehidupan keluarga. Setiap badai, setiap masalah, setiap tantangan, harus disikapi dengan penuh kehati-hatian, agar tidak menggoyahkan kekokohan keluarga. Masalah sebesar apapun akan terasa indah, apabila mampu disikapi dengan tepat dan dilewati dengan kebersamaan.

Kita Hadapi Bersama

Di antara kunci menikmati kebersamaan adalah pada sikap suami dan istri saat menghadapi permasalahan. “Kita hadapi bersama”, adalah kata kuncinya. Persoalan suami dan istri harus dihadapi bersama, bukan saling melempar kesalahan kepada pihak lainnya. Kadang suami merasa benar sendiri, dan menganggap istri yang salah. Kadang istri merasa selalu benar, dan suamilah yang salah. Sikap saling melempar ini tidak produktif, karena menunjukkan ketidakdewasaan sikap hidup berkeluarga.

“Itu masalahmu sendiri, bukan masalahku”, ungkapan seperti ini menandakan tidak adanya kebersamaan saat menghadapi permasalahan. Bahkan seandainya masalah tersebut terkait pekerjaan di kantor, atau urusan yang menyangkut jabatan, profesi, atau posisi di tempat kerja. Suami dan istri tetap memiliki peran saling meringankan dengan berbagai cara yang bijak. Bukan intervensi dalam sisi profesional atau jabatan, tetapi intervensi dalam kaitan moral. Sebagai suami istri, yang harus saling berbagi, saling meringankan beban, saling membantu dan menjaga.

Masalah apapun akan lebih ringan dihadapi, apabila suami dan istri mampu menjaga sikap “kita hadapi bersama”. Sikap ini menunjukkan kuatnya kebersamaan antara suami dan istri. “Ini masalah kita, maka mari kita hadapi bersama”. Alangkah indah sikap seperti ini. Sebuah kedewasaan dalam menjalani hidup bersama di dalam rumah tangga. Suami dan istri saling bergandengan tangan, melewati hari-hari penuh kebahagiaan, karena mereka mampu merawat kebersamaan.

Selamat pagi, selamat beraktivitas dengan penuh cinta kepada keluarga. Salam Kompasiana.

Sumber informasi: http://hiburan.kompasiana.com/film/2012/12/24/resensi-film-habibieainun-513529.html

Cahyadi Takariawan

Tentang Cahyadi Takariawan

Senior Editor di PT Era Intermedia, Pembina di Harum Foundation, Direktur Jogja family Center, Staf Ahli Lembaga Psikologi Terapan Cahaya Umat. Alumni Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM). [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Samin Barkah, Lc

Topik:

Keyword: , , , , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (7 orang menilai, rata-rata: 8,29 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
90 queries in 1,871 seconds.