06:18 - Kamis, 31 Juli 2014

Jilbab Inilah yang Menyadarkanku

Rubrik: Wanita | Oleh: Sonia Faiqah - 23/01/13 | 13:30 | 10 Rabbi al-Awwal 1434 H

Ilustrasi (inet)

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com - Dulu sekali. Sepotong kain segi empat tergantung di dinding kamar. Tak pernah terbesit dan terlintas di benakku akan mengenakannya saat ini. Mungkin setelah menikah nanti, mungkin setelah bekerja nanti, atau “kemungkinan-kemungkinan” yang lain yang entah kapan akan tiba waktunya.

Dalam hati kecilku sebenarnya ada keinginan mengenakannya saat itu, namun keinginan itu tertutupi dengan alasan-alasan yang aku buat-buat sendiri.

Aku merasa akan dijauhi teman-temanku jika mengenakannya, aku merasa jika memakai jilbab maka wajahku akan kelihatan aneh dan tidak cocok, yang terakhir aku takut akan dikatakan sok alim oleh orang-orang yang kenal denganku. Sungguh begitu ke”kanak-kanak”kannya diriku dulu.

Namun ternyata hari itu tiba. Aku mengenakannya untuk saat itu, hingga saat ini, dan semoga tetap istiqamah selamanya.

Tidak ada istilah menunggu hidayah. Diibaratkan jika kita menginginkan agar cahaya matahari masuk ke dalam rumah kita, namun kenyataannya yang kita lakukan hanyalah menunggu di dalam rumah dengan jendela dan pintu yang tertutup. Ditunggu sampai kapan pun cahaya matahari tak akan pernah masuk ke dalam rumah kita. Begitu juga yang berlaku pada hidayah. Ia tak akan masuk ke dalam hati kita jika yang kita lakukan hanyalah menunggu.

Memang di dalam ayat Al-Quran dijelaskan bahwa sebuah hidayah adalah hak prerogatif milik Allah untuk memberi ataupun tidak, namun tak ingatkah kita pada salah satu firman-Nya yang berbunyi, “Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri yang mengubahnya.”

Kata kuncinya adalah usaha. Hidayah itu akan hadir ketika kita tidak hanya menunggu namun juga diiringi dengan usaha disertai doa kita pada-Nya.

Karena menurutku, Menunggu datangnya hidayah itu bukan sebuah alasan penundaan untuk mengenakan jilbab namun lebih tepatnya ialah sebuah alasan penolakan untuk mengenakan jilbab. Karena dia hanya menerka-nerka mengenai datangnya hidayah.

Hidayah yang bisa berupa ketenteraman, kedamaian, dan kenyamanan saat memakai jilbab ataupun bisa juga berupa keinginan untuk terus mengenakan jilbab (permanen) tidak hanya timbul di awal mengenakannya, namun bisa timbul ketika proses mengenakannya.

Sederhananya, Berjilbab itu bukan karena hidayah, namun berjilbab itu untuk mendapatkan hidayah. Dengan kata lain, berjilbablah terlebih dahulu, maka hidayah akan datang menyapamu.

Ketika shalat masih suka telat…
Ketika kata-kata masih tak terjaga…
Ketika mata belum tunduk dalam pandangan…
Ketika tingkah laku masih jauh dari yang Nabi Saw suruh…
Jilbab inilah yang menyadarkanku, betapa banyak yang belum dibenahi di diri ini.
Ketika teman mengajak maksiat…
Ketika pergaulan belum ada batasan…
Ketika berghibah adalah hiburan…
Ketika melihat aurat adalah hal yang lumrah…
Jilbab inilah yang menyadarkanku, betapa banyak yang belum dibenahi di diri ini.

Dan setelah mengenakannya, yang ada hanyalah hidayah, hidayah, dan terus hidayah. Lewat penjagaan-Nya yang bernama JILBAB.

Sadarilah saudariku, dapatkanlah hidayahmu yang mungkin sedang menunggu usaha darimu, menunggu jilbab itu kau pakai terlebih dahulu.

Setelah itu kau boleh merasakan, sesungguhnya Jilbab itulah yang akan menyadarkanmu, betapa banyak yang belum dibenahi dalam dirimu. Seperti halnya diriku.

Tentang Sonia Faiqah

Seorang Penulis asal Palembang, pernah menuntut ilmu di Universitas Sriwijaya. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Samin Barkah, Lc

Topik:

Keyword: , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (10 orang menilai, rata-rata: 8,50 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
84 queries in 1,509 seconds.