14:06 - Rabu, 23 April 2014
Cahyadi Takariawan

Apakah Istri Anda Cerewet? Itu Normal

Rubrik: Pendidikan Keluarga | Oleh: Cahyadi Takariawan - 23/01/13 | 10:30 | 10 Rabbi al-Awwal 1434 H

Ilustrasi. (inet)

Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com - Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita menemukan banyak suami yang heran dengan sikap dan perilaku istrinya. Menurut para suami, istri mereka terlalu banyak bicara. Ungkapan seperti ini sering didengar oleh para konselor keluarga:

“Istri saya itu orangnya aneh banget. Maunya ngomong terus, hal-hal yang tidak penting saja diomongkan”, kata seorang suami.

“Istri saya itu orangnya sangat cerewet. Semua dikomentari, seakan tidak ada hal yang benar dari diri saya”, kata suami yang lain.

“Saya heran, apa tidak sebaiknya dia itu diam saja, tidak usah banyak bicara”, ujar suami yang lain.

Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Sebenarnya para suami hanya kurang memahami dan mengerti karakter umum perempuan. Ada hal yang membuat lelaki dan perempuan memang berbeda, karena memiliki susunan otak yang tidak sama. Allan dan Barbara Pease menceritakan bahwa kebanyakan perempuan memiliki susunan otak yang membuatnya bisa menang berbicara dan menang mengomel dibanding semua lelaki. Bagian otak perempuan yang digunakan untuk berbicara dan berbahasa lebih banyak dibanding pada otak laki-laki.

Hal ini membuat dua sudut pandang yang berbeda. Di mata perempuan, laki-laki tampak tidak banyak bicara. Sedangkan di mata laki-laki, perempuan tampak tidak bisa diam. Menurut kaum perempuan, laki-laki banyak diam sampai hal-hal penting saja tidak dibicarakan. Menurut laki-laki, para perempuan terlalu banyak bicara, sampai hal-hal yang tidak penting pun diomongkan.

Otak perempuan memiliki susunan yang memungkinkannya memiliki kemampuan “jalur majemuk”. Perempuan bisa bermain lempar empat atau lima bola sekaligus. Perempuan dapat menjalankan program komputer sambil berbicara di telepon dan mendengarkan pembicaraan kedua yang berlangsung di belakangnya; sambil minum secangkir teh hangat.

Perempuan dapat berbicara mengenai beberapa hal yang tidak berhubungan dalam satu percakapan, dan menggunakan lima jenis suara untuk mengganti pokok pembicaraan atau memberi tekanan pada suatu hal tertentu. Laki-laki hanya mampu mendengarkan tiga dari banyak suara tersebut, sehingga laki-laki sering kehilangan alur cerita pada waktu mendengarkan perempuan berbicara.

Perempuan Sulit Berbicara To The Point

Dengan struktur otak yang “jalur majemuk” tersebut, rata-rata kaum perempuan sulit berbicara to the point. Pembicaraannya selalu berkembang, sebagaimana tampak dalam percakapan antara Dewa dengan istrinya, Ratih.

Dewa: Apakah Desy akan datang pada agenda liburan Tahun Baru besok?

Ratih: Desy bilang kemungkinan akan datang, tergantung kondisi order kue yang sekarang tengah menurun karena situasi ekonomi yang tengah labil. Sedangkan Ratna mungkin tidak datang karena Arya harus periksa ke dokter spesialis. Katanya Bambang tengah kehilangan pekerjaan, jadi dia sedang berusaha mencari pekerjaan baru, dan Sony tidak mendapatkan izin cuti. Bosnya ketat sekali. Desy bahkan mungkin datang lebih awal, supaya bisa mempersiapkan acara dan berbelanja berbagai keperluan, termasuk membelikan kado bagi pernikahan Ema. Mungkin sebaiknya kita nanti mengantar Desy untuk……”

Dewa: Apakah itu artinya “datang” atau “tidak”?

Ratih: Iya, tapi juga masih tergantung dengan kondisi Diana, apakah mobilnya bisa dipinjam atau tidak, karena semenjak mobil barunya dipakai Erik, Diana selalu mengeluhkan mobilnya yang tua dan sering masuk bengkel….. Bla bla bla…”

Dewa merasa hanya bertanya sebuah pertanyaan sederhana, dan mestinya bisa dijawab ringkas dengan “datang” atau “tidak datang”. Bukankah sekadar bertanya, “Apakah Desy akan datang pada acara pertemuan keluarga besok?” Mengapa jawabannya begitu panjang dan menghubungkan dengan banyak orang serta banyak kondisi yang tidak ditanyakan?

Yang ditanyakan Dewa hanya soal Desy, namun Ratih menjawab dengan menyebut tujuh nama orang lainnya, dengan beraneka topik yang menyertainya.

Laki-laki Suka Berbicara To The Point

Sementara otak laki-laki tersusun dalam bentuk “jalur tunggal”. Rata-rata kaum lelaki hanya bisa memusatkan perhatian pada satu hal pada satu saat. Jika seorang perempuan mengajak bicara laki-laki yang tengah menyetir mobil di jalan melingkar, jalan keluar akan terlewatkan olehnya, dan laki-laki ini akan menyalahkan perempuan karena berbicara.

Jika laki-laki tengah melaksanakan satu pekerjaan di kantor, ia tidak mau diganggu dengan diajak mengobrol. Begitu mengobrol, maka pekerjaan ditinggalkan. Bahkan saat menerima telepon, laki-laki cenderung mencari tempat yang sepi karena tidak mau diganggu suara lainnya.

Konon, banyak perempuan yang merasa bahwa hanya merekalah satu-satunya orang dewasa yang berpikiran sehat dalam keluarga. Mereka merasa, suami mereka berkelakuan seperti anak-anak. Sementara kaum laki-laki menganggap istri mereka tidak bisa diajak diskusi ilmiah dan rasional, sehingga kadang suami merasa malu jika mendengar istrinya berbicara di depan orang banyak.

Dengan struktur otak yang “jalur tunggal” tersebut, menyebabkan rata-rata laki-laki lebih suka berbicara to the point. Jika ditanya satu pertanyaan, akan memberikan satu jawaban. Perhatikan dialog Dewa dengan Ratih berikut:

Ratih: Kamu tadi dari mana sih?

Dewa: Dari kantor.

Ratih: Kok pulangnya terlambat?

Dewa: Masih ada kerjaan.

Ratih: Kamu capek sayang?

Dewa: Biasalah…

Ratih: Mau aku buatkan teh panas?

Dewa: Boleh.

Sangat berbeda bukan, bagaimana cara menjawab pertanyaan? Jika Ratih ditanya satu pertanyaan, jawabannya bisa dua puluh empat poin. Sedangkan jika dewa ditanya satu pertanyaan, jawabannya juga hanya satu poin. Lelaki suka menjawab “ya” dan “tidak” secara ringkas. Perempuan suka menjawab dengan mengembangkan jawaban.

Ini semua natural dan normal. Jangan saling heran dengan pasangan Anda. Mengerti titik-titik perbedaan membuat suami dan istri semakin bisa menerima satu dengan yang lainnya. Tidak saling menyalahkan, tidak saling menjelekkan, namun berusaha selalu lebih mendekat kepada pasangan. Tidak perlu membesar-besarkan perbedaan.

Jadi, jika istri Anda cerewet, itu normal. Memang begitulah Tuhan memberikan kemampuan pada kaum perempuan. Kecerdasan linguistik kaum perempuan lebih tinggi dibanding lelaki, kosa kata kaum perempuan lebih banyak daripada lelaki. Itulah sebabnya perempuan sering disebut cerewet. Namun dengan kecerewetannya itu pulalah Tuhan mengajari anak-anak kita pandai berbicara, maka syukuri kecerewetan istri Anda.

Cahyadi Takariawan

Tentang Cahyadi Takariawan

Senior Editor di PT Era Intermedia, Pembina di Harum Foundation, Direktur Jogja family Center, Staf Ahli Lembaga Psikologi Terapan Cahaya Umat. Alumni Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM). [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Samin Barkah, Lc

Topik:

Keyword: , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (28 orang menilai, rata-rata: 9,29 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • 10067 hits
  • Email 11 email
  • http://www.facebook.com/andy.abidin.58 Andy Abidin

    ha2…bener3x

  • khodijah

    iyya bener,, *pelaku,, hee

  • http://www.facebook.com/riccy.istiqomah Riccy Wanda Istiqomah

    ijin share ya …jazakumullaoh khoiron

  • Nurma Aulia

    jadi inget seminar Pra Nikah dulu pak ^_^ hihiii

  • yeza

    kebalik, malah cowo yang ditanya satu jawab seribu..kok bisa

  • Siti Hajar

    haha…………….. gak selalu begitu juga. suamiku malah lebih cerewet dan gak bisa to the point. q tanya satu hal, jawabnya muter2 dulu kemana2. sampe susah narik kesimpulannya

  • ely

    assalamualaikum materi yang menarik dan bagus..ijin share yah pak……diblogku.

Iklan negatif? Laporkan!
82 queries in 1,486 seconds.