Home / Pemuda / Puisi dan Syair / Di Masjid Sekolah

Di Masjid Sekolah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com

Di Masjid Sekolah
Betul – betul menjadi saksi, di sanalah kami dilahirkan.
Ya! di sana kami merasa lahir kembali bersama tarbiyah illahi.
Meski dulu, kami belum memahami betul indahnya saat-saat itu.
tapi kini ruh ini betul-betul merindu.

Di Masjid Sekolah
Setiap pagi sebelum bel berbunyi
Ada saja kawan-kawan di sana, serasa rumah sendiri
Pagi-pagi sudah kerja bakti hingga menjemur karpet di lapangan sekolah, walau masih pagi.
Ya! Minimal bertemu saudara-saudara sambil bertanya kabar masing-masing

Di Masjid Sekolah
Bel istirahat berbunyi, lagi-lagi terasa rumah sendiri
Berbondong-berbondong shalat Dhuha bersama.
Ajak teman – teman kelas untuk shalat bersama
Meski tak sedikit yang diajak melarikan diri ke kantin, Duhai lucunya!

Di Masjid Sekolah
Bel Istirahat kedua berbunyi, lagi-lagi bagai rumah sendiri
Berbondong-bondong shalat Zhuhur berjamaah
Kali ini teman – teman kelas menurut juga
Sebab, bila tak shalat jamaah di catat guru agama

Di Masjid Sekolah
Bel pulang berbunyi, lagi-lagi bagai rumah sendiri
Bukan langsung pulang ke rumah, berbondong-bondong kumpul di masjid sekolah
Menanyakan kabar sahabat, atau agenda tiap hari Jum’at
Duhai indahnya ukhuwah!

Di Masjid Sekolah
Betul-betul menjadi saksi
Ketika mendengar seorang ukhti menangis, sebab mempertahankan jilbabnya
Pula perkara-perkara keluarga atau yang lainnya
Tak jarang pula tentang akademik atau amanah organisasi lainnya.

Di Masjid Sekolah
Tiap hari Jum’at siap-siap bawa alat tulis dan Al-Qur’an
Latihan dulu bersama, sebelum berbicara di depan banyak orang
Pengajian kelas…. Ceramah Jum’at Keputrian…. Mentoring…. Khatib Jum’at
Ah, yang paling lucu ketika senandung nasyid dadakan berdendang, Duhai falesnya!

Di Masjid Sekolah
Akhir pekan duduk melingkar
Kita mulai mengenal makna syahadat, cinta rasul, berbakti kepada orang tua, guru dan lainnya
Saling doa dan menasihati, walau terkadang amat menyakitkan
Tak jarang tukar kado sebagai tanda persaudaraan.

Di Masjid Sekolah
Menjadi saksi bahwa di sanalah kami dilahirkan, rahim tarbiyah bermula
Kita berani bermimpi dan berprestasi karena-NYA.
Menjadi pribadi lebih baik, walau tak jarang banyak orang mencibir
Namun percayalah, semua itu membuat kita saling berlomba menuju ridha-NYA

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 6,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sari Asma Anggar
Penulis berkulit sawo matang ini sudah menyukai dunia tulis menulis sejak masih berusia 8 tahun. Baginya, menulis merupakan suplemen jiwa. Alasan lain yang membuatnya menyukai dunia tulis menulis adalah Dengan tulisan, bisa jadi kita mampu mengubah peradaban
  • Adinda Saraswati

    Subhanallah ya kak sari ., semoga ukhwah yang kuat selalu ada didalamnya .., :)

Lihat Juga

poster-film-duka-sedalam-cinta

“Indahnya Berbagi”, Terinspirasi dari Film Duka Sedalam Cinta

Organization