16:38 - Senin, 20 Oktober 2014
Shita Ismaida

Aku Ingin Menikmati Jawaban Tuhanku

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: Shita Ismaida - 22/01/13 | 09:30 | 09 Rabbi al-Awwal 1434 H

Ilustrasi (Erina Prima)

Ilustrasi (Erina Prima)

dakwatuna.com – Sejak beberapa tahun lalu, ide menulis menuangkan semua kegelisahan pikiran ini selalu saja menggoda saya untuk menuliskannya dan membaginya pada semua. Tulisan ini dimaksudkan agar saya bisa memahami dalam-dalam dan tidak merasa asing dengan maknanya.

Terkhusus untuk mereka yang selalu menyemangati saya, mengingatkan saya bahwa beginilah sesungguhnya hakikat dari jalan yang sedang ditempuh bernama “Dakwah”. Juga untuk mereka yang tidak pernah dibatasi dengan jarak, waktu dan kesibukannya. Untuk mereka yang mampu mengantarkan anak-anak “manusia” kepada jalan penuh dengan cahaya, berkah dan hidayah dariNya. Mereka yang berpeluh-peluh keringat, berlelah-lelah mengorbankan pikiran, tenaga, dan waktunya untuk membuat segala persiapan, perencanaan, strategi, konsep, solusi hanya untuk dakwah yang mereka lakukan karenaNya.

Bismillah,

Aku Ingin Menikmati jawaban Tuhanku….

Pernah gak mendapat surat cinta? Surat cinta yang dikirim dari “yang amat spesial” bagaimana ya rasanya? Kemudian setelah mendapat surat cinta itu berapa kali dalam sehari kita membacanya?

Jika surat yang diberikan itu berupa pemberian harapan, memantapkan keyakinan, menghapuskan segala keraguan, menghilangkan kekhawatiran dan memberikan banyak janji kenikmatan….bukankah sudah tentu dari kita ingin sekali mendapatkan pembuktian dan jawabannya?? Dan berharap penuh mendapatkannya?? Atau ada yang tidak ingin mendapatkan surat cinta dari “yang amat spesial”??

Begitulah tentang harapan, kepekaan dan penantian jawaban yang dirasakan Umar Bin Abdul Azis saat dia membaca surat cinta yang dikirimkan oleh TuhanNya. Surat cinta itulah yang kemudian membuatnya diam sejenak dalam setiap ayat-demi ayat yang dia baca. Ketika ditanya alasannya, Umar bin Abdul Azis menjawab, aku ingin menikmati jawaban Tuhanku

Seandainya saja kita bisa memahami dengan betul apa yang membuat sekaliber Umar Bin Abdul Azis sedemikian yakin bahwa surat cintanya pasti mendapatkan jawaban dari TuhanNya. Maka sudah tentu bukan kita pun ingin sekali mendapatkan jawaban, nikmatnya tatkala Allah menjawab semua harapan, permintaan kita… tentang apa saja…. pengharapan untuk dunia dan akhirat kita. (Siap-siap deh buat surat cinta melalui list doa-doa kalian yakinlah suatu saat surat cinta dan doa itu mendapatkan jawabannya dan nikmatilah penantiannya)

Dan seandainya saja hati kita senantiasa dapat merasakan bahwa Allah benar-benar menjawab segala penantian dan harapan kita, dan Allah bahkan sudah lebih dahulu menjawabnya melalui ayat demi ayat dalam surat cintaNya, pastilah hati kita sudah terbang kegirangan dan itulah fitrah!!

Anda tau, apa yang sebenarnya diharapkan oleh Umar bin Abdul Azis dalam setiap doa-doa harapannya??

Harapannya sederhana! Sangat sederhana… tapi sangat dalam maknanya…

Setiap kali membaca Arrohmanirrohim dalam shalatnya, beliau akan selalu teringat dengan rahmat dan nikmat Allah yang melimpah diberikan kepada seluruh umatnya

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl : 18)

Dan pengharapan yang tulus saat membaca ayat ke-6 dari surat Al-Fatihah “Ihdinaassyirotholmustaqiim” memohon dikaruniai sahabat, saudara, teman yang shalih… mengingat kembali orang-orang beriman, bertaqwa yang hidup bersamanya atau bersama kita, dan berdoa agar Allah selalu meneguhkan mereka, meneguhkan kita di atas jalan tersebut. Karena tiada yang dapat meneguhkan dan membimbing langkap pada jalan mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, kecuali Allah. Perasaan itulah yang kerap membuat Umar bin Abdul Azis bertambah dekat padaNya, dan semakin besar harapan untuk mendapatkan rahmat-Nya serta semakin rasa takut padaNya.

Pada ayat berikutnya ia juga meminta, agar dijauhkan dari saudara, sahabat, teman yang jahat…karena Allah sebaik-baik penjagaan dan pemberi makar! Serta meminta agar Allah menetapkan kita sebagai bagian dari orang-orang yang istiqamah di jalanNya…

Adakah di antara kita yang tidak ingin mendapatkan nikmat saat Allah menjawab semua surat cinta dan doa-doa kita???

Menikmati jawaban dari nikmat yang Allah janjikan kepada kita salah satunya dengan terus beramal… dengan terus bergerak, dengan terus berdakwah karena itulah bukti bahwa kita bersyukur saat Allah perlahan-lahan menjawab pengharapan nikmat kita dan beginilah cara kita menikmati nikmat jawaban yang Allah janjikan.

Orang-orang yang beristiqamah di jalan Allah akan mendapatkan buah yaitu keteguhan hati

Sungguh, ada banyak ribuan teladan orang-orang shalih di sekitar kita bahkan Al-Quran sudah sangat jelas memvisualisasikan ribuan teladan dan keteladanan mereka dari masa lalu hingga masa sekarang, termasuk ribuan perilaku buruk yang dapat menjadi pelajaran untuk kita.

Saudaraku, dalam keadaan apapun, bagaimanapun dan kapanpun semoga Al-Quran tidak  pernah lepas dari keseharian kita agar hidup kita selalu bersama dan dalam naungan al-Qur’an.

Wallahu’alam bis Showwab.

Shita Ismaida

Tentang Shita Ismaida

Istri dari Iwan Solahuddin muslimah kelahiran Jakarta ini masih menyelesaikan studinya di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta. Ia juga aktif menulis, tulisannya pernah dimuat di websitus islami. Meski latar belakang… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Topik:

Keyword: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (14 orang menilai, rata-rata: 9,64 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • Isasyarif

    Semoga segala do’a dan harapnnya segera terkabulkan

Iklan negatif? Laporkan!
84 queries in 1,503 seconds.