Home / Pemuda / Cerpen / Binar Cinta Atun

Binar Cinta Atun

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Kalaupun harus memilih, tentulah semua orang menginginkan tiada kekurangan satu pun pada dirinya. Baik harta, fisik maupun yang lainnya. Ah… manusia memang banyak menuntut! Padahal tiada manusia yang sempurna di muka bumi ini. Begitulah fitrahnya. Kecuali manusia pilihan sepanjang masa, Rasulullah SAW. Beliau pun memiliki kekurangan sana-sini. Terlahir sebagai anak yatim. Sempurna menjadi yatim piatu di usia belia. Tak mampu membaca alias ummi. Tetapi akhlak dan kepribadiannya menjadikan Kanjeng Nabi menjadi manusia yang special dan sempurna luar biasa.

Andaikan milyaran manusia di muka bumi ini memiliki pola berpikir yang sama, bisa jadi Atun sudah menjadi wanita paling bahagia. Sebab ia tak perlu mengalami kesulitan mencari pasangan hidup karena terbentur masalah fisik, usia dan harta. Lengkaplah sudah!

Pintu-pintu itu seakan sudah tertutup bagi Atun. Ya! Semua pintu sudah ia ketuk bahkan ia sudah mencoba untuk masuk ke dalamnya. Namun tak ada yang memberikan kesempatan, sedikit saja.

Wanita berkulit hitam dan berbadan gembul itu sudah mencapai klimaks keputusasaan. Untuk kesekian kalinya ia mendapatkan penolakan. Entah apa sebabnya wanita berusia tiga puluh tahun itu selalu mengalami penolakan. Bisa jadi karena namanya – hadiah dari almarhum sang ayah- tak modern seperti nama orang kebanyakan. Atau bisa jadi fisiknya yang tak proposional. Hitam dan gembul!

“Makanya, Tun, semestinya kamu itu harus lebih terbuka dengan lelaki. Jangan terlalu menutup diri. Pendekatan itu perlu untuk membantu pendewasaan diri.”

“Lha wong orang pacaran saja terkadang sulit mendapatkan jodoh, apalagi yang tidak memiliki pacar sama sekali. Nah! Sekarang kau bisa lihat sendiri akibatnya.”

“Kau itu banyak kekurangan, Tun. Sudahlah…. tak usah tetap teguh memegang prinsip yang kau pegang selama ini.”

Ah, ada-ada saja cibiran yang Atun dapat. Baik dari kerabat, tetangga maupun teman.

Tak ada yang menguatkan Atun kecuali kedua orang tuanya. Ayah Atun sendiri sudah almarhum. Beliau dulu yang paling menguatkan Atun. Dengan kesederhanaan dan kebijaksanaan petani bawang daerah Brebes itu, Atun merasa manusia paling spesial, sebab sang Ayah selalu membesarkan hatinya.

Hampir seluruh keluarga Atun memiliki warna kulit yang hitam legam, entah karena faktor hidup di perkampungan, cuaca dingin tetapi matahari panas menyengat sehingga kotoran dan debu sulit dibersihkan, atau faktor genetik. Intinya faktor apapun itu kulit Atun tetaplah hitam legam sedari ia hadir di muka bumi ini. Atun sendiri memiliki kelainan lain, yaitu obesitas sejak lahir.

Itulah sebab, mengapa ia dinamakan Atun, karena dahulu Atun adalah bayi yang sangat gemuk, lucu, dan menggemaskan. Jarang-jarang di kampungnya, Brebes, ada yang memiliki bayi yang super gemuk, lucu dan menggemaskan. Tentulah hal tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga petani bawang sederhana seperti keluarga Atun.

Lain dulu lain pula sekarang. Seiring bertambahnya usia label kebanggaan itu berubah menjadi penyesalan, seperti yang Atun rasakan akhir-akhir ini.

“Apa ada lelaki yang ingin menjadikanku seorang istri ya, Rin?”

Kalimat itu terlontar begitu saja. Terlebih ketika Atun usai menghadiri acara reuni teman-teman kuliah angkatannya. Semua telah berkeluarga dan beranak pinak, kecuali satu orang, Atun.

“Allah menciptakan kita semua berpasang-pasangan, Tun. Semua sudah tertulis di lauhul mahfuz. Yakinlah!” Hibur Arini. Sahabat Atun sejak masih kuliah.

“Iya, Rin. Aku tahu itu, jika tidak bertemu dengan jodoh di dunia, akan bertemu di akhirat. Begitu kan yang ingin kau katakan?” Atun tersenyum getir. Ia sudah kehilangan kepercayaan dirinya.

“Seorang wanita shalihah sepertimu akan mendapatkan lelaki yang shalih, yang mencari seorang istri berdasarkan kebaikan agama dan akhiratnya. Yakinlah, Tun!” Sejak kali pertama kenal di kampus dulu, Arini tak henti-hentinya memompakan semangat kepada sang sahabat, Atun.

“Dengan fisik seperti ini?” Atun mulai menyesali keadaan.

===

Sore itu Atun berdandan lebih rapi. Mengenakan setelan gamis dan jilbab warna kuning gading yang ia beli dari gaji pertamanya mengajar beberapa tahun yang lalu. Setelan gamis dan jilbab warna kuning masih tampak baru. Maklum, Atun hanya sesekali mengenakannya, itupun saat acara formal. Mahal katanya!

Atun berdandan tanpa make up berlebih, hanya setelan gamis dan jilbab menutup dada yang terpasang ayu dan rapi. Begitulah Atun, tetap sederhana dan memperhatikan adab berdandan. Tak berdandan berlebihan hanya untuk alasan menutupi kekurangan diri.

Usut punya usut mengapa Atun berdandan lebih rapi, sebab ada seorang lelaki yang ingin melaksanakan proses perkenalan atau ta’aruf dengannya. Ya! Berkat sahabat baiknya, Arini.

Arini yang sudah menikah selepas lulus kuliah dan kini telah dikaruniai dua orang anak itu memang gencar sekali mencarikan seorang suami untuk sahabatnya, Atun. Tak pernah kenal lelah maupun putus asa, dan tiada pernah berhenti memompakan semangat pada Atun.

Dan di sela-sela keputusasaan yang mulai menyelinap, terlebih akhir-akhir ini, Atun mencoba untuk membuktikan setiap perkataan Arini, bahwa seorang wanita shalihah akan mendapatkan lelaki yang shalih, yang mencari seorang istri berdasarkan kebaikan agama dan akhiratnya. Ini harapan terakhir Atun.

“Orang seperti apa dia, Rin?” Atun tampak agak ragu.

“Dia teman satu pengajian dengan suamiku, Tun. Orangnya baik, tetapi level pendidikannya S3.”

Bukan main terkejut Atun mendengarnya. S3? Apa sahabatnya itu sudah gila? Mencarikan calon suami dengan level pendidikan setinggi itu. Mana mungkin lelaki dengan level strata pendidikan S3 mau melamarnya sebagai seorang istri. Sudah perawan tua, tak secantik orang kebanyakan, memiliki banyak tanggungan-seorang ibu yang sudah janda dan tiga orang adik yang masih harus dikuliahkan -, dan yang tak kalah pentingnya, super gendut!!

Jangankan yang level strata pendidikan S3, kemarin saja mas Tugino penjual cendol yang hanya lulusan sekolah dasar saja menolak ketika dijodohkan dengan dirinya. Jadi sangat tidak mungkin bila seseorang dengan level strata pendidikan yang tinggi hingga S3 mau melamarnya sebagai istri.

Melihat ekspresi terkejut dari sang sahabat, Arini tertawa. “Maksudku S3 itu SD-SMP-SMA. Jadi dia hanya lulusan SMA, Tun. Tenanglah… tidak usah panik begitu, hahaha”

Ooh…

“Tidak masalah kan kalau dia hanya lulusan SMA, sedangkan kau seorang sarjana pendidikan?” Tanya Arini meyakinkan.

Atun menggelengkan kepala. Bila dibandingkan dengan kebanyakan orang yang memperhatikan level pendidikan sang calon pendamping, Atun tidak berpikir demikian. Untuk saat ini bahkan sejak dahulu Atun tak begitu mempermasalahkan level pendidikan. Dengan mau menerima diri dan keluarganya apa adanya itu sudah cukup.

Masa beranjak larut, matahari kembali ke peraduannya. Lantunan Azan menggema bersaut-sautan memenuhi ruang bumi. Sungguh indah dan merdu.

Ba’da Isya, calon suami Atun datang. Rahman, namanya.

Rahman di temani oleh Arini dan suami. Mereka berbincang panjang lebar. Diskusi macam-macam. Menceritakan banyak hal mengenai Atun, baik kelebihan maupun kekurangan.

Atun sendiri masih di dalam kamar, mendengar dengan seksama perbincangan ketiganya di ruang tamu. Melihat sang calon suami di balik celah-celah daun pintu.

Melihat dari cara Rahman berbicara dan berdiskusi, serta mendengar jawabannya bahwa ia siap menerima Atun apa adanya tentulah membuat Atun menjadi wanita paling bahagia di dunia.

Barangkali Arini benar. Bahwa seorang wanita shalihah akan mendapatkan lelaki yang shalih, yang mencari seorang istri berdasarkan kebaikan agama dan akhiratnya.

Hingga sejurus kemudian Atun keluar dari kamar ditemani Arini. Atun menangkap sorot mata dan wajah Rahman yang seketika pias melihat dirinya, dan Atun tidak akan pernah lupa.

Layaknya masa kenal dan lihat, maka keputusan melanjutkan ke jenjang pernikahan belum diputuskan malam itu. Tetapi Atun sudah bisa menebaknya, Dan benar yang ia duga, pihak lelaki mengakhiri proses ta’aruf sepihak seperti yang sudah-sudah.

Setelah itu semua seakan sudah tertutup bagi Atun. Tak ada harapan lagi. Biarlah Atun mengubur keinginannya dalam-dalam. Jangankan yang pengetahuan agamanya masih minim, seorang aktivis dakwah seperti Rahman saja yang kemungkinan lebih paham agamanya, menolak perjodohan ini.

Atun juga tak bisa menyalahkan siapapun. Hati memang tak bisa dipaksakan. Namun alangkah lebih baik jika hati tersebut bertaut karena Allah Azza Wa Jalla. Maka seharusnya kebaikan agama yang diutamakan, seperti yang dianjurkan Kanjeng Nabi Saw.

“Maaf kan aku, Tun. Aku dan suami sungguh tak habis pikir, mengapa mas Rahman seperti itu.”

Arini yang mulanya terus memompakan semangat kepada Atun, ikut kehilangan pendar semangatnya.

“Mungkin mereka merasa tidak sebanding dengan mu, Tun. level pendidikanmu lebih tinggi daripada mereka.”

“Masa kau tak ingat dengan Ibrahim, teman kuliah kita dulu, ia pun memutuskan proses itu saat bertemu langsung denganku. Padahal kami sama-sama S-1.” Atun berkilah.

“Atau mungkin mereka mau memapankan diri terlebih dahulu, mungkin mereka belum siap, mungkin mereka…” Berbagai dalih Arini kemukakan.

“Mungkin mereka tak mau memiliki istri sepertiku, Rin. Berkulit hitam, gemuk, dan miskin harta.” Bening, air mata itu mulai menetes membasahi pipi gembul wanita berusia tiga puluh tahun itu.

JJJ

Barangkali itu adalah pertemuan terakhir Atun dan Arini. Setelah hari itu, Arini tak lagi berkunjung. Sebetulnya Atun sendiri tak menyalahkan Arini, hanya saja terkadang manusia pada proses lelahnya membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.

Dan setelah 1 tahun, 1 bulan dan 11 hari tepatnya, Sore itu Arini kembali datang dengan semangat yang memuncak.

“Ahad depan, kutunggu kedatanganmu di rumahku ya, Tun!” Ucap Arini dengan mata berbinar.

“Jika untuk melakukan proses itu kembali, tidak, Rin. Terima kasih banyak.” Atun tersenyum.

“Hei… hei… mengapa kau jadi putus asa seperti ini. Ingat, Tun, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Allah tak akan suka.” Arini kembali memompakan semangat. “Ini biodata lelaki itu, pelajari dan istikharahlah… aku akan kembali ahad depan.” Arini tersenyum.

Kemudian ia pergi, menghilang tak ada kabar kembali. Hanya meninggalkan jejak berupa amplop coklat bertuliskan “Untuk Ukhtina Zaitun”.

Sepekan kemudian, Arini memenuhi perkataannya. Ia datang dan muncul tiba-tiba di depan pintu seperti kebiasaannya yang sudah-sudah. Sudah lama Atun memang salut pada sifat dan energy sahabatnya itu. Walau sudah beranak pinak dan berperan sebagai ibu rumah tangga, ia masih lincah beraktivitas.

Dan Atun pun menyambut baik kedatangan sahabatnya itu, wajahnya yang pias kini cerah berbinar. Dengan gamis kesayangannya sejak dahulu, Atun sudah siap untuk pergi bersama sang sahabat.

“Ini baru sahabatku… umpama mawar, tetap merekah di tengah duri. Mantap…” Arini kembali berceloteh. Atun tersenyum.

“Tunggu, Rin. Kau yakin dia mau menerimaku?” Tiba-tiba Atun kembali ragu.

“Apa yang membuatmu ragu. Apakah agamanya buruk menurutmu?” Tanya Arini.

Atun menggeleng.

“Kepribadiannya buruk menurutmu?”

Atun kembali menggeleng.

“Maka dari itu hilangkan keraguan mu, untuk urusan hasil itu mutlak urusan Allah. Kita hanya perlu ikhtiar dan berdoa maksimal.” Arini menenangkan.

===

Sesampainya Atun di rumah Arini, ternyata lelaki itu sudahlah datang. Atun sudah mengenalnya sejak lama.

Akhiy Thoriq, silakan sampaikan niat baik Antum.” Suami Arini membuka acara.

Atun sedikit terkejut memang. Thoriq adalah adik kelasnya sewaktu masih berada di sekolah menengah atas. Dahulu namanya bukanlah Thoriq, melainkan Roy. Siapa yang tak mengenalnya, sebab dahulu ia adalah siswa ternakal di sekolah. Sering berurusan dengan polisi karena kasus narkoba dan tawuran pelajar.

Lain dulu lain pula sekarang, Roy yang semula pembuat resah masyarakat, kini berguna bagi masyarakat banyak. Menjadi pengusaha muda sukses, membuka banyak lapangan kerja dan aktif di masyarakat. Kini namanya hijrah menjadi Thoriq. Matanya cerah menandakan kecerdasan dan kerendahan hati. Senyumnya selalu terkembang menggambarkan keramahan dan kelembutan jiwa. Sangat berbeda dengan Roy dahulu. Ah… Rencana Allah memang tak dapat ditebak.

Atun mulai kehilangan rasa kepercayaan diri. Sosok lelaki dihadapannya terlalu sempurna baginya.

Dengan nada yang tenang dan santun, Thoriq menyampaikan keinginannya untuk melamar Atun.

“Bismillah… saya hadir di sini, dengan niat baik insya Allah ingin melamar Ukhti Zaitun.”

Ruangan menjadi hening. Hingga beberapa menit kemudian…

“Tetapi ada yang ingin saya beritahukan sebelumnya…” Thoriq menggulung sedikit celana panjang sebelah kiri hingga betis kaki kirinya terlihat.

Semua terkejut, terutama Atun.

Kaki Thoriq adalah kaki palsu. Sejak kapan Thoriq cacat?

Atun memandang kearah Arini, meminta penjelasan. Arini pun sama terkejutnya. Arini memandang kearah sang suami, rupanya suami Arini pun tak tahu menahu persoalan ini.

Atun merasa tertipu, sebab tak ada penjelasan sama sekali tentang kaki Thoriq yang cacat. Mengapa sahabatnya tega mencarikan suami yang cacat untuk dirinya. Buruk sangka itu cepat sekali menyeruak. Atun cepat-cepat beristighfar.

“Apakah setelah melihat kondisi fisik ku ini, Ukhti Zaitun masih bersedia menerima lamaran ini?” Thoriq kembali memastikan.

Atun masih terdiam di atas kursinya. Tenggorokannya tercekat. Ego manusia bermain di sini. Siapa yang tak ingin terbaik untuk dirinya. Begitulah ego manusia. Atun jadi paham mengapa banyak lelaki yang menolaknya, mereka tentu ingin memiliki pasangan yang terbaik menurut mereka.

Atun terisak. Ia merasa menjadi wanita yang paling malang di dunia. Setelah berkali-kali mengalami penolakan, satu-satunya yang berniat tulus melamarnya adalah lelaki dengan kaki yang cacat.

Namun, alangkah lebih malang lagi bagi Atun, jika ia berputus asa dari rahmat Allah, dan menjadikan fisik dalam mencari pendamping lebih utama seperti orang-orang yang telah menolaknya.

“Bagaimana, ukhti…sudah ada keputusan? Atau kita pending terlebih dahulu untuk memikirkan kembali?” Tanya suami Arini.

Arini mengusap pundak Atun. Mengisyaratkan bahwa ia akan terus mendukung keputusan sang sahabat.

Atun terisak. “Terima kasih mas, telah bersedia melamarku untuk kau jadikan istri… aku… aku… insya Allah bersedia menjadi kaki mu.” Atun tergugu.

Ruangan seketika mengharu biru.

“Alhamdulillah… Allahu Akbar.”

Semua mengucap tahmid. Sesekali Thoriq mengucap takbir. Suami Arini memeluk Thoriq dan mengucapkan selamat. Begitu pun Arini dan Atun. Keduanya saling berpelukan dengan isak bahagia serta tahmid dan takbir yang mewarna.

“Terima kasih Dik Zaitun, dan maaf mengenai kakiku…” Thoriq melepas kaki palsunya.

Teruntuk yang hati-hati yang masih dalam ketidakyakinan,
Allah mendatangkan jodoh
di saat kita sudah dewasa
di mata-NYA.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 9,86 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sari Asma Anggar
Penulis berkulit sawo matang ini sudah menyukai dunia tulis menulis sejak masih berusia 8 tahun. Baginya, menulis merupakan suplemen jiwa. Alasan lain yang membuatnya menyukai dunia tulis menulis adalah Dengan tulisan, bisa jadi kita mampu mengubah peradaban
  • farhan elbana

    subhanallah….

Lihat Juga

Jika Allah Telah Memilihkan Jodohmu..