16:41 - Sabtu, 20 Desember 2014
Eko Prasetya, S.Pd.

Kita Sedang Berperang

Rubrik: Cerpen | Oleh: Eko Prasetya, S.Pd. - 19/01/13 | 11:30 | 06 Rabbi al-Awwal 1434 H

(Dok UKKI Unsoed)

(Dok UKKI Unsoed)

dakwatuna.com – Selepas Isya, aku langsung bergerak menuju sebuah masjid di sekitar jalan menuju kampusku. Jadwal biasa sudah menunggu, mengisi mentoring rutin adik-adik angkatan di jurusanku. Walaupun sebenarnya Aku juga masih banyak kekurangan, tapi kuberanikan diri membimbing mentoring mereka sambil diriku juga memperbaiki diri. Mereka hanya 4 orang sih, tapi yang namanya sudah menjadi kewajiban maka harus dijalankan. Sesampainya aku di masjid tersebut, yang sudah sampai baru 1 orang. Dan aku juga memaklumi kesibukan mereka menjadi mahasiswa tingkat awal tentu akan sedikit mempengaruhi jadwal kami ini. Mau tidak mau, ya aku harus menunggu dengan 1 orang yang sudah datang.

Namanya Ihsan, orangnya polos banget, sampai-sampai jika datang mentoring selalu berpakaian rapi, pakai sepatu, kacamata tebal, plus buku catatan untuk mencatat materi, dan tidak ketinggalan buku bacaan yang dibaca jika dalam keadaan senggang. Wah, aku saja sebagai kakak angkatan tidak begitu banget menjadi mahasiswa.

“Assalamualaikum, Ihsan? Sehat” tegurku kepada Ihsan.

“Wa’alaikumsalamwarohmatulloh, Alhamdulillah sehat kak.”, sambut Ihsan seraya menyambut jabat tangan dariku. Terlihat artikel yang sedang dipegangnya. Sepertinya artikel itu di print oleh Ihsan setelah dicopy dari internet, dan terlihat jelas judul artikel tersebut adalah “Pacaran yang Islami”. Entah siapa penulis artikel tersebut. Tapi sepertinya Ihsan sengaja datang duluan, ingin menanyakan hal yang sepertinya mengganjal di hatinya.

“Kak, saya mau nanya nih”, tanya Ihsan.

“Silakan Ihsan”, jawab ku sambil menerka-nerka pertanyaan apa yang bakalan di tanyakan Ihsan.

“Ini lho kak, pacaran yang Islami itu seperti apa ya kak?” tanya Ihsan dengan polosnya. Aku mewajarkan saja apa yang ditanya Ihsan karena Ihsan juga sepertinya tidak memiliki basic Islam yang kuat dan bukan juga dari kalangan Rohis sewaktu SMA dulu.

“Kenapa? Ihsan mau cari pacarnya?” jawabku sambil bercanda, dan ternyata berhasil membuat Ihsan tersenyum malu. Senyum Ihsan berbanding terbalik dengan pikiranku. Aku mulai berfikir keras untuk memberikan jawaban atas pertanyaannya itu karena sepertinya Ihsan orang yang polos dan takutnya jawabanku nanti akan membuat Ihsan enggan datang untuk mentoring lagi.

“Insya Allah pacaran Islami itu juga diajarkan kok dalam Islam, Ihsan. Cuma mungkin tidak seperti yang Ihsan pahami selama ini. Pacaran dalam Islam itu harus dilakukan setelah Menikah. Jika belum menikah, maka itu namanya zina.” Jelasku.

“Lho, kak. Dalam Artikel ini dijelaskan tentang pacaran dalam Islam di mana boleh berpacaran tetapi tidak boleh berdua-duaan tanpa didampingi mahramnya. Terus, salahnya pacaran yang seperti ini di mana ya kak?” tanya Ihsan lagi.

“Pacaran, walaupun didampingi oleh mahram ya saja aja tho Ihsan, tetap saja berkhalwat, tidak bisa menjaga pandangan, bahkan jika kita berkomunikasi lewat handphone, siapa yang jadi mahramnya. Mahramnya belum tentu tahu.” Jelas ku lagi, dengan berharap agar Ihsan tidak menganggapnya suatu pernyataan yang keras.

“Wah, gitu ya kak. Selama ini aku salah perkiraan. Trus kak, zaman sekarang ini pacaran sudah jadi kebiasaan bahkan sudah menjadi gaya hidup. Itu gimana kak?” tanya Ihsan lagi, seakan-akan dia belum bisa terima dengan penjelasan pertama tadi.

“Kita sekarang sedang berperang, Ihsan”, jawabku singkat. Yang pastinya akan memancing Ihsan untuk bertanya lagi.

“Berperang seperti apa Kak? Sepertinya negara kita Aman-aman aja lho kak”, tanya Ihsan, seperti yang sudah ku perkirakan.

“Bukan berperang yang itu Ihsan, tetapi perang pemikiran. Bayangin saja kondisi Agama kita sekarang ini. Banyak yang hanya mengambil sebagian saja dari Agama ini, bahkan ada yang tidak sama sekali. Media banyak menyajikan sesuatu yang tidak Islami, mengotori pikiran umat muslim. Sementara sumber informasi yang Islami semakin sulit di temukan untuk masyarakat awam. Islam mulai dilemahkan dengan cara yang sederhana dan sangat halus hingga umat Islam tidak sadar bahwa yang dilakukannya adalah dosa.” Jawab ku dengan tegas. “Nah, karena Ihsan sudah tahu, sekarang sudah menjadi kewajiban juga bagi Ihsan untuk menjaga kemurnian Islam, memberi informasi tentang Islam, dan Plus tidak boleh pacaran sebelum menikah”, tambahku dengan canda.

“Wah, ternyata seperti itu ya. Terima kasih ya kak. Hampir saja..”, Ihsan membalas.

“Hayo, hampir apa? “, tanyaku bercanda.

“Ya, gitulah kak”, tambah Ihsan.

“Insya Allah Ihsan bisa kok. Kakak percaya kepada Ihsan”, lanjutku sembari menirukan apa yang dikatakan Hokage keempat kepada anaknya, Naruto sewaktu kehilangan kendali atas kyubi, dalam serial animasi Naruto. Sambil berharap Ihsan belum pernah menontonnya. Dan ternyata berhasil membangun kepercayaan Ihsan terhadap pentingnya menjaga Kemurnian Islam.

Akhirnya 3 orang yang ditunggu-tunggu datang juga. Mentoring pun di mulai.

Ya Allah, luruskanlah jalan hamba-hambaMu yang tersesat. Kembalikan kami kepada jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya, bukan jalan yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.

Eko Prasetya, S.Pd.

Tentang Eko Prasetya, S.Pd.

Mahasiswa S2 Biologi UGM. Hamba Allah yang mencari keridhoan-Nya. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Topik:

Keyword: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (2 orang menilai, rata-rata: 10,00 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
82 queries in 1,788 seconds.