17:50 - Minggu, 20 April 2014
Cahyadi Takariawan

Jatuh Cinta Bisa Membutakan Mata Hati

Rubrik: Pendidikan Keluarga | Oleh: Cahyadi Takariawan - 19/01/13 | 11:30 | 06 Rabbi al-Awwal 1434 H

Suami Istridakwatuna.com - ”Saya sangat kaget Pak, ternyata suami saya selingkuh. Ia menjalin hubungan perselingkuhan dengan teman kerjanya”, ungkap bu Sinta* di ruang konseling Jogja Family Center (JFC). Ia menangis histeris saat menceritakan perempuan yang menjadi selingkuhan suaminya, karena ternyata iapun mengenalnya.

”Saya mengenalnya selama ini sebagai orang baik-baik saja. Ia bahkan beberapa kali silaturahim ke rumah kami, sehingga iapun mengenal keluarga kami dengan baik. Tidak menyangka ia tega merusak kebahagiaan keluarga kami”, lanjutnya dengan berlinang air mata.

Apa yang terjadi pada suami bu Sinta? Ternyata ia tengah jatuh cinta dengan teman kerjanya. Pak Dewa**, suami Sinta, bukanlah anak muda lagi. Usianya sudah 52 tahun, anaknya lima, bahkan sudah memiliki dua cucu. Uban di rambutnya menandakan ia sudah kenyang makan asam garam kehidupan. Namun, lelaki seusia dia, ternyata masih bisa merasakan jatuh cinta.

Rupanya jatuh cinta tidak mengenal usia. Bisa terjadi pada anak muda belia, bisa terjadi pada orang lanjut usia. Sebenarnya, bagaimana memahami fenomena jatuh cinta? Bagaimana Pak Dewa bisa jatuh cinta pada teman kerjanya, padahal teman itu juga sudah memiliki suami dan anak-anak?

Memahami Perubahan Perasaan

Jatuh hati atau jatuh cinta, saya sebut sebagai tahap ketiga dari perasaan manusia kepada pasangan jenisnya. Ini untuk menyederhanakan pembagian atau pentahapan perasaan. Saya sebut sebagai pasangan jenis, karena Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan adalah berpasangan, bukan berlawanan. Jadi istilah yang tepat untuk laki-laki dan perempuan bukan lawan jenis, melainkan pasangan jenis.

Tahap pertama dari perasaan seseorang kepada pasangan jenisnya adalah simpatik atau ketertarikan hati, yaitu respon dan apresiasi positif kepada pasangan jenis. Misalnya seorang perempuan mengatakan, “Saya senang bergaul dengan Budi, karena orangnya baik dan bisa dipercaya”. Atau seorang lelaki mengatakan, “Saya senang berteman dengan Lina, karena orangnya ramah dan pandai berkomunikasi”.

Perasaan tahap pertama ini bersifat masih sangat umum, walaupun sudah mengarah kepada respon dan apresiasi yang positif. Sebab di sisi lain ada respon negatif, misalnya ungkapan seorang perempuan ”Saya jengkel sekali dengan Iwan. Orangnya tidak bisa dipercaya dan semau sendiri”. Atau ungkapan seorang lelaki, ”Saya tidak suka berteman dengan Reni, karena orangnya sombong dan tinggi hati”. Nah, ini contoh perasaan yang tidak simpatik.

Apabila perasaan simpatik ini dipelihara, ditambah dengan adanya interaksi dan komunikasi yang rutin serta intensif, maka memiliki peluang untuk meningkat kepada tahap kedua, yang saya sebut sebagai kecenderungan hati. Pada tahap ini, seseorang mulai mendefinisikan perasaannya kepada pasangan jenis, namun belum sampai memastikan. Misalnya seorang lelaki mengatakan, ”Saya cocok kalau menikah dengan Wati, dia adalah tipe perempuan idaman saya”. Artinya, lelaki ini telah memiliki kecenderungan hati kepada Wati.

Demikian pula jika seorang perempuan mengatakan, ”Saya mau menjadi istrinya Darmawan. Dia lelaki harapan saya”. Artinya, perempuan ini telah memiliki kecenderungan hati kepada Darmawan. Pada tahap kedua ini, perasaan semakin kuat pada pasangan jenis yang diharapkan akan menjadi pendamping hidupnya. Sifat perasaan pada tahap kedua ini masih cenderung rasional, masih bisa dikendalikan, dan masih bisa menerima masukan.

Apabila kecenderungan hati ini dipelihara, ditambah adanya interaksi dan komunikasi rutin serta intensif, memiliki peluang untuk memasuki tahap ketiga, yaitu jatuh hati atau ketergantungan hati. Sebagian orang menyebut dengan falling in love, jatuh cinta. Pada tahap ini, seseorang telah memastikan hubungan dengan pasangan jenis yang diharapkan menjadi pendamping hidupnya. Seorang lelaki mengatakan, ”Dian adalah satu-satunya perempuan ideal bagiku, tiada yang lain. Saya akan menikahinya”. Atau seorang perempuan mengatakan, ”Karim adalah satu-satunya lelaki ideal bagiku. Rasanya aku tak sanggup berpisah dengannya”.

Ya, inilah jatuh hati. Perasaan pada tahap ketiga ini tidak terdefinisikan, sulit dikendalikan, dan bercorak tidak rasional. Vina Panduwinata mengatakan, ”Ternyata asmara tak sama dengan logika”. Siti Nurhaliza mengungkapkan, jatuh cinta itu ”Tidur tak lena, mandi tak basah”. Saya menyebut tahap ini sebagai jatuh hati, karena hatinya telah jatuh ke pangkuan pasangan jenis yang diidamkannya. Saya sebut juga sebagai ketergantungan hati, karena hati telah tergantung kepada seorang calon pendamping hidup. Sudah sulit untuk berpindah atau berpaling ke lain hati.

Perilaku Tidak Rasional

Pada tahap ini, seseorang sudah sulit menerima masukan dari orang lain. Apabila dikatakan kepada seorang perempuan, ”Hati-hati kamu berinteraksi dengan Andi, dia itu tipe lelaki playboy, suka berganti-ganti pacar”. Pada tahap ketiga ini, perempuan tersebut akan melakukan pembelaan secara emosional, tidak rasional. Biasanya dia akan mengatakan, ”Kamu tidak mengerti siapa Andi. Aku yang lebih mengerti tentang Andi. Dia tidak seperti yang kamu tuduhkan”.

Jika lelaki telah berada pada tahap ketiga ini, ia akan sulit mengontrol perilakunya kepada perempuan yang dicintai. Jika ada yang memberi nasihat, ”Ingat, kamu kan sudah punya anak istri. Mengapa kamu masih mencari perempuan lain lagi? Apalagi dia bukan tipe perempuan yang cocok untuk kamu,” maka lelaki ini akan melakukan pembelaan. ”Kamu selalu mencurigai orang lain. Dia itu perempuan terbaik yang pernah aku jumpai. Dia bisa mengerti kemauanku, tidak seperti istriku yang tidak pernah mengerti dan bisanya hanya menuntut”.

Demikian pula ketika seorang perempuan berada pada tahap ketiga ini, ia sangat sulit menjaga perasaannya. Keinginan memiliki bahkan menguasai lelaki yang menjadi kekasihnya telah menggelapkan hati dan pandangan matanya. Walau ia telah memiliki suami dan anak-anak, namun ia tidak pedulikan mereka semua. Bahkan ia tidak peduli resiko yang akan dihadapi apabila perselingkuhannya tersebut diketahui suami dan anak-anak. Ia berada dalam suasana hati yang sangat sulit menerima masukan dari orang lain.

Pada tahap ketiga ini, segala sesuatu yang dimiliki, disukai atau kebiasaan seseorang yang dicintai, akan selalu menjadi perhatian secara spontan. Misalnya lagu, makanan, pakaian, warna yang disukai orang yang dicintai, akan selalu menjadi perhatiannya. Suara motor, suara mobil, bahkan bunyi klakson akan sangat dikenalinya. “Itu bunyi klakson mobil kekasihku”, begitu respon spontan saat mendengar bunyi klakson yang khas.

Seseorang yang jatuh cinta memiliki energi, semangat dan pengorbanan yang besar, tanpa perhitungan. Dia bisa telepon berjam-jam, yang berarti menghabiskan banyak pulsa dan banyak waktu, namun tidak terasa dan tidak dihitung sebagai kerugian. Dia tidak merasa capek untuk mengantar kekasihnya ke manapun pergi. Pada titik ini, seseorang menjadi berperilaku tidak rasional, walaupun dalam kehidupan normal ia adalah orang sangat mengedepankan rasionalitas.

Hati-hati Menjaga Hati

Jangan bermain-main dengan hati dan perasaan Anda terhadap pasangan jenis. Orang Jawa mengatakan “sembrana agawe kulina”, atau “witing tresna jalaran saka kulina”. Semula hanya iseng (sembrana), tidak serius. Mungkin sekadar bercanda, bercerita, lama-lama menjadi kebiasaan dan terbiasa (kulina). Jika sudah berlanjut menjadi kebiasaan, maka Anda akan berada dalam suasana keterjebakan perasaan. Dua hati bertaut yang sangat rumit suasananya, terutama pada pasangan kekasih yang sama-sama sudah berkeluarga.

Ingat suami, ingat istri, ingat anak-anak, ingat keluarga besar, ingat posisi Anda di tempat kerja dan masyarakat. Hubungan gelap seperti itu bisa menghancurkan semua hal yang sudah Anda bangun bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Kredibilitas sebagai pemimpin, kehormatan sebagai suami, penghargaan sebagai orang tua, kebanggaan keluarga besar, posisi dan jabatan di tempat kerja, semua bisa hilang dan sirna karena cinta buta. Sekejap saja hilangnya.

Saya bertemu seseorang yang dicopot dari tempat kerjanya karena affair di kantor. Saya pernah pula bertemu seseorang yang dikeluarkan dari organisasi karena cinlok, padahal ia telah merintis organisasi tersebut sejak kecil hingga sekarang sudah sangat besar. Saya bertemu pula dengan seseorang yang kehilangan jabatan, kehilangan keluarga, kehilangan kepercayaan masyarakat, karena cinta buta pada istri orang lain.

Hati-hatilah menjaga hati. Jangan mudah jatuh hati. Ingat jatuh cinta sanggup membutakan mata hati Anda.

* Bu Sinta, dan ** Pak Dewa, bukan nama sebenarnya.

Cahyadi Takariawan

Tentang Cahyadi Takariawan

Senior Editor di PT Era Intermedia, Pembina di Harum Foundation, Direktur Jogja family Center, Staf Ahli Lembaga Psikologi Terapan Cahaya Umat. Alumni Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM). [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Samin Barkah, Lc

Topik:

Keyword: , , , , , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (7 orang menilai, rata-rata: 9,43 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • 3505 hits
  • Email 3 email
Iklan negatif? Laporkan!
71 queries in 1,115 seconds.