Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Keterpaksaan dan Hikmah

Keterpaksaan dan Hikmah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Tidak semua keterpaksaan akan berakhir dengan duka, tekanan batin atau sejenisnya. Keterpaksaan bisa menjadi awal sebuah cerita indah kehidupan atau bahkan ia akan menjadi saksi sejarah akan sikap ksatria, kegagahan dan ketaatan yang absolut. Keterpaksaan yang harus dihadapi Ikrimah bin Abu Jahl di masa Fathu Makkah (pembebasan Makkah) adalah awal dari kisahnya yang gemilang. Fathu Makkah adalah masa kala Islam sudah memiliki kemuliannya, kala itu Islam memiliki kaum muslimin yang teguh dan telah melewati berbagai uji. Ujian itu berbentuk Ghazwah yang berurutan sedari Badar hingga dahsyatnya perang Ahzab. Ujian itu berbentuk hasutan dan konspirasi Yahudi melalui bani Nadhir, Quraidah dan Qainuqa’. Ujian itu juga berbentuk keteguhan akan perjanjian yang dibuat di Hudaybiyah, walaupun setelahnya kaum kafir Makkah yang mengakhiri sendiri perjanjian itu dengan membunuh kaum muslimin.

Selepasnya, fathu Makkah adalah bentuk nyata akan keberanian dan proses yang telah lama dinanti untuk kembali ke Makkah dengan rasa syukur tak terkira, hingga lidah Rasul saw. basah dengan syukur dan menunduk kala masuk ke Makkah untuk menaklukkannya dengan penaklukan yang tercatat dalam sejarah sebagai penaklukan yang damai lagi indah. Di Makkah tiada lagi perlawanan, mereka pasrah terhadap apa yang akan dilakukan oleh kaum Muslimin. Mereka pasrah dengan menumpang rumah Abu Sufyan, mereka pasrah dengan masuk ke rumah-rumahnya dan mereka pasrah dengan berada di Ka’bah. Karena dengan mereka berdiam di sana, artinya mereka taat akan permintaan kaum muslimin dan mereka tidak akan dianiaya. Selepasnya, Rasul saw. berujar,

“Siapa yang masuk masjid maka dia aman, siapa yang masuk rumah Abu Sufyan maka dia aman, siapa yang masuk rumahnya dan menutup pintunya maka dia aman.”

Di dalam diri Ikrimah kala itu ada rasa ketidakpercayaan dan masuk Islam bukanlah keinginannya, hingga:

“Dia naik kapal di lautan, tiba-tiba datanglah badai, maka para awak kapal berkata: Ikhlaskanlah (doa hanya kepada Allah) karena tuhan-tuhan kalian tidak akan bisa berbuat apa-apa di sini.” Maka Ikrimah berkata: “Demi Allah, jika tidak ada yang bisa menyelamatkanku di lautan ini kecuali keikhlasan (kepada Allah), maka tidak akan ada yang bisa menyelamatkanku di daratan melainkan Dia. Ya Allah jika saya berjanji kepadamu, jika Engkau menyelamatkanku, saya akan datang kepada Muhammad, lalu saya akan meletakkan tanganku pada tangan beliau, dan niscaya saya akan dapati beliau sebagai seorang yang pemaaf lagi mulia.” Lalu Ikrimah pun datang dan masuk Islam.” (HR.Nasa’i)

Keterpaksaan dan jalan keselamatan pada akhirnya, telah membuatnya masuk ke dalam sederetan ksatria. Kesatria yang agaknya datang terlambat, ia terlambat memadu rasa akan kesungguhan membela agama. Namun semuanya ia ganti dengan andil yang besar di zaman Khalifah Abu Bakr RA, kala di perang Riddah (perang melawan kaum murtad) ia menjadi salah satu sahabat yang paling menonjol kesungguhan dan kelihaiannya.

Keterpaksaan itu memiliki banyak contoh dalam kehidupan, terserah bagaimana kita bersikap setelahnya. Semoga ada keterpaksaan untuk rajin dalam diri, semoga ada keterpaksaan untuk beramal dalam diri, semoga ada keterpaksaan untuk bersungguh-sungguh dalam diri. Karena manusia jika ia tidak ditekan atau terdesak, lambat nian ia bergerak.

Agar tiada penyesalan, layaknya Qana’an yang tak mau mengikuti paksaan Ayahandanya (Nuh AS):

Hud: 42-43

وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَىٰ نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ [١١:٤٢

Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir”.

قَالَ سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ ۚ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَن رَّحِمَ ۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ [١١:٤٣

Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.

Terus membuat keterpaksaan yang membangun!

Wallahua’lam.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 3,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sekretaris Jenderal FORMMIT (Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan) 2011/12. NSYSU, Taiwan

Lihat Juga

“Indahnya Berbagi”, Terinspirasi dari Film Duka Sedalam Cinta