Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Dakwah Kampus, Dakwah KITA!

Dakwah Kampus, Dakwah KITA!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (donialsiraj.wordpress.com)
Ilustrasi (donialsiraj.wordpress.com)

dakwatuna.com – Gambaran kehidupan masyarakat kampus yang juga memiliki perilaku sosial, politik, dan kebudayaan menjadikan dunia kampus layak disebut sebagai sebuah miniatur negara. Karena keberadaan mahasiswa yang merupakan elemen utama dunia kampus -meliputi segala aktivitas dan interaksinya- dapat memberikan pengaruh pada perubahan sosial di kehidupan masyarakat. Peran mahasiswa sangatlah strategis dalam menentukan karakter sosial masyarakat di masa depan.

Berangkat dari kenyataan inilah, maka melalui aktivitas dakwah di dunia kampus diharapkan nilai-nilai dakwah Islam dapat menjalar ke tengah-tengah masyarakat. Eksistensi dakwah di dunia kampus harus tetap dipelihara, agar proses transfer nilai-nilai dakwah Islam ke masyarakat dapat terus berlangsung, hingga terciptanya masyarakat madani. Tak peduli siapa yang menginisiasi, karena dakwah adalah hak setiap pribadi mukmin. Tak ada spesialisasi ataupun spesifikasi khusus yang dijadikan standar bagi individu ataupun kelompok untuk kemudian baru “diizinkan” agar dapat menyeru umat pada kebaikan. Karena mengajak manusia kepada kebaikan (menuju agama Allah) merupakan salah satu bentuk ibadah yang seyogianya setiap pribadi yang beriman berhak untuk menunaikan ibadah in. Bahkan dakwah merupakan sebuah perkataan yang paling baik bagi siapa saja yang menyampaikannya.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru menuju Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (Fushshilat: 33)

Karena dakwah merupakan ibadah, maka tidak ada larangan bagi siapapun untuk dapat beribadah dalam rangka mempersiapkan “bekal”nya. Tidak batasan bagi siapapun yang ingin berpartisipasi dalam upaya memenangkan dakwah. Dan tidak perlu adanya pengkotak-kotakan antara “orang luar” dan “orang dalam” untuk kemudian menolak keberadaan orang-orang yang juga menginginkan perbaikan. Karena ikatan dakwah adalah ikatan aqidah yang tidak terbatas oleh administratif kewilayahan. Maka siapapun berhak bekerja untuk dakwah; selama keikhlasan dan kejujuran yang menjadi landasan, selama tidak ada nama lain selain nama Islam yang ingin dimenangkan!

Inilah sebentuk harapan. Ketika semua barisan dakwah kampus -dengan berbagai corak gerakan yang dimiliki- bersinergi untuk menyeru umat pada kebaikan, maka akan disaksikan sebuah kehidupan kampus yang indah yang senantiasa menggema gaung-gaung dakwah. Sekali lagi tak perlu melihat apakah sebuah gerakan yang ada merupakan gerakan internal kampus (LDK) ataupun eksternal (seperti halnya KAMMI). Karena amanah dakwah sama sekali tak bersifat parsial. Tak ada satu pun lembaga yang berhak melegitimasi dirinya sebagai satu-satunya pelaku dakwah, dan tak ada satu pun lembaga yang berhak mencekal pergerakan dakwah.

“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.” (Al-Anfal:47)

Benar, menghambat ataupun mencekal suatu upaya dakwah dengan tujuan tertentu sama sekali tidak dibenarkan. Kecuali bagi gerakan “dakwah” yang tak lagi memahami konsekuensi syahadat, yang tak meyakini rukun iman dengan sungguh-sungguh, dan tak mengamalkan rukun Islam dengan menyeluruh. Bahkan gerakan dakwah dengan aqidah meleset seperti itu harus benar-benar dipunahkan, agar keberadaannya tak lagi menyamarkan kebenaran nilai-nilai dakwah Islam. Namun selama tidak ada ada penyelewengan, maka tidak perlu adanya upaya-upaya penyesatan citra dakwah suatu gerakan.

“Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-A’raaf:86)

Ramainya pergerakan dakwah kampus seharusnya ditanggapi dengan penuh kesyukuran. Bukankah dengan semakin banyaknya jala yang ditebar akan semakin besar peluang untuk memperoleh hasil yang maksimal? Harapannya, kesibukan dari setiap gerakan dalam berdakwah akan menjadikan masyarakat kampus akrab dengan dakwah, sehingga usaha mengalirkan nilai-nilai kebaikan Islam ke tengah masyarakat dapat berjalan mudah…Semoga.

About these ads

Redaktur: Samin Barkah, Lc., ME

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Mujahid Pena

Lihat Juga

Ilustrasi. (collegeaffairs.in)

Membentuk Karakter Pemimpin yang Islami Sejak Dini