Home / Dasar-Dasar Islam / Tazkiyatun Nufus / Mengapa Ibadah Hambar?

Mengapa Ibadah Hambar?

Ilustrasi (jr-photos.com)
Ilustrasi (jr-photos.com)

dakwatuna.com – Mengapa kebanyakan kita sangat tidak mudah untuk bisa merasakan nikmatnya keimanan, lezatnya ketaatan, khusyuknya peribadahan dan manisnya amal kebajikan? Umumnya karena level keberagamaan yang masih bersifat setengah-setengah, atau bahkan lebih rendah lagi.

Level dan sifat keberagamaan mayoritas kita umumnya masih berada di tataran seremoni (semangat peringatan-peringatan), atau formalitas, atau maksimal wacana pemikiran teoritis belaka. Padahal keimanan dan keislaman sejati itu seharusnya benar-benar bisa merasuk ke hati, menyatu dengan jiwa, dan mewujud dalam rasa cinta dan ridha nan nyata.

Agar bisa merasakan nikmatnya amal saleh dan khusyuknya ibadah, kita memang harus beragama setotal mungkin. Dan syarat mutlaknya adalah, hawa nafsu harus mampu ditundukkan dan dikendalikan.  Karena selama masih ada hawa nafsu tertentu yang secara permanen atau hampir permanen selalu diperturutkan, selama itu pula sikap ogah-ogahan akan senantiasa menyertai pelaksanaan setiap amal saleh dan penunaian setiap ibadah. Karena umumnya ketaatan itu memang masih disikapi sebagai beban berat yang harus ditanggung dan dilepaskan, dan belum dirasakan sebagai kebutuhan hidup yang dirindukan rasa nikmatnya dan buah lezatnya.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan (secara total), dan janganlah kamu turut langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqarah: 208)

Dan Baginda Sayyiduna Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): Tak sempurna iman seseorang dari kalian sampai hawa nafsunya tunduk mengikuti ajaran yang aku bawa (Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam kitab Al-Arba’in An-Nawawiyah: Hadits hasan shahih yang kami riwayatkan dalam kitab Al-Hujjah dengan sanad yang shahih).

Dalam hadits lain, Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda (yang artinya):

“Telah bisa merasakan nikmat/lezatnya iman, orang yang telah ridha terhadap Allah sebagai Tuhan (nya), ridha terhadap Islam sebagai agama (nya) dan ridha terhadap Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam) sebagai rasul (nya).” (HR. Muslim dari Al-‘Abbas radhiyallahu ‘anhu).

Dan di dalam riwayat yang lain lagi Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya):

Ada tiga hal di mana jika ketiganya ada dalam diri seseorang, maka ia bisa merasakan manisnya iman, yaitu: 1). Jika Allah dan Rasul-Nya telah ia cintai melebihi kecintaannya terhadap selain keduanya; 2). Jika ia mencintai seseorang benar-benar hanya karena Allah; dan 3). Jika ia benci untuk kembali kepada kekufuran seperti kebenciannya andai ia dilemparkan ke dalam api.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu).

Jadi rumusnya adalah: Tak memperturutkan hawa nafsu/menundukkan dan mengendalikannya = tak mengikuti langkah-langkah syetan = beriman dengan sepenuh rasa cinta hati dan ridha jiwa = berislam secara total = manisnya beriman, nikmatnya berislam dan lezatnya berketaatan!

Sedangkan rumus sebaliknya ialah: Memperturutkan hawa nafsu = mengikuti langkah-langkah syetan = beriman sebatas teori logika, tak turun ke hati, dan tak sampai menjiwai = berislam secara setengah-setengah = beriman sebagai beban, beribadah terasa hambar, dan berketaatan terpaksa dan menjenuhkan!

Redaktur: Samin Barkah, Lc. ME

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 9,56 out of 10)
Loading...Loading...
Ahmad Mudzoffar Jufri
Lahir di Tepi Bengawan Solo, Widang, Tuban, Jawa Timur. Menempuh pendidikan di LPBA / LIPIA, Jakarta; S-1, Jurusan Hadits, Fakultas Ushuluddin, Imam Muhammad ibn Saud Islamic University, Riyadh, Saudi Arabia; dan S-2, Jurusan Dakwah, Fakultas Dakwah, Imam Muhammad ibn Saud Islamic University, Madinah, Saudi Arabia. Saat ini aktif sebagai Pengasuh Pesma (Pesantren Mahasiswa) Ma’had Ukhuwah Islamiyah, Surabaya; Anggota Dewan Pembina Yayasan Ukhuwah Islamiyah, Surabaya; Dewan Pembinan Yayasan KPI (Kualita Pendidikan Indonesia), Surabaya; Pengurus IKADI (Ikatan Da’i Indonesia) Jawa Timur; Anggota Dewan Syariah LMI (Lembaga Manajemen Infaq); Anggota Dewan Syariah Griya Al Qur’an; dan Nara sumber program Tabassham dan Family Talk / Bincang Keluarga Sakinah, Radio 93.8 Sham FM Suara Muslim Surabaya.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Foto: unipd-centrodirittiumani.it)

Update Status Ibadah di Media Sosial, Riyakah?