22:52 - Jumat, 19 September 2014
Multazam Zakaria

Dingin Tanpa Penghayatan; Ada yang Terlupa

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: Multazam Zakaria - 17/01/13 | 12:30 | 04 Rabbi al-Awwal 1434 H

Bismillahirrahmanirrahim

Ilustrasi. (inet)

Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com - Kematian hati, banyak orang yang tertawa sedang maut mengintainya, banyak orang yang cepat datang ke shaf shalat tapi ternyata cepat pula dia pergi. Dingin tanpa penghayatan. Banyak orang yang sedikit beramal tapi disebut-sebutnya banyak sekali, merendahlah.! Engkau akan seperti bintang gemintang berkilau dipandang orang di atas liat air dan sang bintang pun jauh tinggi di langit. Janganlah seperti asap yang mengangkat diri tinggi di langit padahal dirinya rendah hina.” (Sang Murabbi)

Sangat disesalkan bila dada-dada kita ternyata hanya disesakkan oleh mimpi-mimpi yang mendominasi tanpa menyadari kehadiran dan keterlibatan Allah dalam setiap pencapaian mimpi itu. Kita kadang terlalu fokus pada hal-hal yang hanya bersifat material dan teoritis untuk meraih mimpi itu. Saya sering tertawa sekaligus sedih melihat diri saya dan para pemimpi yang merindukan kesuksesan, tapi hanya fokus dengan buku, materi kuliah, mengerjakan tugas, dan sejenisnya. Jujur, ada kebekuan selama ini yang terasa. Ada sesuatu yang sepertinya terlupakan. Was-was, saya pun mulai mengingat-ingat meski sulit sekali menemukan benang merahnya. Butuh bantuan sunyi malam untuk merenunginya.

ULIL ALBAB, subhanallah… tiba-tiba kata ini hadir dalam sepi. Aku mulai ingat sedikit demi sedikit, ada hal pokok dan unsur utama kesuksesan yang selama ini kita lupakan. Terlalu sibuk kita mengurusi akal barangkali itu penyebabnya. “Mereka adalah orang-orang yang selalu ingat kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan pada saat berbaring. Dan mereka berfikir terhadap penciptaan langit dan bumi.” (Al-Qur’an). Begitulah Allah sebutkan ciri ulil Albab itu dalam al-Qur’an.

Bacalah kembali surat Allah yang telah Ia kirim untuk kita tapi sering kita lupa dan abai. Bacalah, lihatlah betapa Allah menempatkan fungsi akal pada posisi yang kedua. Kita salah kaprah, selama ini kita menyangka akallah yang paling berperan dalam kesuksesan kita. Selama ini kita menyangka, orang yang cerdas adalah orang cerdas akalnya. Hanya itu, ternyata tidak. Peran hatilah yang pertama kali disebutkan Allah dalam surat-Nya mengenai karakter ulil Albab itu. Kecerdasan hati, setelah itu barulah kecerdasan pikiran. Lihatlah kembali, betapa Allah urutkan dengan rapih dan kita bisa buktikan kebenarannya. Kita dapat membandingkan sendiri. Kecerdasan akal memang lebih berperan jika yang kita inginkan hanya uang banyak dan kemegahan dunia, namun cukupkah? Coba Tanya kembali diri kita, apakah kemegahan dan uang banyak itu pasti memberikan kita kebahagiaan? Bukankah yang paling berharga di dunia ini adalah kebahagiaan? Lalu bijakkah namanya jika kita hanya fokus dan menghabiskan energi yang kita miliki untuk hanya meraih sesuatu yang belum tentu memberikan kita kebahagiaan? Tidak, tidak bijak.

Maka yang terpenting, selain kita menyibukkan diri dengan buku-buku pelajaran jangan lupa dengan Buku Sang Tuhan. Cerdaskanlah akal kita, tapi yang terpenting adalah mencerdaskan hati kita. Kecerdasan hati yang akan mengantarkan kita pada sejuknya taman kehidupan. Kecerdasan hati yang akan memahamkan kita betapa bermakna hal-hal di sekeliling kita yang selama ini kita acuh. Dan kegersangan hatilah yang akan menyeret kita merasakan gerah dan pernak-pernik kegersangan jiwa.

Maka tugas kita sekarang tidak cukup hanya menangis dan menyesali masa lalu, hal itu hanya akan membuat kita sedih dan pilu. Mari bangun kembali hubungan kita dengan Allah yang selama ini kita tidak menyadari keruntuhannya. Mari biasakan diri kita untuk bernostalgia dengan-Nya di sepi dan sunyi malam, agar hubungan kita dengan-Nya semakin mesra. Tidak ada penolakan bagi yang saling mencinta. Mintalah apa yang ingin kita minta, dan yakinlah permintaan itu akan segera kita dapatkan. Mengapa tidak, kita meminta pada Dzat yang kita cinta dan Mencintai kita. Mari mendekat kembali kepada-Nya yang selama ini kita tidak menyadari terus menjauhi-Nya, menyembah-Nya tapi justru melupakan-Nya, dingin tanpa penghayatan.

Tunggu apalagi? Segera nikmati kesejukan itu, sirami tanah gersang hati ini, sekarang juga. Berdzikirlah..!

Wallahua’lam.

Multazam Zakaria

Tentang Multazam Zakaria

Mahasiswa Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI - Depok Prodi Manajemen Perbankan Syariah. Anak ke-7 dari 7 bersaudara. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Topik:

Keyword: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (4 orang menilai, rata-rata: 9,75 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
114 queries in 1,860 seconds.