Home / Pemuda / Cerpen / Siapakah Pemilik Hati yang Hidup??

Siapakah Pemilik Hati yang Hidup??

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

اَصْحَابُ القُلُوبِ الحَيِّ لَيْسَ فِيْ حَيَاتِهِمْ الإِجَازَةُ

Ilustrasi (storylifeme.blogspot.com)
Ilustrasi (storylifeme.blogspot.com)

dakwatuna.com – Angkot warna putih itu melaju kencang menembus malam, sungguh Allah menyampaikan rizkiNYA untuk dia malam ini melalui kami, Nampak sedikit keceriaan di wajah bapak sopir itu setelah salah satu rombonganku melambaikan tangan untuk menyetop angkutannya dan masuk ke gang dekat asramaku. Aku yakin sudah sejak pagi bapak tua itu mengayuh roda penopang ekonomi keluarganya demi kesejahteraan mereka, aku-pun berujar dalam hati, “semoga Allah memudahkan urusanmu bapak…..Aamiin.”

 

Seminggu sebelum *Aakhirud Dawam, aku mengagendakan liburanku untuk merampungkan skripsiku di kampus cabang yang ku ambil setahun yang lalu, sudah aku atur waktu sedetail mungkin mulai dari agenda pribadiku sampai agenda menyambung silaturahim dengan teman-temanku.

Tapi 2 hari sebelum hari yang ditunggu para mahasiswa untuk berlibur itu, aku dikejutkan dengan kabar bahwa akan ada agenda wajib dari asrama yang ku diami delapan bulan ini,

“Fah (panggilanku), kita akan dikirim ke RQ WAMY lho liburan ini, kita ditargetkan dapat 2 juz hafalan selama 2 minggu,” ujar kak Iyam salah satu teman asramaku,

“Bener tu kak? kira-kira aku boleh izin gak ya?” ujarku teringat target agenda-agendaku..

“Iyya ne, gimana juga denganku, aku sudah di taggkin (pesenin) bapak suruh pulkam, lagian alasanku syar’i lho,” tanggap temanku yang beberapa hari yang lalu mengabarkan akan menjalankan operasi,

“Waduh ane juga gak tahu ukh, ini kabar dari *musyrifah semalem, coba aja anti lobi ustadzah yeni (penanggung jawab asrama kami).

Aku hanya menghela nafas, “Rabbi berikan jalan terbaikmu!!!!!!”

Aku lihat satu temanku itu mondar mandir, sejak dia mendapat informasi baru tersebut, terlihat bersit rasa gelisah di wajahnya, dia bingung harus bagaimana, dihadapkan pada 2 tuntutan yang harus di penuhinya, dia berusaha menelpon dan meng-sms penanggung jawab asrama.

“Gimana luth sudah ada izin dari ustadzah?” ujarku seraya harap dia mendapat *rukhsoh

“Belum ada jawaban kak, gimana ya ane jadi gak enak rasa ne” ujarnya yang memperhalus pernyataan suudzonnya.

Ahad malam, musyrifah memutuskan kita semua berangkat tanpa menerima alasan apapun dari setiap anggota asrama mau itu alasan syar’i atau tidak, selepas Isya’ kita memborong barang-barang yang diperlukan selama di sana.

“Akhwat, laa tansayna Ihmilnal Quran (jangan lupa bawa Al-Quran)!” si Sarah nyeletuk di tengah-tengah kita sibuk memasukkan barang-barang pribadi.

“Iyya, jangan sampai ingat bawa *malaabis, lupa bawa Quran, he…he” Tanggap cunif anak pulau sebelah itu.

Aku dan teman-teman asramaku hanya menjalani instruksi penanggung jawab asrama, karena kita diikat dan dituntut untuk terus berkomitmen selama 2 tahun ke depan, demi memenuhi visi misi PPMU (nama asrama kami), meski kita kadang harus mengorbankan sisi lain agenda kita.

Allah menjadi saksi perjalanan kita malam itu, tidak ada lagi gundah dan tiada juga hati yang berat menjalani misi bekal dakwah ini,

“ALLAHUL MUSTA’AN !!!!”

3 hari berlalu kami jalani program tahfidz itu, berbagai macam sinyal positif baru  kami rasakan, setelah  berada di lingkup lingkungan Al-Quran, kami mulai bisa lebih meningkatkan kualitas keimanan kami, selaksa mentadabburi banyaknya kekurangan diri dalam peran dakwah agama Allah ini.

Untuk 4 hari kemudian kami menyempatkan berlabuh di asrama kembali menyambut hari besar Islam Idul Adha, Semoga adanya kegiatan luar biasa ini menjadikan kita senantiasa berjalan di jalan LurusNYA, Aamiin

“Teman-temanku di RQ (Rumah Quran) WAMY, aku akan kembali masuk di lingkunganmu, ayo kita bangkitkan semangat membumikan Al-Quran pedoman rahmatan lil ‘aalamiin”.

Catatan Kaki:

*Akhirud Dawam: akhir rutinitas kampus

*Rukhsoh: Keringanan

*Malaabis: Pakaian

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 8,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Lahir tahun 1991. Aktifis KAMMI komisariat LIPIA yang juga sudah mulai bergabung di KAMMI Jakarta. Mahasiswa Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA). Aktif di forum FKMSB (forum alumni), maupun kumunitas social KAISA (komunitas pecinta dan pemerhati anak bangsa). Anggota PPMU (Program Pembinaan Mahasiswa Unggulan) WAMY (World Assambly Moslem of Youth).

Lihat Juga

pancasila

Reaktualisasi Pengamalan Sila Pertama Pancasila dalam Kehidupan Sosial