18:57 - Sabtu, 25 Oktober 2014

Perempuan Sederhana Itu Kupanggil Ibu

Rubrik: Puisi dan Syair | Oleh: Qonita Al-Zaheenah - 14/01/13 | 10:30 | 01 Rabbi al-Awwal 1434 H

 

Ilustrasi (inet)

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com

Perempuan biasa nan sederhana itu ku panggil ibu
Wanita yang telah menyediakan rahimnya untuk hidupku
Membawa ke mana pergi meski teramat sering kepayahan
Sembilan bulan lamanya
Wanita yang telah berjuang bertaruh nyawa tuk hidupku
Hadirku adalah bahagianya, senyum tulus rekah menyambut
Meski nantinya aku hanya akan menambah pekerjaan bagimu
Tapi tak pernah aku, kami, dianggap beban
Bagimu… aku, kami…adalah anugerah titipan terindah

Perempuan biasa nan sederhana itu ku panggil ibu
Wanita mulia, madrasah awal kami anak-anaknya
Guru pertama dan utama yang membentuk kami
Kenalkan pada Robb Yang Maha
Ajari kami menghamba, menuntun kami dirikan shalat
Mengeja ayat-ayat dalam lisan dan laku
Ajari kami mencinta dari apa-apa yang di cipta
Ajari kami huruf, angka, membaca, menulis dan berhitung
Ajari kami tentang hidup dan kehidupan

Perempuan biasa nan sederhana itu ku panggil ibu
Wanita yang mendidik penuh cinta
Meski untuk sesaat…terkadang ada keluh di antara lelah dan penatmu
Ku mengerti…
Engkau wanita kuat, meski di tengah badai kesulitan hidup yang menghimpit
Tetap curahkan cinta dan kasih sayang tulusmu
Meski tertatih, terseok, tersaruk…kau upayakan segala
Hidup sederhana bersahaja jika tak boleh kusebut sebagai prihatin, kau lakoni
Inginmu tak menjadi penting
Bahkan mungkin engkau pun telah lupa apa yang kau ingini tuk dirimu
Bagimu, kami anak-anakmu atas dirimu
Ibu…
Kekuatan di sebalik sederhanamu itu, membajai semangat juang tuk mendidik kami-permata hatimu
Tuk cita-cita besarmu miliki anak-anak yang shalih dan shalihah
Tabungan hari depan yang kekal, kelak ketika waktumu telah sampai
Menjadi penolong bagimu, begitu terpatri dan kau semat di hatimu

Perempuan biasa nan sederhana itu ku panggil ibu
Ibu yang hebat bagiku dan kami anak-anakmu
Ibu yang tidak hanya sebagai guru
Ibu yang ada kalanya menjadi teman, tempat kami membawa cerita
Ketika masa remaja dan dewasa mengurai kisah perjalanan
Tentang cinta, ketertarikan, pergaulan, pernikahan, keluarga,
Ah … tentang banyak hal engkau ada untuk kami
Ibu… meski besar cinta dan kasih sayangmu
Tapi marah dan menghukum kami juga menjadi ekspresi cintamu
Karena bagimu, mencintai tak selalu berarti memberi, memenuhi ingin kami
Aku masih ingat ibu, bagaimana cemas dan marahnya engkau ketika anak gadismu belum lagi masuk ke rumah kita padahal tirai terang telah pergi berganti gelap
Ketika itu aku tak mengerti mengapa engkau begitu marah
Meski yang kami lakukan adalah hal baik dan engkau percaya itu
Tapi “Di luar rumah ketika malam telah datang tak baik untuk gadis apalagi kalau hanya untuk sekadar sesuatu yang tidak begitu penting”, selalu begitu katamu
Juga masih kuingat, marah matamu melihat rokku yang hanya sebatas lutut, baju kaos dan celana panjang ketatku
“Engkau tidak akan semakin cantik di buat pakaian ini anakku” ujarmu bijaksana
“Hanya akan membuatmu rendah, di nilai hanya sebatas tampilan fisikmu, meski banyak kelebihan pada dirimu”
Ah ibu…masih banyak yang lain
Dan semuanya, kini ku tahu dan mengerti, tak lebih untuk diriku, demi kebaikanku, masa depanku

Perempuan biasa nan sederhana itu ku panggil ibu
Wanita yang darahnya mengalir di tubuhku juga saudara-saudaraku
Bukan satu, dua atau tiga saudara seperti orang kebanyakan
Tapi lebih dari sepuluh
Angka yang selalu membuat orang-orang kaget, heran juga kagum mendengarnya
Aku salut, bangga padamu ibu
Meski banyak amanah yang di titipkanNya padamu
Tapi engkau tak pernah terpikir untuk menitipkan kami pada baby sitter,
Atau di tempat penitipan anak, seperti yang banyak dipilih oleh ibu di masa kini
Ya…bagaimana mungkin engkau mampu melakukannya sementara kami adalah permata hati bagimu
Bagaimana mungkin engkau sanggup membiarkan kami lebih dekat dengan selain engkau
Sementara bersama kami adalah bahagiamu
Meski, tugasmu tidak hanya di rumah, mengurusi kami dan rumah kita
Tapi tak pernah ada pembantu di rumah kita
Engkau sanggup melakukan semua
Di tengah kesibukanmu membantu ayah
Sering aku membayangkan dan memikirkan bagaimana engkau melalui dan melakukan semua itu dulu
Sementara kini, satu-dua anak saja sudah kerepotan
Apa aku bisa menjadi ibu seperti dirimu nantinya? Entahlah…
Ya, engkau wanita dan ibu yang kuat…
Apalagi alasannya, kalau bukan karena cinta dan kasih sayangmu ibu
Aku yakin itu, meski engkau…dengan sikap dan ekspresi sederhana cinta dan kasih sayangmu tak pernah melisankan itu
Tapi ini semua lebih…lebih…dan lebih dari cukup untuk nyatakan itu

Perempuan biasa nan sederhana itu ku panggil ibu
Sujud-sujudmu selalu teriring pengharapan terbaik bagi kami
Doa-doamu adalah kekuatan kami
Keikhlasanmu, ridhamu…kunci sukses kami

Perempuan biasa nan sederhana itu ku panggil ibu
Ibu terbaik bagiku untuk hidupku
Syukurku terlahir dari rahimmu, menjadi anakmu…meski apapun
Ibu…cinta kasihmu sesejuk embun di pagi hari
seindah bunga-bunga di taman
seharum wangian kesturi
Terima kasih tuk semua jerih payah dan pengorbananmu
Terima kasih telah menjadi ibu terbaik bagiku
Terima kasihku untuk semua
Teriring doaku, semoga Sang Pemilik mengampuni semua dosamu
Menyayangimu lebih dari engkau menyayangiku, memberkahi hidupmu hingg

Tentang Qonita Al-Zaheenah

Guru. Sederhana, pembelajar. Tinggal di Padangsidempuan. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Topik:

Keyword: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (9 orang menilai, rata-rata: 9,67 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
107 queries in 1,363 seconds.