Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kelompok Manakah Kita?

Kelompok Manakah Kita?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
ilustrasi (inet)
ilustrasi (inet)

Dakwatuna.com Saudaraku, mari kita mencoba merenung sejenak, mari melihat bagaimana diri kita merespon ketika panggilan untuk berperan serta dalam perjuangan di jalan Allah dikumandangkan. Bagaimana kita merespon ketika panggilan dakwah meminta peran serta kita dengan segala yang ada pada kita. Adakah kita menjadi salah satu dari sekian banyak potret kelompok yang punya cara yang berbeda-beda dalam merespon panggilan Allah. Ketika seruan Allah dalam firmannya:

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (At-Taubah:41)

Karena cara kita merespon dan menanggapi seruan dakwah itu menjadi salah satu pembeda derajat manusia di hadapan Allah. Karena reaksi kita ketika panggilan Allah datang, menjadi salah satu wasilah keutamaan kita. Karena Allah telah berfiman:

Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar. (An-Nisa:95)

Apakah kita termasuk pada kelompok orang-orang yang enggan dalam menyambut seruan da’wah, layaknya sikap enggan Yahudi ketika diajak Nabi Musa masuk ke Palestina. Apakah kemudian kita memilih menjadi orang-orang yang tidak mengambil peran dalam jalan da’wah, menjadi kaum “qaa’iduun” (kaum yang duduk-duduk saja dan menonton saja perjuangan kawan-kawannya yang lain)?? Betapa meruginya kita.

Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasuki nya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja”. (Al-Maidah:24)

Ataukah kita menjadi bagian kelompok orang-orang yang jago merangkai alasan yang terkadang mengada-ada, kemudian meminta izin untuk tidak ikut berjuang. Membuat-buat alasan yang terlihat wajar dalam pandangan manusia, padahal Allah lebih tahu tentang apa yang ada dalam hati kita. Dalam sirah nabawiyyah, kelompok ini adalah kelompok mereka yang berlomba-lomba datang kepada Rasulullah setelah perang Tabuk usai untuk mengemukakan alasannya masing-masing atas ketidakberangkatan mereka..kelompok orang-orang munafiq.

Kalau kita termasuk kelompok ini, maka malulah kita pada Abdullah bin Mas’ud r.a. yang dengan fisik beliau yang kecil tapi kemudian bisa menewaskan Abu Jahal dalam Perang Badr. Atau malulah kita pada Abdullah Umi Maktum r.a. yang dengan mata beliau yang buta, tapi kemudian tetap memilih ikut berjuang dan syahid di medan laga. Dan harusnya malulah kita pada Syekh Ahmad Yasin, yang dengan “hanya” bagian leher ke atas yang bisa digerakkan tapi kemudian ia –dengan izin Allah- bisa membangkitkan jiwa juang ribuan orang sehingga butuh 2 Apache untuk menghentikan perjuangan fisik beliau. Di mana kita??

Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya (At-Taubah :45)

Dan apabila diturunkan suatu surat (yang memerintahkan kepada orang munafik itu): “Berimanlah kamu kepada Allah dan berjihadlah beserta Rasul-Nya”, niscaya orang-orang yang sanggup di antara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak berjihad) dan mereka berkata: “Biarkanlah kami berada bersama orang-orang yang duduk”. (At-Taubah :86)

Ataukah kita termasuk kelompok orang-orang yang mau menyambut seruan tersebut, tapi kemudian seruan itu disambut dengan penuh kemalasan, berleha-leha, tanpa keikhlasan, tanpa semangat dan penuh keterpaksaan?? Mungkin perjuangan yang kita lakukan akan hampa sentuhan jiwa, tanpa energi karena sudah dimulai dengan kemalasan.

Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran). Maka jika kamu ditimpa musibah ia berkata: “Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan nikmat kepada saya karena saya tidak ikut berperang bersama mereka.” (An-Nisa:72)

Apakah juga mungkin kita termasuk orang-orang yang mau menyambut seruan da’wah, tapi jika yang perjuangan itu jelas ada keuntungan duniawi yang menanti setalahnya. Ada harta, kekuasaan atau kah pernak-pernik yang lain, yang kita harap menjadi imbalan atas perjuangan kita. Kita mau menyambut seruan berjuang jika perjuangan itu yang mudah-mudah saja, yang ringan-ringan saja. Tidak banyak meminta harta kita, tidak banyak menyita waktu kita, sedikit mengambil tenaga kita. Atau dalam bahasa yang lebih gamblang, apakah kemudian kita termasuk kelompok yang CARI AMAN saja, merugi lagi kita…

Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah:

“Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu.” Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta. (At-Taubah:42)

Atau jangan-jangan kita termasuk kelompok yang palih parah yang Allah sebut dalam Al-Qur’an. Mereka adalah kelompok orang-orang yang sudahlah merasa gembira karena tidak ikut berjuang, kemudian di belakang mereka juga mengoceh dan memprovokasi orang-orang untuk tidak ikut berjuang, dengan provokasi-provokasi yang tidak jelas. Kalau di zaman Rasulullah, kelompok ini adalah kelompok anak buahnya Abdullah bin Ubay bin Salul, alias orang-orang munafiq yang berhasil membelotkan 300 orang yang akan berangkat ke Uhud.

Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata:

“Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas yang terik ini”. Katakanlah: “Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)” jika mereka mengetahui. (At-Taubah:81)

Saudaraku, semoga kita tidak termasuk salah satu dari sekian kelompok diatas, kelompok yang tidak benar-benar membuktikan keimanan mereka dengan bersegera menyambut seruan untuk berjuang di jalan Allah. Padahal jelas-jelas sudah Allah katakan, bahwa tidak siapapun akan dibiarkan mengatakan beriman, kecuali Allah pasti akan menguji agar nyata mana diantara kita yang benar-benar pejuang dan benar-benar termasuk orang yang sabar

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.(Ali Imran:142)

Semoga kita termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang benar dan benar-benar membuktikan keimanannya. Semoga kita termasuk orang yang bersegera menyambut ketika seruan untuk berperan dalam perjuangan di jalan Allah itu memanggil kita.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. (Al-Hujurat:15)

Mari kita merenung lagi, mengingat-ingat dan mengukur, termasuk kelompok yang mana kita dari sekian banyak yang Allah sebut diatas. Kalau kita ingin menyesal, sekaranglah saatnya, kalau kita ingin berubah inilah saatnya, kalau kita ingin menjadi orang-orang yang lebih baik dalam menyambut seruan berjuang, sekaranglah waktunya. Jangan sampai suatu saat nanti, ketika kita telat menyesali kelalaian kita dalam menyambut seruan Allah, ketika kita ingin kembali bergabung untuk berjuang, ternyata Allah sudah tak menginginkan lagi keberadaan kita di barisan juang, dan kita telah digantikan oleh orang-orang yang jauh lebih baik. Naudzubillah

Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (At-Taubah :46)

Wallahu a’lam bis shawab

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 8,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Hubungan Baik Dakwah Sekolah dan Kampus