Home / Pemuda / Cerpen / Woman In Purple

Woman In Purple

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Ibuku cantik. Gaun dan aksesori yang melekat pada tubuh ibu selalu ada nuansa lila.

“Ingat, nama kamu sekarang Lii…laa!

“Iya buk”

“Panggil saya mami”

“Baik mami”

“Yak, begitu”

ibu-dan-anakdakwatuna.com – Mami telah menyulap ibu dari gadis belia menjadi wanita dewasa. Dan sejak itu mami menyebut ibu woman in purple yang kemudian menjadi buah bibir di kalangan para tetamu. Ibupun menjadi anak kesayangan mami. Namun setelah lima tahun bekerja untuk mami, seorang pria paruh baya yang dua bulan belakangan selalu ditemani ibu, berhasil melepaskannya dari mami. Ibupun meninggalkan ruko berlantai tiga yang bila malam tiba menjelma menjadi tempat hiburan malam itu.

Maka, empat bulan sudah ibu tinggal di tempat ini. Sebuah rumah kontrakan mungil di kawasan padat kota Baru. Biasanya pria yang membawa ibu ke sini hanya datang tiap akhir pekan. Seperti hari ini. Namun, aku merasa ibu tidak seceria biasanya. Perasaan galaunya membuatku gundah. Ibu begitu gelisah, terjebak dalam suasana kaku yang menyiksa. Aku ingin memeluk ibu, tapi kakiku malahan yang meronta. Aku merasakan tangan ibu mengelusku, menenangkanku.

“Aku…aaku ingin kita menikah” terdengar suara ibu terbata-bata.

“Aku punya keluarga, tidak mungkinlah meninggalkan mereka”

“Tak perlu meninggalkan mereka. Aku hanya ingin dinikahi, demi bayi kita…”

“Apaaa…..mengapa tak kau cegah? Apa benar itu anakku???” suara itu bagai mengejek ibu

Ibu menangis, bahunya naik-turun menahan emosi. Ingin dijawabnya semua pertanyaan itu, namun lidahnya kelu. Ia telah salah menilai pria itu. Sebetulnya ibu ingin mengatakan bahwa ia tidak ingin berzina lagi, cukup sudah. Ibu ingin taubat, meski harapan diperistri pria itu pupus sudah.

Suasana hati ibu yang tak karuan membuatku mengepalkan tangan mungilku. Berharap dapat menyentuh dan menguatkan ibu. Namun, gerakan aktifku tiba-tiba terhenti, dikejutkan oleh suara berdebam dan raungan mesin kendaraan. Selanjutnya senyap.  Sejak itu aku tidak pernah mendengar suaranya lagi.

***

Ibu selalu mengajakku bicara. Dan saat ibu terbaring menjelang tidur, aku akan didongengi kisah kelam perjalanan hidupnya. Dulu waktu masih di kampung ada seorang tukang roti keliling yang ingin melamar ibu. Namun ditolaknya karena ibu lebih memilih seseorang yang mengaku mahasiswa yang berjanji akan menikahi ibu asal mau diajak ke kota Baru. Ternyata ibu ditipu. Setelah sampai di kota Baru, ibu diserahkan pada seorang lelaki tak dikenal yang kemudian berbuat tak senonoh. Untunglah mami datang dan menyelamatkannya. Ibu kemudian tinggal bersama mami dan diperlakukan cukup baik. Sampai akhirnya ibu terpaksa mengikuti semua perintah mami. Ibu berkisah sambil berurai airmata, teringat betapa polosnya waktu itu menganggap mami sebagai dewi penolong.

Malam-malam berikutnya ibu semakin tak nyaman berbaring, tapi tidak menangis lagi. Bahkan ibu selalu memuji pria itu yang katanya ayahku. “Ayahmu sangat baik nak, dia membuka jalan untuk ibu menuju cahaya-Nya”. Ya, ibu sekarang lebih banyak beribadah dan berdoa. Seorang ibu muda berjilbab besar di sebelah rumah, mengajak ibu mengaji di rumahnya. Pengajian rutin pekanan yang selalu ibu nantikan. Ibu merasakan ketenangan dan kedamaian bersama teman-teman mengajinya yang sederhana. Ternyata, di salah satu sudut kota Baru masih banyak orang-orang yang berhati baik.

“Ukhti, jangan larut menyesali nasib ya. Sesungguhnya Allah Swt Maha Pengampun. Kasih sayang dan Rahmat-Nya jauh lebih besar dari murka-Nya. Semoga kesungguhan Ukhti memperbaiki diri mendapat Ridha Allah Swt.”

“Subhanallah… sejuknya ucapan itu. Apalagi panggilan Ukhti itu…terdengar begitu merdu dan meresap ke dalam jiwa ibu, nak. Walaupun ibu tidak tahu apa artinya” ujar ibu sambil mengusap perlahan perutnya. Aku pun ikut bahagia seperti ibu.

Ketika aku semakin besar ibu kedatangan emaknya dari kampung. Emak sudah lama ingin menemui ibu, namun ibu tak sanggup bertemu. Ibu yang telah mencoreng muka emak dan membuatnya dicemooh orang sekampung. Tapi emak tidak pernah sekalipun menyumpahi ibu. Justru untaian doa yang tak putus dilantunkan emak untuk ibu. Emak juga membawa pesan, pemuda tukang roti keliling itu ternyata telah sukses menjadi pemilik pabrik roti. Istrinya meninggal setahun yang lalu ketika melahirkan putra pertamanya. Menurut emak, setelah ibu melahirkan, ia akan datang melamar dan akan memboyong ibu dan aku kembali ke kampung.

Harusnya kabar dari emak membuat ibu bahagia. Tetapi,  ibu malah menjadi sedih. Aku kegelian ketika merasakan tangan ibu mengusap dan mengelus perutnya yang semakin membuncit. Terngiang-ngiang kembali ucapan petugas puskesmas beberapa bulan yang lalu ketika ibu dinyatakan positif terinfeksi virus HIV.

“Untung saja mbak terdeteksi lebih awal. Bersyukurlah, kita ada program pencegahan agar bayi mbak terlindung dari virus ini. Selama kehamilan, mbak harus minum obat ini ya, mudah-mudahan bayi mbak tidak tertular”

Begitulah, sejak menerima vonis itu ibu secara rutin memeriksakan aku dan mengkonsumsi obat khusus. Ibu bertekad akan memberi yang terbaik untukku, pun bila harus berjuang di atas meja operasi. Ya, ibu sudah siap. Apapun akan dilakukannya, asal dapat membentengi diriku dari virus yang menakutkan itu.  Emak juga telah mengikhlaskan menjual sawahnya di kampung untuk persiapan biaya persalinan ib.

Sapaan sejuk para sahabat mengajinya juga menambah semangat ibu untuk menyongsong hadirku. Mereka bilang ibu semakin cantik dengan gamis dan jilbab yang menjulur sampai ke bawah dada. Ya, Ibu ingin membuatku bangga. Bangga terlahir dari rahim seorang perempuan yang membulatkan tekad berhijrah menjadi pribadi yang lebih baik.

“Semoga istiqamah, Ukhti” Aku pun mengaminkan seraya berharap segera dapat melihat wajah ibuku.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nurhaida Alting
Seorang ibu rumah tangga yang sedang belajar menulis. Saat ini tergabung dalam komunitas Gerakan Kepulauan Riau Gemar Menulis. Alhamdulillah beberapa artikel opini dimuat di harian lokal Haluan Kepri dan beberapa cerpen pernah dimuat di Tanjung Pinang Pos.

Lihat Juga

Bercermin Pada Hajar: Sudahkah Kita Menaklukkan Ego Kita?