Home / Narasi Islam / Hidayah / Nikmat yang Berbeda

Nikmat yang Berbeda

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Tulisan yang tak matang. Begitu banyak orang yang bisa menulis segala hal yang ia ketahui dan ia rasakan. Tapi tak semua orang dapat menjadi penulis yang matang. Penulis yang mampu bercerita tentang kejadian nyata kala itu. Penulis yang mampu membawa serta semua emosinya pada pembaca. Penulis yang mampu menyampaikan rasa yang tersirat. Begitulah juga aku. Begitu banyak yang sudah kulalui. Bertumpuk tumpuk hari yang ku lewati, aku hanya mampu mengingat tanpa bisa meletakkannya dengan tinta di dasar kertas. Beribu-ribu waktu aku lampaui dengan segudang ilmu Allah yang sedikit demi sedikit aku resapi, tapi aku tak mampu mengabadikannya melalui pena. Aku tak mampu berbagi lewat media yang satu ini. Karna aku sejatinya tak punya bakat. Tapi siapa peduli? Aku akan coba itu. Dan di hari ini aku memilih melakukannya. Menulis tentang nikmatNya yang dicabut dari ku.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu kufur (mengingkari nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzabKu sangat pedih” (QS. Ibrahim [14]; 7)

Maka itulah yang Allah firmankan kepada hambanya melalui Kitab suci Al-Qur’an Al Kharim untuk mengingatkanku yang terlena. Hari penentuan itu datang juga dan membuatku semakin depresi. Aku tidak mau kehilangan apa yang telah aku nikmati selama ini. Aku masih ingin kuliah! Jeritku dalam hati. “Ya Rabb berbaiklah pada ku, jangan kau rengguh nikmat yang tengah ku rasakan” isakku tertahan. Aku di kamar. Aku dihantui berjuta rasa. Aku takut. Aku sedih. Dan aku malu. Bagaimana tidak semua ini telah aku lalui dengan susah dan kepayahan, ternyata harus berakhir dengan satu huruf “E” yang tak mampu ku ubah. Aku lemas tak berdaya. Aku menangis dan serasa dunia ini runtuh. Semua sudah berakhir.

Ya Allah apakah aku termasuk orang yang tak pandai bersyukur sehingga Kau limpahkan ini padaku. Kau akhiri masa depanku dengan cara yang menyakitkan. Ya Allah apakah ini akhir dari semua sujud dan doaku padaMu sepanjang usiaku. Apakah aku memang pantas mendapatkan hal yang memalukan seperti ini. Kenapa Kau balas pengabdianku dengan ujian memalukan seperti ini. Aku putus asa dan hampir gila terbawa semua amarah dan suasana ketidakadilan. Ohhh….aku mulai dengan sakit hati menulis surat pengunduran diri. Sambil menangis. Dan ternyata memang sudah lama aku ingin menangis sederas dan sebanyak ini. Karna aku sudah lama tertekan. Sudah lama tak bisa menangis dan tersenyum. Hari ini aku lepas semua bintang-bintang mimpiku, cita-cita dan aktivitasku sebagai mahasiswi sekaligus aktifis. Hari ini aku resmi bukan mahasiswa lagi.

Lututku semakin lama semakin tak kuat menopang tubuh ini. Aku kehabisan alasan untuk bersemangat. Setelah hari momental itu terlewati aku coba buka akun FB ku yang sudah lama gag bisa kebuka, karena aku lupa passwordnya. Alhamdulillah bisa kebuka dan kulihat ada 68 notifikasi dan 6 pesan lumayan banyak juga ya. Aku buka satu persatu dan di salah satu pesan ada pesan dari arbi dan yucha. Dua orang penting yang ada dalam hidupku. Aku buka satu persatu dan aku baca isi pesan mereka…

Pelangi Senja

Assalamu’alaikum,,miftah,,apa kabar??? Sehat kah dirimu mif??? Long time no see,,,yucha kangen sama miftah, kapan kita bisa ketemu n cerita-cerita lagi,,,??? Cha tunggu ya mif,, kabar mu,,,^^

Yucha sayang miftah karena Allah SWT

Selasa pukul 19:52. Dikirim dari Web

 

Membaca isinya aku ingin langsung membalasnya, tapi aku masih ragu. Balas atau tidak? Aku belum ingin dia tau bahwa aku sangat kesepian dan merindukan dia. Aku tak mau dia kembali cemas. “Yucha harus fokus kuliah” batin ku. Kuurungkan niat itu. Ya Allah aku benci jadi pengeluh. Kulanjutkan membaca pesan yang datang dari arbi.

Fauziah Arbi

Asslamu’alaykum wr.wb

Gimana kabarnya miftah? Lama g ada kabar seperti seolah menghilang… no hp aku yg xl rusak dan hangus jadi ga bisa pake lagi, tp yg m3 masih aktif. No. Kmau berapa?

9 November. Dikirim dari Web

 

Ya Rabbi aku tak kuasa menahan tangis, karena aku tahu aku sengaja menzhalimi orang yang selama ini telah membantuku. Ya Allah bukan maksudku lari dari tanggung jawab tapi aku benar-benar dalam posisi sulit. Kalaupun aku ceritakan semuanya itu hanya sebagai beban saja untuknya. Aku benci menjelaskan karena aku benci dibilang mencari pembenaran! “Maafkan aku arbi, yang meninggalkanmu dengan banyak masalah. Aku memang tak tau diuntung!”

Hatiku sakit sesakit sakitnya malam ini. Dan 4 pesan lain dari teman SMPku dan kakak kelas SMA ku. Tiba-tiba nama itu muncul dalam otakku, nama orang yang aku anggap telah sejiwa denganku. Lekas saja aku tulis namanya dalam kolom search “DAINUR ….., tunggu beberapa detik muncullah nama itu di salah satu akun sosial media. Aku liat dia mengirimkan ku sesuatu pada buku tamu di netlog ku.

Buku Tamu 9

Hampir abis daya kami ukhti shalihah

mencari, mengkorek informasi

meski itu hanya sekedar tau kabarmu

mungkinkah kami hanya dapat diam,lalu

membiarkan waktu menjawab semuanya?

Dikirim oleh YouCanDai

20 September 2012

 

Ya Allah…ternyata dia mencariku, mengkhawatirkan ku, dan mereka semua merindukanku. Aku terharu sekaligus sedih. Sedih sangat sedih karena begitu naif aku tak pedulikan mereka padahal sebenarnya aku pun merindukan mereka. Ya Allah ampuni hambaMu yang banyak ingin ini, ampuni aku ya Allah atas segala kesombongan yang kokoh terpancang di hati yang keras ini. Aku kembali menangis sesegukan menahan sakitnya rindu sakitnya hati yang dengan tega menjauhi mereka yang tak tahu apa apa! Ternyata rindu yang sangat dalam itu lebih sakit dibanding jari teriris pisau. Aku diberi pilu malam ini oleh Allah. Pilu yang sangat kekal. Entah apakah yang lain juga mendengar suara isakan ku? Semua kuabaikan. Aku mulai merenung dalam tangis deras. Aku menangis sakit.

Malam ini aku putuskan untuk mengirim pesan pada sahabat sekaligus saudara seimanku Daichan, begitu aku memanggilnya.

Asw chan. Jgn ksh tau siapapun klo gue menghubungi lo. Gue kangen lo chan. Gue jg sayang lo karena Allah, apa kbr daichan ukhti sholeha semoga gue bs kembali lagi. Chan gue punya satu permintaan yang blon lu kabulkan. Gue pgn bljr tahsin. Gue akan kembali normal bertemu kalian klo gue udah siap. Lo ga perlu kerumah gue nanti gue yang akan menghubungi lo. Semoga Allah mengampuni dosa gue dan menjadikan lo perempuan sholeha yang istiqamah.aamiin.

Aku menulis pesan itu berharap dai lekas membalas, lekas merespon dan mengungkapkan kata yang membuatku tenang. Tak lama ada balasan darinya.

Aamiin, kamu sekarang dimana sayang? Ayo kita belajar tahsin..

Aku senang mendapat responnya. Bagi ku niat untuk belajar tahsin adalah jalan keluar terbaik untukku. Karna aku meyakini bahwa Allah akan mendengarkanku lebih seksama lagi saat berdoa apabila aku menggunakan bahasaNya, bahasa Quran. Bahasa suci yang Dia wahyu pada hambaNya.

Aku belum pernah merasa seterpuruk ini. Aku belum pernah merasa sesepi ini. Aku belum pernah selemah ini. Aku benar-benar menjadi orang yang paling tak semangat untuk menjalani hidup.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman)

Mbak didi

085211154xxx

05:22, Des 15

 

<Baca Quran at Thalaq>

Maka…, kesabaran, musibah,

 kesulitan, ujian adalah tebusan

bagi ia yang menginginkan

kemudahan & kemenangan,

 

Maka…,jika kita blm merasakan

Kepayahan, kesedihan, ujian,

patutlah khawatir, mungkin Allah

tidak lagi cinta,

 

Karena ujian adalah Niscaya,

bentuk cinta terindah.

Memperhalus nurani.

Memperbesar jiwa,

Mengingatkan kita pada Sang

Maha, bahwa kita adalah hamba.

 

Be closer to Allah

 

Menyejukkan hati. Sms dari mbak didi itu membuat hati ku yang seperti tanah gersang. Tanah kering. Tanah tandus yang retak-retak, mungkin sudah mati dan akan menjadi tanah yang tak produktif lagi. Seketika ya Allah kau berikan tetes air cinta yang dari dulu sebenarnya aku nantikan… Mendapat sms itu aku mulai sedikit kembali percaya diri. Sms itu membuatku sedikit sadar ternyata aku berarti. Sms itu sangat membuat ku kembali menemukan satu potong jiwaku yang hilang. Sms itu membuat satu titik cahaya menyilaukan menyelusup di antara pandangan ku menerobos masuk menyinari di antara puing puing harapan yang telah runtuh. Aku seperti dicharger kembali. Ternyata aku telah menemukan seseorang yang dapat membuatku berarti. Engkau mendampingiku saat masa masa sulit seperti ini Ya Allah. Dan aku harus menyudahi sendiri depresiku ini.

Datangnya mbak didi meski hanya dalam bentuk sms, sudah membuatku perlahan mengembalikan diriku. Dan ingin menyudahi depresiku. Karna ternyata aku memanglah hidup hanya didampingi Allah. Kuatkan aku Ya Rabb. Kembali aku menangis. Menangis terharu. Deras tapi tak bersuara. Ternyata terkadang yang terbaik untukku bukanlah yang ku inginkan, tapi yang terbaik untukku ialah yang terbaik dari Allah dan itu adalah yang ku butuhkan. Hatiku menelisik berisik. Ya Allah terima kasih atas hidup yang sangat berkah bagiku. Karna aku yakin tak semua orang dapat menghayati semua hidayah dan petunjukMu.

Kini bagiku Alhamdulillah benar-benar kalimat syukur yang terasa dalam membayang, bukan hanya omong kosong ungkapan bahagia sesaat. Dahulu Allah mengajarkan kebaikan secara langsung pula kepada Muhammad tanpa perantara, melalui rasa sakit dan derasnya ujian. Sama seperti yang Allah ajarkan pula pada diriku. Bahagia, kepayahan, kehilangan, dan Prestasi adalah nikmatNya yang hanya saja berbeda rasanya.

Allahualam bishawab…

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Wirausahawati.
  • Rumaisha Azhar

    ternyata menulis tak perlu bakat, hanya perlu niat dari hati.. dan tulisan ini sangat kena di hati..

Lihat Juga

bersyukur-1

Sudahkah Bersyukur Hari Ini?