Home / Berita / Internasional / Eropa / Partai Sayap Kanan Norwegia Tolak Sekolah Islami

Partai Sayap Kanan Norwegia Tolak Sekolah Islami

Ilustrasi - Peta Norwegia. (wikipedia)
Ilustrasi – Peta Norwegia. (wikipedia)

dakwatuna.com – Oslo. Partai Progresif Norwegia (Frp) menyiapkan kampanye yang tujuannya melarang sekolah privat Islami. Oleh FrP sekolah itu dianggap membahayakan integrasi Norwegia.

Juru bicara FrP, Tord Lien mengatakan komunitas Muslim seharusnya berintegrasi dengan masyarakat Norwegia. Itu bisa dilakukan dengan memasukan anak-anak mereka ke sekolah umum bukan sekolah privat Islami.

“Di Oslo, banyaknya sekolah privat Islami sangat membahayakan integrasi,” kata dia mengklaim, seperti dikutip Harian Norwegia, Aftenpost, Ahad (5/1).

Menurut Lien, pihaknya sangat menentang tren itu kendati aturan yang berlaku memungkinkan keberadaan sekolah privat berbasis keagamaan.

“Memang itu diizinkan, tapi atas pertimbangan integrasi sebaiknya perlu mekanisme penyaringan melalui pengawasan perizinan,” kata dia.

Namun, yang membingungkan dari sikap FrP, secara terang-terangan partai itu mendukung sekolah kristen yang umumnya dibangun sudah ratusan tahun lalu.

Saat disinggung soal itu, Lien berdalih perlu ada perbedaan dalam penanganan komunitas Muslim dan Kristen. “Sangat sulit untuk melihat bagaimana mereka mengancam integrasi,” kata dia. (Yudha Manggala P Putra/Agung Sasongko/ROL)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • ???

  • Jujun Junaedi

    Jelas,Ini pelanggaran Hak Asasi Manusia. Mana mungkin Sekolah berbasis Islam di anggap membahayakan Integrasi. Hal ini sangat nyata Diskriminasi di berlakukan oleh negara yang “katanya menganut paham Liberal (kebebasan)

Lihat Juga

Ilustrasi. (Syaeful Bahri)

Perlukah Orang Tua Mengantar ke Sekolah?