Home / Berita / Nasional / 2014, Depok Bebas Gizi Buruk

2014, Depok Bebas Gizi Buruk

Walikota Depok, Dr. Ir. H. Nur Mahmudi Isma'il, MSc
Walikota Depok, Dr. Ir. H. Nur Mahmudi Isma’il, MSc

Dakwatuna.com DEPOK. Dinas Kesehatan Kota Depok menargetkan nol balita penderita gizi buruk pada 2014. Pasalnya, setiap tahun jumlah balita penderita gizi buruk semakin berkurang.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Hardiono, mengatakan target yang ditetapkan untuk mengurangi jumlah balita penderita gizi buruk selalu tercapai. Bahkan, ia mengklaim jumlah yang dicapai telah melebihi target.

“Jumlah balita penderita gizi buruk selalu kami tangani dengan baik. Bahkan, jumlah targetnya yang berhasil dikurangi lebih banyak,” kata Hardiono kepada Republika.

Hardiono mengatakan sejak tahun 2005 hingga 2012, jumlah balita penderita gizi buruk menurun. Pada 2005 tercatat sebanyak 1.133 balita gizi buruk. Angka ini kemudian menurun pada 2006, yakni menjadi 945 balita. Pada 2007, tercatat sebanyak 959 balita, tahun 2008 sebanyak 830 balita, dan 2009 sebanyak 227 balita.

Sementara itu, pada 2010 jumlah balita penderita gizi buruk sebanyak 199, tahun 2011 turun menjadi 129, dan tahun 2012 diklaim turun menjadi 52 balita.

Ia menambahkan, angka balita penderita gizi buruk ini telah menurun di Depok dan di bawah target nasional Kementerian Kesehatan yakni minimal 0,5 persen. Sedangkan di Depok tercatat sebanyak 0,04 persen. “Bahkan tidak mencapai 0,1 persen,” katanya.

Menurunnya angka balita gizi buruk ini, dikatakannya tercapai atas kerja keras Dinas Kesehatan, Puskesmas, 900 Posyandu, 25 Pos Gizi dari 32 Puskesmas, dan Panti Pemulihan Gizi.

Selain itu, pendampingan yang diberikan kepada orangtua yang anaknya terkena gizi buruk juga dilakukan oleh Pos Gizi. Pemantauan gizi buruk juga menurutnya dilakukan secara door to door oleh kader.

Depok mempunyai 17 tenaga ahli gizi di puskesmas dari 32 Puskesmas yang ada di Depok. Meskipun jumlah ini masih kurang, menurutnya tenaga ahli gizi tersebut telah memberikan andilnya dalam pemberian asupan gizi.

Selain itu, Hardiono menambahkan faktor terjadinya gizi buruk dapat disebabkan oleh tidak harmonisnya sebuah keluarga. Seperti, terjadinya perceraian.

Akibatnya, balita tidak terperhatikan asupan gizinya. “Faktor ekonomi dan pola asuh juga bisa berpengaruh terhadap kondisi anaknya,” ujarnya. (Dessy Suciati Saputri/ROL)

About these ads

Redaktur: Samin Barkah, Lc., ME

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Dituding Ahok Manfaatkan Cucu yang Gizi Buruk, Ini jawaban Nenek Taminah