Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Air Mata Kerinduan untuk Ibu

Air Mata Kerinduan untuk Ibu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Kejadiannya di bulan Mei 2011, pada hari Jum’at di Masjid Nurul Ilmi, masjid yang berada di lingkungan kampus Universitas Andalas, Padang. Sedang berkonsentrasi menyimak khutbah, entah kenapa tiba-tiba aku rindu kepada ibu. Ini membuatku tak lagi berkonsentrasi menyimak khutbah. Padahal isi khutbah bukan tentang berbakti kepada orang tua. Tapi entah kenapa, aku tiba-tiba saja ingat pada ibu. Aku cemas, sebab biasanya ketika tiba-tiba ingat kepada seseorang disertai perasaan tidak enak, pertanda buruk yang dialami seseorang. Aku buang jauh-jauh firasat itu.

Aku kemudian khusyuk mendengar doa yang dilantunkan khatib, di dalam hati melafalkan doa untuk orang tuaku dengan berulang-ulang hingga khatib menyudahi doanya. Usai salam pertanda berakhirnya rakaat shalat Jum’at, aku kembali melafalkan doa untuk ibuku. Aku berdoa kepada Allah, agar Allah melindungi dan menjaga ibuku yang jauh di kampung sana.

Aku hitung-hitung, ternyata sudah enam bulan aku tidak pulang. Jarak bukanlah penghalangnya. Padang-Jambi hanya memakan waktu sembilan jam. Itu termasuk rute yang singkat. Penyebabnya adalah biaya. Harga karcis bus ke Jambi Rp.85 ribu. Atau menghabiskan sekitar Rp.200 ribu untuk ongkos pulang-pergi berikut makan dan minum di jalan. Jumlah itu memang sedikit bagi orang lain tapi tidak bagiku. Aku yang sejak Oktober 2008 tidak lagi mendapat kiriman dari kampong. Ayah sudah lama tiada, dan Oktober silam ibu memintaku untuk berhenti sementara dari kuliah. Padahal saat itu aku sedang memasuki semester lima. Masalah keuangan, yang menjadi faktor utamanya.

Kepadanya, aku meminta agar aku dapat terus melanjutkan kuliahku. Untuk masalah biaya kuliahku, aku berjanji akan mencarinya sendiri. Tak ada pilihan lain, ibuku merestui langkahku. Sejak saat itu, tak sepeser pun aku berani minta kepada ibu.

Karena itu, rupiah menjadi sangat berarti bagiku. Bahkan untuk masalah pulang kampung. Uang Rp.200 ribu, dapat untuk membiayai hidupku selama tiga minggu di rantau orang. Inilah yang membuatku selalu berpikir ulang untuk pulang kampong. Hingga, semuanya berjalan sampai lima bulan lamanya. Sampai saat itu, aku masih tegar dan kuat memendam rindu padanya. Tapi entah kenapa hari itu, rindu mendesak-desakku. Bayangan ibuku jelas tergambar dalam benak.

Untuk meredakan rasa kangen itu, aku kemudian shalat dua rakaat. Aku mengambil tempat di pojok kanan pada shaff terdepan agar bisa khusyuk dan menikmati shalat. Usai iftitah, aku tak langsung membaca Al Fatihah. Sebab ternyata, bayangan wajah ibu kembali hadir. Bayang-bayang kerinduan kepada ibuku. Terbayanglah betapa sepinya seorang diri di rumah yang luas itu.

Ibu yang terus bekerja meski usianya sudah sepuh. Kulit keriputnya semakin menghitam sebab terlalu sering terbakar sinar matahari. Jemari dan kakinya yang tak lagi kokoh, yang masih dipaksanya untuk bekerja. Rambutnya yang memutih semakin merata. Sendiri selama berbulan-bulan, bukanlah hal yang mudah. Dalam hujan, harus dihadapinya sendiri. Bekerja menghidupi dirinya sendiri. Aku tahu dibalik senyumnya, ibu menyimpan kesedihan, kepedihan dan beban hidup yang berat tiada tara. Tentang perjuangannya menghidupi dan membesarkanku seorang diri tanpa adanya ayah di sisinya. Rakaat pertama selesai, aku masih menangis. Entah khusyuk atau tidak shalatku.

Rakaat kedua aku masih bersimbah air mata. Suara ibu seakan memanggilku untuk pulang. Terbayang sosok tubuhnya menantikanku di pintu rumah. “Nak, kemarilah. Ibu sudah rindu kepadamu” Lalu aku menyongsong tubuhnya dengan penuh kerinduan. Air mata semakin mengalir deras. Masih dalam shalat, aku mengadu pada Allah tentang kerinduan kepada ibu.

Tertegun aku saat salam mengakhiri shalatku. Kulihat bajuku basah oleh air mata. Aku kemudian bersujud kembali. Meluapkan kerinduan, menangis bebas. Air mata tangis kerinduan tak terkira banyaknya. Jujur saja, baru kali ini aku menangis dalam shalat dengan tangisan yang kencang. Air mata menganaksungai. Tak terhitung berapa tetes yang jatuh membasahi karpet shalat. Sebelumnya belum pernah menangis seperti ini, bahkan dalam tahajud dan munajatku kepada Allah.

Air mata keluar dengan deras hingga pandanganku kabur. Bercucuran hingga pipiku basah. Aku menunduk dalam-dalam agar tidak ketahuan orang kalau aku sedang menangis. Tubuhku sampai berguncang-guncang. Dalam shalat itu kusebut dalam hati nama ibu banyak-banyak.

Aku semakin khawatir, apa gerangan yang terjadi pada ibu. Firasat buruk tentang ibu, dengan kuat coba kulawan. Tak bisa ditawar lagi, aku harus segera pulang. Aku takut terjadi apa-apa pada ibuku.

Tapi kemudian aku ragu. Sebab jadwal ujian skripsi belum juga dapat. Atau aku tunggu selesai ujian kompre saja? Tekadku, sewaktu pulang aku sudah menyandang gelar sarjana. Agar ada kabar bahagia yang dapat ku bawa pulang. Tapi aku ingat-ingat sudah enam bulan aku belum pulang kampung. Dan selama itu aku tidak tahu apa yang terjadi di rumah, dan apa yang dialami oleh ibu.

Lalu, dari mana pula aku dapat ongkos pulang. Bulan ini siswa privatku meminta libur usai ujian semester di sekolahnya. Praktis, pemasukanku bulan ini pun terhenti. Sisi hatiku berkata, kau tak tahu betapa ibu merindukanmu! Tak tahu bagaimana perasaan ibu selama kau tinggalkan. Keterlaluan! Sudah selama itu tidak menjenguknya. Kesibukan apa yang menyebabkannya kau tak sempat bersilaturahim kepada beliau? Padang-Jambi bukanlah jarak yang jauh. Kalau kau mau, pasti ada jalan. Uang bisa dicari!

Sisi hatiku yang lain ikut berbicara. Tahan dulu kerinduan itu. Kau harus kuat. Jangan kalah dengan perasaan itu, jika kau mau sukses. Kau harus focus dengan ujian skripsimu?

Nyatanya demikian. Sedari tadi aku menangis. Ini adalah bukti kekalahan. Maka, pulanglah.

Beberapa setelah kali bergulat dengan batinku, alhamdulillah bulat keputusanku untuk pulang kampung pada esok harinya.

Advertisements

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Supadilah, S.Si
Guru di SMP Islam Terpadu Darul Hikmah Pasaman Barat. Menuntut ilmu di Universitas Andalas, Padang.

Lihat Juga

Anies: Jadikan Masjid Tempat Ideal untuk Anak Belajar

Organization