Home / Pemuda / Cerpen / Mutiara di Balik Jeruji Besi

Mutiara di Balik Jeruji Besi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

“Ni Koran pagimu.” Kata seorang petugas jaga sambil melemparkan koran pagi kepada sesosok tubuh tinggi besar di balik jeruji besi.

“Terima kasih Pak.” Ucapnya sambil bergegas mengambil koran itu.

laki-berjalan-sendiridakwatuna.com – Sosok tinggi besar itu dengan penuh cekatan langsung membolak-balik lembar demi lembar koran. Tiba-tiba saja matanya menatap tajam pada sebuah judul yang langsung menusuk hatinya. “JANGAN MAIN-MAIN DENGAN TULISAN ANDA!” Ya sebuah berita yang kini sedang hangat-hangatnya dicerna publik. Berita yang memojokkan dirinya dan membuatnya mendekam di balik jeruji besi.

“Semuanya telah direkayasa. Hukum dengan mudahnya dijual beli.” Ucapnya lirih begitu selesai membaca isi berita itu.

Ia balik lembar berikutnya, tiba-tiba senyum tipis menghiasi bibirnya. Di kolom cerpen ia melihat nama pena istrinya masih terpampang. Ia merasa kagum dengan belahan jiwanya itu, Ibu bagi ketiga buah hatinya. Setiap pagi dialah yang selalu memesankan koran pagi untuknya. Lalu setiap bulan sekali ia akan berkunjung sambil menanyakan “Sudah dapat berapa hasil tulisanmu?” Kemudian dengan wajah penuh keoptimisan ia akan membawa pulang hasil tulisan tangan suaminya itu. Walaupun belum ada redaksi koran yang berkenan memuat tulisannya kembali, tapi wanita tangguh itu selalu yakin bahwa suatu hari nama suaminya akan bersinar kembali, menghiasi puluhan wajah koran pagi Indonesia.

Semua itu bermula dari sebuah tulisannya yang mengkritik pejabat tinggi di kotanya. Ia begitu gemas melihat pejabat itu berlalu lalang menggunakan mobil dinas dengan angkuhnya namun sama sekali tak mengindahkan puluhan rakyat miskin yang menangis di sekitarnya. Kegemasannya tersebut ia wujudkan dalam bentuk tulisan di kolom opini. Mudah saja membuat tulisannya itu dapat dimuat karena tulisannya yang telah terkenal di dunia jurnalistik. Namun tulisan itulah yang akhirnya menyeret dirinya menuju jeruji besi. Pejabat itu melaporkan dirinya dengan tuduhan pencemaran nama baik. Lalu dengan gencarnya ia membuat tulisan yang memojokkan dirinya. Tentu saja ia tahu bahwa semua itu dapat ia lakukan dengan uang pelicin, yang ia raup dari rakyat miskin.

Satu tekadnya saat para polisi suruhan pejabat itu menyeret kasar tubuhnya.

“Hari ini kau boleh tersenyum puas tikus rakyat, namun suatu hari kau akan menangis sambil berlutut di kakiku.”

“Ha…ha…ha…, sudahlah Samsul kau memang sudah terbukti bersalah. Akui saja supaya hukumanmu tak bertambah lama.” Ucapnya dengan penuh keangkuhan.

*****

Hari-hari di penjara ia habiskan dengan membaca dan menulis. Tubuhnya memang terkurung di balik jeruji besi, tapi tidak dengan hati dan pikirannya. Ia rela tidak mendapat jatah sarapan pagi asal para petugas kepolisian itu rela memberikan lembaran kertas bekas dan sebuah ballpoint. Ia rela dipindahkan di balik jeruji besi yang lebih sempit yang di dalamnya penuh dengan tikus dan kecoa asalkan ia tidak dipisahkan dengan buku-bukunya. Membaca dan menulis telah menjadi pilihan hidupnya. Ia ibarat darah yang selalu mengalir di pori-pori tubuhnya. Satu tujuannya ia merindukan sebuah negara yang aman, tenteram, subur makmur, dan dipimpin oleh mereka yang benar-benar menegakkan keadilan dengan penuh ketulusan hati menyayangi rakyat jelata. Kalau sekarang ia belum bisa merasakannya semoga kelak anak cucunya bisa menikmati perjuangannya membangun peradaban di bumi tercinta Indonesia melalui tulisan-tulisannya.

Kemerdekaan negara ini diperjuangkan dengan tetesan darah para pejuang bangsa. Mereka pun juga pernah diasingkan, meringkuk dalam penjara selama berpuluh-puluh tahun, tapi itu semua tidak menghalangi tekad membaca dalam diri mereka tuk menjadikan Indonesia negara yang merdeka. Dan sekarang negara ini kembali menangis, bukan lantaran dijajah oleh bangsa asing, melainkan dijajah oleh para pemimpinnya sendiri. Aliran darah pejuang itu telah mengalir di sekujur tubuhnya. Menggerakkan tangannya untuk terus menulis dan menulis. Ia tak mempedulikan apakah hendak dimuat atau tidak. Satu keyakinannya, walaupun namanya telah hancur di media masa, namun suatu saat pasti ada generasi bangsa yang membutuhkan tulisannya. Sebuah karya yang telah ia tulis dengan tinta cinta, peluh kesungguhan, air mata pengorbanan dan senyum keikhlasan. Entah itu seratus, sepuluh atau bahkan satu sekalipun ia tak peduli. Yang terpenting ia merupakan orang yang juga merindukan tegaknya keadilan dan perdamaian di negara ini.

Sudah cukup rasanya rakyat ini dibuat menangis, sudah kenyang rasanya rakyat ini dibuat menderita. Sudah muak rasanya telinga ini mendengar janji-janji palsu dari para pejabat bejat itu. Sudah lelah rasanya diri ini menerima kebijakan yang justru menyengsarakan hidup bangsa. Maka hanya kepada Tuhanlah kiranya bangsa ini berharap, agar malaikat penyelamat itu segera tiba.

*****

17 Agustus tahun 45, itulah hali kemeldekaan kita

Hali meldeka nusa dan bangsa

Hali lahilnya bangsa indonesia

 Lelaki paruh baya yang sedang menikmati secangkir kopi sembari duduk di kursi goyangnya itu terkekeh-kekeh mendengar cucunya dengan suara yang masih cadel menyanyikan lagu kemerdekaan. Lagu yang harus ia nyanyikan saat pawai dalam rangka memperingati hari kemerdekaan nanti. Tiba-tiba saja HP bututnya berdering.

“Pak Samsul ini kami dari mahasiswa Airlangga fakultas hukum. Minggu depan rencananya kami akan mengadakan seminar dalam rangka memperingati hari kemerdekaan RI. Kali ini acaranya bedah buku Bapak yang berjudul “Meraih Kemerdekaan Sejati” bisakah Bapak menjadi nara sumber utamanya?” tanya suara dari seberang telepon.

“Oh iya pasti bisa, silakan smskan saja jadwal kegiatannya.” Jawabnya mantab.

“Baiklah Pak, akan segera kami smskan. Terima kasih.”

Hari ini tepat sepuluh tahun sudah ia keluar dari penjara. Buku yang ia tulis di balik jeruji besi itu telah menjadi rujukan beribu-ribu mahasiswa. Dalam sebulan lebih dari 20 kali ia harus menghadiri seminar yang mengupas tuntas isi bukunya. Pantaslah kalau buku itu dijuluki “Mutiara dari balik jeruji besi.” Kualitas best seller tak menjadi tujuan utamanya, yang terpenting banyak orang akan mengamalkan isi di dalamnya.

Sedangkan pejabat yang dulu memenjarakannya, kini telah meninggal dengan cara yang mengenaskan. Ia gantung diri di kamar pribadinya yang mewah akibat menghadapi demo masa yang setiap hari memojokkan dirinya serta memintanya untuk segera lengser. Doanya dalam penjara kala itu benar-benar telah dikabulkan Tuhan. Ya karena doa orang yang terzhalimi tidak akan pernah ditolak oleh yang maha kuasa.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Safira Rahima
Safira Rahima adalah nama pena dari Santy Nur Fajarviana. Ingin selalu menjadi manusia pembelajar di universitas kehidupan yang tak ada batas usianya ini. Pernah mendapat juara harapan 2 lomba menulis novel tingkat nasional juga juara 3 lomba menulis artikel tingkat provinsi. Saat ini ia sedang berjuang menggapai mimpinya untuk menjadi penulis best seller dan bercita-cita mendirikan sekolah menulis di kota kelahirannya, Madiun.

Lihat Juga

Mengenal Sosok Ali Bin Abi Thalib RA