Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menguasai Waktu

Menguasai Waktu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Semalam setelah lewat pukul 12.00 tahun telah berganti dari 2012 menjadi 2013. Kalau Anda pergi ke pusat kota Taipei, Anda akan melihat, sebelum pukul dua belas orang-orang menunggu dalam hingar bingar, namun menjelang pukul dua belas, lima menit menjelang, tiga menit, dua menit, satu menit, suasana menjadi senyap. Lalu dalam waktu yang singkat itu, dalam hitungan detik itulah, satu detik menjelang pukul 12, dan lalu satu detik setelahnya, ajaib! Tahun telah berubah.

Begitulah sebenarnya, dalam momen pergantian tahun, kita melihat apa itu yang dimaknai dengan waktu. Kita melihat waktu dalam satuannya yang paling kecil. Namun jika kita berpikir kembali, lepas dari segala hingar bingar tahun baru (dan memang karena saya tidak benar-benar tertarik mengikutinya): Apakah itu waktu?

Pertanyaan tentang apa definisi waktu telah menghantui para filsuf dan pemikir sejak ribuan tahun. Waktu, seperti juga ruang dan cahaya adalah objek-objek fisik paling dasar yang membuat manusia terus berpikir. Dan nyatanya, sampai sekarang orang masih memikirkannya, dan fisika modern belum bisa benar-benar memberikan jawaban terhadap misteri tersebut.

Waktu, mendorong orang berfantasi tentang kehidupan, membuat orang berpikir tentang apa makna hidup itu sendiri. Dan begitu kuatnya waktu mempengaruhi hidup manusia, hingga ia membawa pertanyaan paling mendasar yang belum juga bisa dijawab: apakah manusia punya keinginan bebas (free will)? Sementara sejauh ini seakan-akan teknologi telah mampu menguasai kunci-kunci alam (menguasai elektron, mengatur DNA, menyusun senyawa kimia yang rumit) namun teknologi tak berkutik pada waktu. Manusia tidak (atau belum) bisa menguasai waktu.

Impian menguasai waktu sebenarnya adalah impian paling primitif yang dimiliki akal budi: pergi ke masa lampau dan masa depan. Dengan menguasai waktu, kita akan bisa kembali ke waktu kecil kita dan merubah kesalahan-kesalahan masa lalu yang tidak perlu. Atau, pergi ke masa depan dan mengintip apa yang terjadi ketika kita telah tua renta. Namun bisakah itu terjadi? Bisakah kita membalik satu detik sehingga dari 2013 kita kembali ke 2012?

Banyak skenario ilmiah telah diajukan untuk mewujudkannya. Tentang bagaimana kita bisa benar-benar menjelajahi waktu, dengan sebuah alat yang disebut dengan ‘mesin waktu’, yang tidak hanya membuat kita bisa pergi ‘ke mana saja’ tapi juga ‘kapan saja’. Namun sedihnya, bahkan satu mesin waktu-pun belum bisa benar-benar terealisasi. Satu detik pun kita tidak bisa memundurkan atau memajukan waktu.

Fisika modern menjelaskan bahwa ruang dan waktu sebenarnya adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Einstein bilang, manusia bisa pergi ke masa depan dengan cara bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya. (Teori yang sudah kita dengar sejak SMP). Ketika kita pergi ke luar angkasa dengan pesawat cahaya, setelah satu tahun, kita akan kembali ke dunia dan menemukan sahabat kita telah menjadi tua renta (Misalnya: lima puluh tahun lebih tua dari kita) ini berarti kita telah pergi ke masa depan (lima puluh tahun). Namun siapa yang bisa membuat pesawat cahaya tersebut? Dengan energi sebesar apa? Dengan sumber daya apa?

Boleh dikatakan sulit mencapai impian itu dalam waktu dekat (jika tidak mau mengatakan itu mustahil). Atau di masa depan yang sangat jauh itu memang mungkin. Ya, di masa itu, mungkin orang sudah bisa menjelajah ke masa depan dan lampau. Namun muncul pertanyaan baru di benak para ilmuwan. Bukankah seharusnya, jika di masa depan benar ada mesin waktu, kita semestinya bisa menemukan banyak sekali orang dari masa depan telah mendatangi kita hari ini? Seharusnya ada orang dari masa depan ingin mengetahui bagaimana kehidupan masa lampau, yaitu kehidupan kita saat ini, dan mereka mendatangi kita dengan mesin waktu. Bahkan, seharusnya ada kabar tentang itu sejak dulu.

Ini memang menjadi rumit, memang hanya jadi imajinasi yang membuat kabur baris waktu antara kini esok dan kemarin. Yang jelas, cerita itu memang tidak pernah terjadi. Nyatanya, kehidupan kita berjalan seperti biasa. Waktu seakan tetap berkuasa, memaku kita dalam kondisi yang lumrah. Jika fisika modern telah menemukan 10 dimensi, maka dimensi ke sebelas tetaplah waktu. Waktu ada di mana saja dan menguasai apa saja. Lebih mudah mengatakan, seperti Dr Nick Bostrum dari Oxford pernah bilang, alam tidak mengizinkan manusia mengutak-atik waktu.

Maka kembali ke hari ini, di pergantian tahun 2012 ke 2013 ini, sejenak kita tinggalkan impian untuk menjelajahi waktu. Mari sejenak kita memikirkan waktu kita yang kita miliki saat ini. Waktu hidup kita. Karena waktu yang tak terbatas itu sebenarnya adalah terbatas, bagi diri kita. Terbatas oleh maut. Dan pada hari ini, detik ini, kita menjadi penguasa atas waktu kita, kita bisa merubah masa depan dengan bekerja keras sejak sekarang. Kita bisa menghapus masa lalu dengan menimbunnya dengan tumpukan peristiwa baru.

Tahun lalu, 2012 bisa menyimpan memori apa saja. Menyimpan memori bahagia karena kelulusan kita, atau kesedihan, atau ketakutan akan suatu hal yang tidak tercapai, namun percayalah, setiap detik, setiap waktu itu berputar, kita sebenarnya telah menjadi seseorang yang baru, kita lepas dari masa lalu dan juga masa depan, kita adalah kita saat ini. Dan saat ini kita bisa mengatakan bahwa kita berada di mesin waktu yang Allah ciptakan untuk diri kita. Ya, apalagi kalau bukan kesadaran kita, kenyataan bahwa kita hidup dan diberi Allah kenikmatan untuk berkehendak, sesuai dengan kehendak Allah.

Sains bisa memberi kita suguhan apa saja tentang dunia fisik, namun di dunia batin, hanya ada kebahagiaan hakiki dengan hanya mengingat Allah, dengan menyadari bahwa kita ini makhluk yang diciptakan dengan sempurna. Dengan itu, dunia kita selalu baru, kapan pun, di manapun, tanpa menunggu pergantian tahun pun. Mudahnya, dengan mengingat Allah, tiap detik adalah perubahan menjadi lebih baik.

Betapa indah merenungkan ayat-ayat ini.

“Demi waktu, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran” (QS. al-Ashr)

“Dan hendaklah tiap-tiap diri melihat apa yang ia persiapkan untuk hari esok…” (QS. al-Hashr 18)

Hanya sebuah renungan di pagi yang sangat dingin.

Taiwan 010113.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 7,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ashif Aminulloh
Mahasiswa Master of Semiconductor Technology di Asia University Taiwan. Penggiat Forum Lingkar Pena Taiwan dan Forum Mahasiswa Muslim Indonesia Taiwan.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Google Plus)

Memukul Anak Dalam Perspektif Pendidikan Islam