Home / Berita / Opini / Ketika Air Menuntut Haknya

Ketika Air Menuntut Haknya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Banjir. (siluetdunia.blogspot.com)
Ilustrasi – Banjir. (siluetdunia.blogspot.com)

dakwatuna.com – Musim kemarau sudah berganti. Setelah berbulan-bulan mengalami panas yang panjang, saat ini hampir semua wilayah Indonesia mengalami musim hujan. Hujan, seperti tertulis dalam banyak ayat Al-Qur’an, merupakan air yang turun dari langit dan merupakan rahmat dari Allah SWT bagi segenap manusia. Karena hujan, tumbuhlah berbagai macam tumbuhan yang menjadi sumber pangan dan kehidupan. Manfaat hujan dalam Al-Qur’an sering pula disebut dengan frase “hidupnya bumi setelah matinya”.

Namun, hujan pun sering dipersalahkan. Jika saat kemarau manusia begitu mengharap hujan karena banyak daerah kekeringan dan kekurangan pangan, saat hujan tiba pun timbul masalah baru. Hujan selalu dianggap sebagai penyebab utama banjir. Setiap tahun banjir selalu terjadi di banyak wilayah di Indonesia, bahkan bukan hanya di wilayah padat penduduk atau dataran rendah saja, dataran tinggi pun tak luput dari terjangan banjir. Sebut saja kota Padang yang diterjang banjir bandang pada akhir Juli lalu. Tidak hanya itu, Jakarta sebagai ibu kota Indonesia, setiap tahun selalu takluk oleh banjir. Hingga saat ini belum ada solusi yang mampu mengatasi banjir tahunan kota Jakarta.

Masih banyak lagi kasus banjir yang terjadi di Indonesia maupun dunia. Dampak yang ditimbulkan pun berbeda-beda bergantung seberapa parah banjir yang melanda. Ada banjir yang menghentikan denyut kehidupan selama beberapa hari atau beberapa jam saja namun ada pula yang menyebabkan kerusakan yang parah dan merenggut banyak korban jiwa. Salah satu banjir terparah dunia selama abad 20 adalah banjir sungai Kuning (sungai Huang He) di China pada 1931. Sungai Kuning di China saat itu menjadi rawan banjir akibat perluasan besar-besaran wilayah daratan di sekitarnya. Meluapnya sungai Kuning mengakibatkan sekitar 3 juta orang tewas dan lumpuhnya denyut kehidupan. Kematian dalam jumlah luar biasa ini tidak hanya disebabkan oleh tenggelam, tetapi juga wabah penyakit, kelaparan, dan kekeringan.

Timbul pertanyaan, apakah benar jika tingginya curah hujan dijadikan faktor yang paling bertanggung jawab? Manusia-manusia yang sadar akan lingkungan tentu menjawab tidak. Ambil contoh banjir bandang di Padang. Saat kejadian banjir bandang tersebut tampak ada beberapa pohon besar, serta bekas pohon ditebang yang dihanyutkan air. Dari fakta ini diduga kuat banjir ini disebabkan illegal logging atau penebangan liar yang terjadi di perbukitan sekitar lokasi banjir. Selanjutnya, kita semua tahu bahwa pangkal penyebab dari banjir Jakarta adalah tingkat kepadatan penduduk yang luar biasa tinggi. Begitu pula dengan kota-kota besar di Indonesia. Karena banyaknya manusia yang membutuhkan kehidupan, daerah resapan air beralih menjadi pemukiman, lahan, rumah-rumah, atau gedung-gedung. Air hujan yang semestinya teresap untuk berlanjut ke siklus berikutnya, tidak mendapat tempat hingga akhirnya meluap, memenuhi ruang-ruang yang bukan “haknya”.  Tidak hanya itu, rendahnya kesadaran untuk menjaga lingkungan pun menjadi faktor utama. Lihatlah bagaimana tumpukan sampah memenuhi sungai-sungai dan selokan. Sampah-sampah inilah yang menyumbat dan membatasi laju air. Inilah akibat jika menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya.

Kini, tampak jelas bahwa segala musibah yang diterima manusia adalah akibat perbuatan tangannya sendiri. Sungguh tidak sepatutnya menyalahkan hujan yang merupakan rahmat dari Allah SWT untuk manusia. Bayangkan apa yang terjadi jika hujan tidak turun sebagaimana waktunya, tumbuhan-tumbuhan mati, gagal panen meluas, air menjadi barang langka, tentulah akan mengerikan hidup dalam kekeringan dan kelaparan yang panjang.

Dalam Al-Qur’an, pedoman hidup sepanjang zaman, terdapat beberapa ayat yang menceritakan tentang banjir, di antaranya banjir yang menimpa kaum nabi Nuh, kaum nabi Hud, dan kaum Saba’. Semua kaum itu diazab dengan cara dimusnahkan oleh terjangan banjir disebabkan kekafiran dan kezhaliman mereka. Mereka yang berpaling dari peringatan Rasul-Nya tentu tidak akan beruntung. Al-Qur’an pun memuat banyak ayat perintah untuk menjaga keseimbangan alam, itu artinya Islam menempatkan alam dan lingkungan sebagai prioritas utama bagi manusia dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi.

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S. Ar-Rum: 41)

 

Ayat tersebut, secara eksplisit telah menerangkan bahwa kerusakan-kerusakan yang terjadi di muka bumi adalah akibat dari perbuatan tangan manusia. Baik yang berhubungan dengan lingkungan maupun bentuk kezhaliman lain. Banyak manusia yang mengeksplorasi bumi secara berlebihan tanpa mau mengembalikan keseimbangannya. Memang benar jika bumi seisinya ditundukkan Allah untuk kepentingan manusia, lalu pantaskah jika anugerah itu hanya diambil saja tanpa menghiraukan kelestariannya? Hingga akhirnya alam berbalik menyerang karena “haknya” tidak ditunaikan.

Seharusnya, maraknya berita banjir atau musibah lain yang sering kita saksikan di televisi atau media lainnya bukan hanya dijadikan buih dari lautan informasi yang berjejalan di setiap hari-hari kita. Musibah itu sudah selayaknya menjadi muhasabah bagi setiap diri, mengapa hal ini bisa terjadi, walaupun bukan diri ini yang mengalami. Mungkin kita jarang bermuhasabah atas derita yang menimpa orang lain, tentulah muhasabah itu lebih sering kita lakukan ketika diri kita sendiri yang tertimpa musibah. Namun, perlukah menunggu banjir menghampiri, baru kita mau bermuhasabah dan menyesal? Mungkin memang bukan kita oknum yang menebang hutan secara liar atau membangun gedung-gedung di daerah resapan air. Namun, yang membuang sampah tidak pada tempatnya? Mungkin kita salah satunya. Atau yang menyalahkan hujan, entah menyebutnya sebagai penyebab banjir, atau sederet omelan lain ketika hujan turun? Mungkin juga kita salah satunya.

Sudah saatnya untuk belajar lebih bersyukur dan membenahi sikap acuh kita pada lingkungan. Karena memang untuk itulah Allah SWT memberikan peringatan, yang sering kita sebut dengan “musibah”. Seperti pada surah Ar-Rum ayat 41, agar manusia kembali ke jalan yang benar, dalam arti kembali bersyukur dan ingat pada Allah SWT, kembali sadar untuk lebih peduli lingkungan, dan kembali sadar untuk senantiasa berada dalam kebajikan.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Seorang muslimah bernama Anisa Istiqfari. Mahasiswi jurusan Teknik Industri ITS angkatan 2011. Sejak kecil tinggal di Surabaya bersama kedua orang tua. Sejak kecil senang dengan dunia menulis walaupun jarang sekali mengirim tulisan ke media massa. Organisasi yang saat ini sedang diikuti adalah Masyarakat Studi Islam Ulul Ilmi (MSI-UI) yang merupakan Lembaga Dakwah Jurusan Teknik Industri ITS, dan Uswah Student Center Surabaya.
  • Mulai dari Diri dan Mulai dari Sekarang

    Contoh Kecilnya: Buanglah sampah pada tempatnya,

Lihat Juga

DPR: Indonesia Memiliki Modal Kuat untuk Selesaikan Konflik Rohingya