Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Selepas Tahun Baru

Selepas Tahun Baru

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (wallpapermania.eu)
Ilustrasi. (wallpapermania.eu)

dakwatuna.com – Segala puji hanya milik Allah, bahwa kita semua dalam keadaan sehat hingga beberapa hari bilangan tahun masehi itu berganti. Memberangkati tulisan ini, saya sematkan beberapa berita memilukan seputar pesta perayaan pergantian bilangan tahun kemarin.

Saya awali saja dengan informasi penjualan kondom yang meningkat pesat. Interpretasi atas peningkatan angka jual tersebut dapat saja sangat banyak, tetapi yang mungkin ada di setiap pikiran kita adalah kenaikan perilaku seksual bebas di malam itu. Kemudian kita lanjutkan dengan berita kecelakaan kendaraan bermotor. Berapa banyak nyawa yang melayang sia-sia akibat kecelakaan malam itu, dari hasil balapan liar, mabuk hingga menabrak orang, atau malah ngantuk lalu terlalu dalam menginjak pedal gas sampai akhirnya menghilangkan nyawa orang. Semua akibat semalaman ikut pesta perayaan.

Saat malam tahun baru itu, saya ada di rumah saja. Ada di depan laptop dan mendengarkan televisi, menyimak dengar berita dari setiap sudut penjuru negeri tentang perayaan yang sebenarnya hanya masalah pergantian bilangan saja. Sama seperti bergantinya bilangan detik, menit, jam, tanggal, bulan, tetapi kemarin itu tahun, tentang perjalanan bumi yang telah selesai mengelilingi matahari satu kali. Ini sebenarnya simple saja, bahkan bila saja kita mau menyadarkan diri, tidak banyak yang berubah dari pergantian detik ke 59 menjadi detik 00 yang di tunggu milyaran manusia bumi itu. Terlalu simple untuk kemudian perayaannya menyebabkan banyak nyawa manusia melayang.

Bilangan tahun berganti, bagi saya seharusnya bukan untuk dirayakan, tapi dilihat kembali ke belakang. Apa saja yang telah kita lakukan selama membersamai bumi mengitari matahari satu kali putaran itu. Banyak manfaat yang disebarkah? Atau banyak tidurkah? Atau banyak berbuat jahatkah? Dan atau-atau lainnya. Namun demikian, pada akhirnya saya sempat juga melebarkan toleransi dengan menganggap wajar bahwa banyak orang yang menganggap pergantian tahun itu menjadi istimewa, ya kita telah membersamai bumi berlari mengitari matahari. Setiap titik perjalanannya kita isi dengan berbagai keberhasilan, tetapi mungkin juga dengan sedikit pengalaman gagal. Namun (lagi), saya tidak sepakat apabila dengan perayaan hura-hura. Seperti hendak tidur dan menutup hari dengan sebuah evaluasi, seharusnya itu juga yang kita perbuat saat bilangan tahun itu ditutup dan berganti.

Mungkin juga pikiran saya yang tidak sampai dengan esensi perayaan itu. Berputar pertanyaan apakah ada keberhasilan yang perlu dirayakan? Atau ada sukses yang membersamai? Ada prestasi yang diraihkah? Atau sekadar ikut-ikutan orang saja? Sekadar ikut senang karena orang sebelah tertawa-tawa tanpa tahu pasti apa maksudnya. Sekadar ikut hura-hura karena orang sebelah juga jingkrak-jingkrak tanpa tahu apa yang dijingkraki dan hura-hurai. Jika mereka diseret ke polisi karena perilaku ngawur dalam perayaan itu, mungkin kita juga iya saja ikut diseret, karena kita tidak tahu.

Maka, berpikirlah tentang apa yang kita lakukan.

Dalam teori Behaviorism di ilmu psikologi, terdapat pembahasan mengenai stimulus dan respon. Teori ini membahas bagaimana jika ada sebuah stimulus datang, maka organisme akan melakukan respon langsung terhadap stimulus tersebut. Sayangnya teori ini tidak membersamai prosesnya dengan pikiran yang menggabungkan akal dan hati.

Jika melihat sejarahnya, teori ini ditemukan berdasarkan penelitian terhadap anjing, singkat cerita salah satu tokoh dalam aliran behaviorism,  Bapak Ivan Petrovich Pavlov, memberikan stimulus berupa daging yang datang bersama suara bel kepada seekor anjing, lalu anjing tersebut mengeluarkan liur yang sebenarnya merupakan respon terhadap stimulus daging. Begitu momen itu diulang beberapa kali hingga akhirnya daging tidak dikeluarkan, dan yang tertinggal hanya suara bel. Dan si anjing tetap saja mengeluarkan liurnya, karena dia melupakan atau bahkan tidak tahu esensi bahwa seharusnya ia mengeluarkan liur ketika ada daging, bukan karena ada bunyi bel. Jadi, stimulus-respon itu (tanpa pengaruh proses pikir) terjadi pada anjing yang walaupun termasuk memiliki kecerdasan, tetaplah anjing makhluk Allah yang masuk dalam jenis hewan, bukan manusia.

Kemudian kita bandingkan dengan manusia, sadarilah dengan pikiran jernih. Jika saja kita manusia normal, setiap stimulus atau informasi yang datang, masuk dalam otak kita melalui tangkapan indra, lalu di otak tentu saja hal ini diproses sedemikian rupa dengan ditambah dengan oleh pengaruh “hati” (qolbu), hingga akhirnya kita memutuskan sebuah respon. Proses inilah yang membedakan manusia dengan hewan, inilah yang disebut sebagai proses berpikir yang membedakan derajat manusia sebagai makhluk Allah.

Kembali kepada masalah tahun baru, tidakkah kita nyaris seperti “makhluk Allah yang lain” ketika langsung merespon saja tanpa mau berpikir. Saat memutuskan ikut-ikutan saja merayakan tahun baru dengan hura-hura, tanpa tahu ataupun tidak mau tahu terhadap esensinya. Yang penting senang-senang saja, tanpa mau tahu sejarah perayaan itu apa. Pergi ke mana pikiran yang membuat derajat kita berbeda dibanding makhluk Allah lainnya? Hingga akhirnya, jatuhlah banyak nyawa yang berpulang sia-sia, lembaran uang dibakar hanya untuk memuaskan mata, dan belum lagi masalah seks bebas yang merajalela. Ah, peduli apa bagi kita yang sedang lupa menggunakan pikirannya.

“… untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berpikir.” (QS. Al Mu’min, 40: 54)

Agama ini memang hanya untuk orang-orang yang berpikir. Itulah yang membuat manusia memiliki derajat lebih tinggi, hingga malaikat dan iblis pun diminta bersujud pada Adam AS, karena kemampuan berpikirnya. Lalu mengapa sekarang tidak lagi kita gunakan untuk perkara dunia? Perkara tahun baru misalnya.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Nuram Mubina
Seorang yang mencintai dunia psikologi dan proses mempelajari perilaku manusia serta menyenangi ketika menemukan keunikan mereka. Akan terus belajar dan belajar untuk menjadi sebaik-baiknya manusia yang bermanfaat bagi sesama.

Lihat Juga

Renovasi Rumah

Bisakah Rumah Saya di Tingkat 2 Tanpa Membongkar Lantai 1?