Home / Berita / Daerah / Pembiayaan Syariah di Kepri Melonjak 26 Persen

Pembiayaan Syariah di Kepri Melonjak 26 Persen

Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Batam. Perkembangan industri perbankan berbasis syariah di Kepulauan Riau, khususnya Batam selama satu tahun terakhir menunjukan peningkatan yang cukup signifikan. Hal tersebut bisa terlihat dari berkembangnya jaringan kantor bank syariah di Batam.

“Perbankan syariah masih berpotensi untuk berkembang di Kepri, karena selain bisa diterima masyarakat bank syariah sudah mulai banyak dilirik masyarakat sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan syariah,” jelas Amanlison Sembiring Deputi Direktur Kepala Kantor Perwakilan BI Batam belum lama ini.

Saat ini industri perbankan syariah Kepri menurutnya masih terfokus diwilayah Batam, hal tersebut dilihat dari data total aset, total kredit, dan total DKP yang dihimpun bank umum dan BPR konvensional dan Syariah di Kepri berada di Batam.

“Kita juga berharap daerah lain di Kepri juga bisa berkembang dengan hadirnya bank syariah maupun perbankan umum, agar layanan dan produk perbankan khususnya perbankan syariah dapat dirasakan masyarakat Kepri,” tuturnya.

Persaingan diantara perbankan tentu saja akan meningkat seiring dengan semakin banyaknya jumlah kantor bank umum dan BPR yang ada. Maka dari itu, BI sebagai regulator menghimbau agar persaingan tersebut tetap dijaga sehingga tidak menimbulkan persaingan yang tidak sehat.

“Dengan hadirnya perbankan baru di Kepri tentunya persaingan akan semakin meningkat namun kita berharap agar bisa sejalan bersama,” ungkapnya.

Dari sisi intermediasi perbankan syariah di Kepri sudah tergolong baik, hal tersebut tercermin pada rasio Financing to Deposit Ratio (FDR) selama 2012 yang stabil yaitu rata‑rata diatas 105 persen.

“Dari total aset, total pembiayaan dan total dana yang dihimpun pada perbankan syariah terjadi peningkatan untuk di wilayah kepri,” jelasnya

Untuk total aset bank syariah juga meningkat dari 18,05 persen (Rp 355,253 juta) total pembiayaan meningkat sebesar 26,50 persen (Rp 380,597 juta), termasuk total dana yang dihimpun ada peningkatan sebesar 27,38 persen ( Rp 355,155 juta).

Di samping itu, resiko kredit perbankan syariah menunjukan penurunan yang tercermin dari penurunan pada Non Performing Financial (NPF) dari 5,82 persen (Rp 83,663 juta) pada Desember 2011 meenjadi sebesar 3,05 persen (Rp 55,431 juta) pada oktober 2012 atau terjadi penurunan sebesar Rp 28,232 juta (33,74 persen). (Tribun Batam/adi/tribunnews)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Good Corporate Governance (GCG) di Bank Syariah dan Bank Konvensional