Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Sebab-Sebab Munculnya Kejenuhan Dalam Halaqah

Sebab-Sebab Munculnya Kejenuhan Dalam Halaqah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Ilustrasi (nyepsycho.wordpress.com)
Ilustrasi (nyepsycho.wordpress.com)

dakwatuna.com – Perjalanan mewujudkan halaqah/usrah yang dinamis tidaklah mudah. Butuh perjuangan untuk mewujudkannya. Tidak semua halaqah memahami urgensi mewujudkan halaqah/usrah yang dinamis dan menggairahkan. Jika tidak ada kesungguhan untuk mewujudkan halaqah yang dinamis, maka perlahan tapi pasti halaqah akan berubah menjadi menjemukan.

Kejenuhan itu muncul dari dua faktor, yaitu faktor yang berasal dari luar diri peserta dan faktor yang muncul dari peserta itu sendiri.

Faktor-faktor Penyebab Kejenuhan dari luar (eksternal) beberapa di antaranya:

1. Suasana yang monoton

Suasana yang monoton merupakan salah satu sebab munculnya kejenuhan dalam halaqah. Ini merupakan hal yang wajar. Sebab manusia pada dasarnya menginginkan suasana yang berubah dan sesuatu yang baru (dinamis). Tidak terperangkap dalam satu cara atau metode. Ketika halaqah berjalan dengan cara atau suasana yang monoton, maka besar kemungkinan peserta/mad’u akan merasa jemu.

2. Ketiadaan Keteladanan

Murabbi menjadi teladan bagi peserta/mad’u. Peserta menjadi teladan bagi peserta lainnya. Ketika Murabbi dan peserta tidak bisa memberikan keteladanan, maka halaqah berubah menjadi menjemukan. Contoh hilangnya keteladanan adalah ketika Murabbi mewajibkan peserta untuk hadir rutin, tapi ia sendiri jarang datang dengan berbagai alasan. Atau ketika ia meminta peserta datang tepat waktu, tapi ia justru sering terlambat. Atau hal lain ketika meminta peserta untuk bisa menghargai pendapat peserta lain, tapi ia sendiri tak bisa menghargai pendapat orang lain. Jika hal ini tak dapat dihindarkan, semakin potensial halaqah terjerumus pada suasana yang membosankan. Hal ini wajar, karena ketiadaan keteladanan membuat hilangnya kepercayaan dan nilai lebih suatu kelompok. Hal ini tentu berdampak pada suasana yang tidak nyaman dan membosankan.

3. Kurangnya upaya untuk saling memotivasi/mengingatkan

Suasana yang menjemukan bisa juga disebabkan murabbi/naqib dan peserta tidak saling mengingatkan atau memotivasi satu sama lain. Mereka mungkin terjebak pada rutinitas halaqah yang di anggap bukan masalah. Jika pun di antara mereka ada yang mengingatkan tentang pentingnya mendinamiskan halaqah, tidak ditanggapi serius oleh yang lain. Atau bisa juga pengingatan itu dilakukan, tapi tidak dilakukan secara rutin, supaya untuk mendinamiskan halaqah hanya bersifat temporer dan tidak berkesinambungan.

4. Konflik berkepanjangan

Kejenuhan dalam halaqah bisa juga disebabkan seringnya terjadi konflik di antara peserta. Konflik itu muncul karena berbagai sebab. Bisa karena perbedaan cara pandang, sifat/karakter atau karena perbedaan kebutuhan. Konflik yang berkepanjangan dalam halaqah biasanya bersifat laten, tidak muncul secara vulgar atau terang-terangan, sehingga jika murabbi atau peserta kurang jeli, maka mereka tidak mengetahui adanya konflik tersebut. Konflik yang tidak terselesaikan dalam halaqah dapat berdampak pada suasana yang menjemukan.

 

Adapun Kejenuhan dari Internal, di antara:

1. Kurangnya Keikhlasan

Salah satu sebab internal dari munculnya perasaan jemu adalah kurangnya keikhlasan. Karena ikhlas merupakan motivasi yang tertinggi, sehingga jika seseorang telah ikhlas, kecil kemungkinan ia dihinggapi perasaan bosan. Bahkan walau suasana monoton, tapi jika ikhlas mengerjakannya maka rasa bosan tak akan mudah menghinggapi. Namun jika keikhlasan berkurang, seseorang akan mudah tertimpa penyakit jenuh.

2. Maksiat

Sebab internal lain dari munculnya perasaan jenuh adalah sering seseorang melakukan kemaksiatan. Semakin banyak kemaksiatan yang dilakukan seseorang, semakin mudah ia tertimpa penyakit jenuh. Sebaliknya, semakin bersih seseorang dari kemaksiatan, semakin sulit ia tertimpa penyakit jenuh. Itulah sebabnya Nabi SAW tidak pernah jemu melakukan qiyamullail tiap malam. Hal ini juga berlaku pada halaqah. Jika peserta halaqah banyak melakukan kemaksiatan, maka kecenderungan untuk muncul rasa jemu akan lebih besar dibandingkan jika peserta menjaga dirinya dari kemaksiatan.

3. Kurangnya Pemahaman

Kejemuan juga bisa muncul dari kurangnya pemahaman tentang pentingnya suatu pekerjaan. Orang yang cepat bosan melakukan suatu pekerjaan biasanya karena kurang paham manfaat dari pekerjaan tersebut. Misalnya, peserta yang menyadari pentingnya halaqah tentu akan lebih sulit tertimpa penyakit jemu daripada peserta yang mengikuti halaqah karena ikut-ikutan tanpa mengetahui urgensi dari halaqah itu sendiri. Wallahu’alam.

Di sadur dari buku “Menggairahkan Perjalanan Halaqah”. Oleh: Ustadz Satria Hadi Lubis, MM. MBA

Advertisements

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Kusrin, S.PdI
Lahir di Pasaman bulan November 1984. Pendidikan terakhir UIN Bandung. Sekarang mengajar di SMP IT Darul hikmah Pasaman Barat Simatera Barat. Punya hobi menulis, membaca, traveling.

Lihat Juga

Pejuang Al-Quran