Home / Pemuda / Cerpen / Raja Jalanan

Raja Jalanan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Terminal bus Pulo Gadung, Jakarta Timur (beritajakarta.com)
Ilustrasi (beritajakarta.com)

dakwatuna.com – Bus maut itu melaju kencang. Lincah melesat mendahului kawanan lainnya. Tak peduli nyawa-nyawa yang meronta dan menjerit ketakutan, yang Kasmin tahu dia harus membawa uang setoran yang melimpah. Jika tidak, ia harus mendapat petaka di atas petaka. Di marahi oleh bos pemilik kendaraan, gigit jari karena tak ada uang, di omeli habis-habisan oleh pemilik kontrakan sebab telat membayar kontrakan rumah, utangnya yang menggunung pada ibu warteg pangkalan. Belum lagi sang istri dan mertua yang terus menelepon minta kiriman uang untuk biaya sekolah ketiga anaknya yang masih kecil dan biaya hidup di kampung.

Sudah enam bulan ini Kasmin mengadu nasib di Jakarta. Pekerjaannya sebagai petani bawang di Brebes tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Belum lagi biaya sekolah ketiga anaknya. Setidaknya, hidup di Jakarta, ia memiliki penghasilan yang cukup baik, walaupun pengeluaran kebutuhan hidup pun sama dahsyatnya.

Ia masih ingat betul bagaimana awal-awal ia merantau di Jakarta, mencoba mencari kerja di Jakarta tak semudah yang ia bayangkan. Mulai dari menjadi tukang gali kabel listrik, karena tak becus bekerja ia tak dapat jatah kembali, kemudian pedagang asongan, hingga pengamen jalanan. Semuanya tak membuahkan hasil, hanya membuahkan utang.

Beruntung Kasmin mudah bergaul dengan siapa saja. Ia ditawari oleh seorang teman untuk menjadi supir tembak. Tak butuh syarat apapun, yang penting mampu mengendarai bus dan bermental baja. Jika ramai penumpang, penghasilannya lumayan banyak. Jika sepi resikonya mesti gigit jari. Seperti saat ini.

Untuk menjadi supir tembak harus pandai-pandai melobi sang juragan pemilik bus, minimal pandai melobi rekan sejawatnya sesama supir tembak. Sebab dalam sehari, satu buah bus untuk jatah sekitar enam orang supir tembak. Masing-masing mendapat jatah empat jam untuk dua putaran. Dengan jatah setoran lima puluh ribu untuk empat jam.

Belum untuk biaya bahan bakar yang harus diisi sendiri. Beruntung bila bahan bakar sudah terisi oleh yang lain. Bila belum, Kasmin harus rela mengeluarkan uang minimal dua puluh ribu untuk mengisi bahan bakar. Walaupun tidak mesti setiap hari.

Jika dalam empat jam Kasmin hanya mendapat seratus ribu, berarti sisa uang di tangan Kasmin hanyalah tiga puluh ribu, itu masih harus dibagi dua dengan sang kenek. Jadi Kasmin hanya mendapat lima belas ribu saja. Untuk makan di warteg, untuk membayar sewa rumah akhir bulan, untuk mengirim uang di kampung tiap akhir pekan. Bersyukur kalau Kasmin bisa mendapatkan lebih. Kalau tidak? Ia tinggal gigit jari.

Menjadi supir tembak kadang tak semudah yang dibayangkan. Ada waktu-waktu tertentu yang mesti di rebutkan. Misalkan saja waktu orang-orang berangkat kerja, berkisar dari pukul tujuh sampai dengan pukul sembilan. Di atas pukul sembilan, biasanya penumpang agak sepi. Akan ramai kembali saat orang-orang pulang kerja. Mulai pukul empat sore hingga pukul tujuh malam. Di atas itu penumpang tak begitu jubel, hanya kemacetan kota Jakarta yang Kasmin dapat.

Apalagi dewasa ini, masyarakat ibukota telah beralih ke angkutan lain seperti transjakarta dan sepeda motor. Bayangkan saja, setiap hari jalanan makin dipenuhi pengendara motor. Sedangkan angkutan-angkutan umum jadi sepi penumpang.

Jadi semua salah siapa? Sistem? Atau dealer motor yang mudah memberikan kredit motor murah bagi masyarakat? Atau pemerintah yang tak mengawasi pajak kendaraan bermotor? Embuh! Kasmin tak mau ambil pusing, yang penting perutnya yang sudah keroncongan sedari tadi segera terisi.

Mereka menyebutnya waktu emas. Supir yang mendapatkan jatah pada waktu-waktu tersebut akan panen penumpang. Sementara yang mendapatkan waktu lain harus kuat-kuat menekan pedal gas. Merebutkan penumpang.

Lampu lalu lintas merubah menjadi merah nyala, pertanda semua kendaraan mesti berhenti sejenak. Kasmin mengelap seluruh peluhnya yang mengucur deras. Pengap dan Panas menyengat. Ah, Jakarta memang kota yang panas menyengat, berpolusi dan pengap. Di depan bus nya, sudah ada ratusan kendaraan roda dua yang siap menyerbu jalanan begitu lampu lalu lintas berwarna hijau.

Asap knalpot tiap-tiap kendaraan makin tebal di udara. Bukan main pengapnya. Pantas saja jika pengendara kendaraan itu rentan dengan penyakit infeksi saluran pernapasan atas. Belum lagi asap rokok yang mengepul di tiap sudut jalan raya.

Kasmin mengelap lagi peluhnya dengan handuk warna biru usang yang melingkar di leher. Sambil sesekali melihat kaca spion. Di sana ada dua bus berada di belakang bus Kasmin, siap adu nyali.

Brum…! Brum…! Brum…!

Kasmin makin kencang menekan pedal gas, bersiap-siap adu nyali dan adu kecepatan, mempertaruhkan predikat raja jalanan.

Di pintu belakang bus, sang kenek terus berteriak-teriak menjajakan bus tuanya.

“Minggu, Minggu, Minggu.”

“Udah penuh, bang!” Protes penumpang di dalam bus.

Ada-ada saja memang kenek bus terkadang, bus sudah penuh sesak masih saja ditawarkan ke orang-orang. Terkadang ada unsur berbohong di sana. Sering mengatakan bahwa masih ada tempat duduk yang kosong. Padahal penumpang yang berjubel terlihat sebenar-benarnya.

Sang kenek acuh. Seperti Biasa.

Brum….! Brum…! Brum….!

Lampu kuning menyala. Kasmin semakin menekan kuat-kuat pedal gas. Matanya bukan lagi raja jalanan. Entah, sebab faktor ekonomi ia menghalalkan segala cara, mengubah raja jalanan itu menjadi setan jalanan.

Bruummmm…..!

Begitu lampu hijau, Kasmin dan rekan sejawatnya mengubah jalanan umum kapten tendean seperti arena balap liar. Menganggap pengguna jalan yang lain hanyalah kerikil-kerikil tak guna yang mesti disingkirkan. Menganggap penumpang di jalanan layaknya karung beras. Bahkan karung beras saja pun masih ada harganya, di bawa sebaik-baiknya, agar dapat terdistribusi dengan baik ke perut-perut yang lapar.

“Yihaaaaaa……!” Sang kenek bus berteriak seperti kesetanan. “Taaarriikkkkk….!”

Sebagian penumpang tampak berdzikir, walau hanya bentuk gerakan bibir. Yang lainnya ada yang kuat-kuat memegang kursi atau apapun. Sebagian masih sibuk mendengar musik via ponsel. Sebagian lagi menjerit-jerit ketakutan. Meminta pengampunan sang supir yang siap mengeksekusi.

“Hati-hati, bang, banyak anak kecil.”

“Memang kita karung beras?”

“Astaghfirullah…! Astaghfirullah…! Astaghfirullah…!”

Mendengar jeritan para penumpang Kasmin tetap tak bergeming, yang ia tahu, penumpang harus bertambah, agar bertambah pula penghasilan. Terpenuhinya setoran.

Bus Kasmin saling beradu kecepatan dengan bus di sampingnya. Terkadang bus Kasmin yang di belakang, terkadang pada posisi terdepan, terkadang pula saling adu samping. Benar-benar raja jalanan. Tak peduli dengan pengguna jalan lainnya.

Dahsyatnya, pamor Kasmin dan kawan-kawannya mampu mengalahkan pamor pengaman presiden ketika lewat di jalanan, yang selama ini begitu ditakuti masyarakat.

“Bus sialan!” Seru pengendara motor roda dua yang hampir saja ditabrak oleh Kasmin. “Ingin mati, ya!?!”

Kasmin sudah terbiasa mendapatkan sumpah serapah dari pengguna jalan lainnya, terlebih dari pengendara motor beroda dua dan pejalan kaki yang selalu hampir ia tabrak. Bukan main seramnya sumpah serapah yang terlontar. Dan yang paling seram adalah sumpah serapah kematian.

Beginilah nasib supir tembak, harus mencari nafkah berlomba dengan kecepatan waktu. Ia tak bisa leluasa menjajakan jasa busnya seharian penuh, sebab ada perut-perut lapar lainnya yang sedang menunggu bus tua sewaannya. Dalam sehari, minimal ia harus bergantian dengan lima supir tembak lainnya.

Begitulah Kasmin selalu membela diri untuk menghalalkan segala perbuatannya. Ia tak peduli dengan pengguna jalan yang celaka, yang penting keluarganya di kampung dapat terpenuhi kebutuhan hidupnya.

Kasmin dan sang kenek meringis. Melanjutkan uji nyalinya. Ia sudah tertinggal jauh dengan bus saingannya. Ia tak mau melewatkan kesempatan. Jangan sampai ia kehabisan penumpang.

“Bruuuuuuummmm……”

Kasmin dan sang kenek makin kesetanan. Apalagi setelah penumpang satu per satu turun, membuat busnya makin lengang. Makin beringas pula Kasmin.

“Tabrak….! Hajar terus….! Hajar terus….!” Seru sang kenek membuat Kasmin memanas. Semua kendaraan berhasil dilewatinya dengan lincah. Membuat motor-motor roda dua pun takut bukan kepalang, dan lebih memilih untuk meminggirkan kendaraan, atau sebisa mungkin menjauh dari bus Kasmin yang sedang mengamuk tak karuan.

Berbagai sumpah serapah dan makian para penumpang yang ketakutan, sama sekali tak dihiraukan Kasmin.

“Astaghfirullah…!” Semua penumpang menjerit.

Semua penumpang terjungkal, sebab bus Kasmin yang mengamuk berhenti tiba-tiba.

“Sial!” Runtuk Kasmin.

“Kita nyerempet pejalan kaki, bang!” Sang kenek ketakutan “Ibu dan anak. Parah sepertinya, Bang.”

Belum sempat Kasmin berpikir, para penumpang berhamburan turun. Secepat kilat massa sudah mengepung busnya. Siap menghancurkan bus tuanya dengan batu-batu besar di kepalan tangan. Tak sedikit pula membawa batang-batang kayu yang tak kalah seramnya. Massa kali itu amat menyeramkan. Seperti siap menelan bulat-bulat Kasmin dan sang kenek.

“Turun, lo!” Semua massa berebut ingin menyantap Kasmin dan sang kenek.

Kasmin seakan melihat pintu kematian dihadapannya. Haruskah ia berakhir seperti ini. Mati diamuk massa yang beringas. Bagaimana dengan utang-utangnya? Ketiga anaknya yang masih memerlukan biaya sekolah? Istri dan mertuanya di kampung?

“Ampuuuun bang…. Ampuuun bang….” Rintih sang kenek kesakitan. Diamuk massa hingga babak belur.

Kasmin sendiri, kabur!

lll

Hosh…! Hosh….! Hosh….!

Nafas Kasmin tersengal. Kejadian tadi betul-betul menyeramkan. Ia harus bertindak cepat, setidaknya untuk saat ini ia harus lepas dulu dari amukan massa. Ia tak ingin mati konyol di tangan massa yang sedang geram.

Mematikan ponsel. Jangan pulang ke kontrakan, tetapi langsung ke terminal bus dan pulang ke Brebes. Ya! Pulang ke Brebes. Pikir Kasmin cemas.

Kasmin membenarkan semua niatnya. Dengan uang setoran yang masih Kasmin pegang, Kasmin pulang ke Brebes dengan menaiki bus antar kota antar provinsi. Sepanjang perjalanan Kasmin merasakan rindu yang teramat pada keluarga. Penyesalan itu mulai datang. Ya! Kasmin sadar akan kesalahan fatalnya. Tak pernah terfikirkan sebelumnya di benak kasmin bahwa ia akan menjadi seorang pembunuh, walau itu bentuk dari ketidak sengajaan, tetapi tetap saja ia sudah menghilangkan nyawa orang lain.

Kasmin sebenarnya sudah pasrah, jikalau memang ia harus masuk penjara. Setidaknya ia memiliki kesempatan bertemu dan berpamitan dengan keluarga tercinta.

Esok harinya, begitu Kasmin sudah sampai di muka halaman rumah mertua, halaman rumah mertua tampak penuh sesak dengan warga sekampung.

Kasmin jadi ragu melangkah .Jangan-jangan kabar tabrak larinya di Jakarta sudah sampai di kampung?

Dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan, Kasmin melanjutkan langkahnya. Begitu sampai, semua warga memeluknya iba. Pasti mereka ingin menghibur musibah yang menimpanya.

Sementara itu di dalam rumah, mertua dan kedua anak terkecil Kasmin yang ditemani oleh warga, sedang menangis meraung-meraung. Kasmin semakin heran. Matanya terus mencari melihat ke sekeliling. Ia baru sadar, sedari tadi tidak ada sang istri, di manapun.

“Ada apa, bu?”

“Sabar, Min.” Hibur seorang warga sambil menepuk pundak Kasmin.

Bojomu… Bojomu karo anakmu sing barep….” Ibu mertua Kasmin sesenggukan.

Belum sempat Kasmin melanjutkan keheranannya. Rombongan ambulan datang dan polisi datang.

Semua berhamburan keluar rumah. Menuju halaman. Kasmin sangat terpukul begitu melihat sang istri dan anak lelakinya yang pertama dikeluarkan dari mobil ambulan dalam keadaan terbujur kaku dan terbungkus kain kafan.

“Ada apa ini sebenarnya? Kenapa bisa begini?” Air mata Kasmin mulai mengucur deras.

“Cahyo, anakmu, minggu kemarin pembagian rapot. Ia minta diantarkan berlibur ke Jakarta, katanya rindu dengan bapaknya. Baru lusa kemarin istrimu dan Cahyo pergi ke Jakarta, katanya ingin membuat kejutan, tetapi malah kami yang terkejut.”  Ayah mertua menjelaskan panjang lebar. “Semalam kami mendapatkan kabar dari bapak polisi, kalau istri dan anakmu menjadi korban tabrak lari. Ditabrak oleh bus yang sedang mengamuk. Kenek bisnya tewas dihajar massa, sedangkan supirnya sendiri melarikan diri entah ke mana. Belum terlacak, karena dia supir tembak.”

Bagai tersambar halilintar di siang bolong, Kasmin terduduk lemas. Mana mungkin… mana mungkin…

Kemudian bapak polisi menyebutkan plat nomor bus maut itu. Plat nomor yang tak asing lagi di telinga Kasmin.

“Cahyooo…. Sutiii….!!!” Tangis Kasmin meledak.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sari Asma Anggar
Penulis berkulit sawo matang ini sudah menyukai dunia tulis menulis sejak masih berusia 8 tahun. Baginya, menulis merupakan suplemen jiwa. Alasan lain yang membuatnya menyukai dunia tulis menulis adalah Dengan tulisan, bisa jadi kita mampu mengubah peradaban
  • Ironis, Jakarta memang selalu menjadi magnet untuk mengadu nasib, namun satu hal yang harus di ingat “jangan kejakarta bila tak memiliki skill”.

Lihat Juga

Fokus Kerja Fokus Menang