Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menghargai Kehidupan

Menghargai Kehidupan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Sukses (safruddin.wordpress.com)dakwatuna.com – Ibadah ritual (hablum minallah) belumlah cukup, sehingga harus dibuktikan lagi di tengah-tengah pergaulan dengan sesama manusia (hablumminannas). Kecintaan kepada Ilahi dinyatakannya dalam bentuk penuh manfaat yang bersulam kasih kemanfaatan. Hatinya akan terus-menerus diketuk, sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Sehingga, tampaklah akhlak keteladanan di manapun dia berada. Di jalanan, di perkantoran, di pasar, di lorong-lorong sempit, bahkan dalam rumah tangga yang telah tegak disiplin untuk menghargai, menyayangi, orang dan makhluk lain.  Di jalanan dia tidak akan melanggar rambu-rambu lalu lintas. Sebab pelanggarannya berarti pengkhianatan terhadap Ilahi dan nilai kemanusiaan yang telah bersepakat menaati peraturan.

Begitu juga para pegawai yang berdinas di kantoran akan menunjukkan akhlak yang mulia. Jangankan niat untuk korupsi, jangankan berdalih ini dan itu mengambil uang rakyat, sekadar datang terlambat saja jiwanya bergetar karena takut dikategorikan sebagai orang munafik yang melanggar janji. Begitu juga pedagang yang di pasar, jangankan untuk riba, menimbun barang, untuk sekadar berbohong tentang harga pokok saja kaku lidahnya. Ini semua sebagai bentuk nyata dari aplikasi ritual dalam bentuk akhlak pergaulan dalam masyarakat.

Kita menyaksikan di negara non muslim menemukan Islam, tetangga dekat kita Singapura justru yang menerapkan amalan Islam sehingga dikenal dengan negara terbersih di dunia. Begitu juga negara Jepang yang kita kenal disiplin, pegawainya malu sama istri dan anaknya kalau mereka pulang sebelum jamnya, mereka juga menerapkan kerja keras bahkan melebihi jam kerja mereka. Begitu mereka menjaga kehidupan dan melestarikannya.

Dalam bentuk lain kita bisa melakukan amalan yang mungkin sepele dan tak terpikirkan bagi orang kebanyakan, bahkan sebagian menganggap hanya buang waktu dan tak memberi manfaat. Amalan itu adalah menyelamatkan makhluk Allah lainnya yang sedang tak berdaya. Semisalnya seekor semut yang terjebak dalam genangan air, belalang yang hanyut. Coba sejenak kita perhatikan bagaimana dia tergapai-gapai menggerakkan seluruh tenaganya untuk keluar dari jebakan itu. Andaikan Allah beri kita kemampuan untuk mendengar dan mengerti bahasa hewan, niscaya kita tak kuasa mendengar pertolongannya. Begitu juga hewan lain, kupu-kupu, lebah yang kehilangan akal ketika terjebak dalam ruangan yang berkaca, mereka kehabisan akal untuk jalan keluar. Setiap mereka mencoba terbang, lagi-lagi menabrak dan terjatuh.

Kalau kita yang sudah terbiasa beramal atas panggilan jiwa dan hati tentunya tidak akan tega melihat makhluk Allah saw tersebut terjebak lalu kehabisan tenaga dan mati. Tentunya dengan ringannya tangan kita, membantu menyelamatkan makhluk tersebut.

Dalam Hadits Rasulullah yang diriwayatkan HR Abu Daud dan Tirmidzi, “Orang yang berbelas kasih pasti dikasihi yang Maha Pengasih. Berbelaskasihlah di bumi, niscaya para penghuni langit akan berbelas kasih kepadamu sekalian”.

Kita tidak tahu amalan mana yang dapat mengantarkan kita masuk ke surga, jangan kita mengecilkan amalan kecil dan meremehkan amalan remeh. Kita masih ingat kisah seorang wanita yang konon kabarnya ahli ibadah tapi akhir hidupnya masuk neraka, dikarenakan mengurung seekor kucing, tidak dirawat, tidak dikasih makan hingga kucing itu mati.

Di kisah lain diceritakan pula seorang wanita pelacur/tunasusila yang menyelamatkan seekor anjing dari kehausannya, wanita itu melihat seekor anjing yang lagi terengah-engah menjulurkan lidahnya karena menahan haus yang sangat, lalu wanita ini dengan panggilan hatinya melepas slopnya lalu mencari air dan dikasihkan ke anjing tadi.

Begitu besar pengaruhnya menghargai sebuah kehidupan. Ibadah yang kita miliki belum tentu menjadi tiket ke surga kalau kita masih merasa enggan untuk saling berbagi dan membantu sesama makhluk Tuhan. Dan amalan yang kita anggap kecil dan remeh justru bisa mengantarkan seseorang masuk surga.

Begitu juga bagi seorang kepala keluarga betapa besar pahala yang ia dapat karena telah berusaha keras untuk menghidupi keluarganya. Tak kalah penting juga pengusaha yang menghidupi puluhan, ratusan bahkan ribuan karyawannya. Mari kita menghargai kehidupan dengan amalan terbaik kita, dengan segala kemampuan kita. Jangan meremehkan yang kecil dan jangan mengecilkan yang remeh. Wallahu’alam.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 4,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Kusrin, S.PdI
Lahir di Pasaman bulan November 1984. Pendidikan terakhir UIN Bandung. Sekarang mengajar di SMP IT Darul hikmah Pasaman Barat Simatera Barat. Punya hobi menulis, membaca, traveling.

Lihat Juga

Meretas Cinta Jalan Kepahlawanan