
Mungkin sebagian dari kita, bertanya-tanya. Mengapa kita berada di jalan ini? Jalan ini bukanlah jalan yang ditaburi bunga-bunga harum, bukan jalan yang mudah ditempuh. Namun, jalan ini adalah jalan yang penuh onak dan duri. Jalan yang tidak semua orang bisa menikmatinya dengan penuh ketabahan, kesabaran, dan keistiqamahan.

Ketika menghidupkan malam sudah hilang kelezatannya… Ketika Masjid Mulai ditinggalkan… Ketika berkumpul dengan orang shalih terasa hambar… Ketika Hati tak lagi merindu… Ketika diri semakin Terbelenggu… Ketika kegelisahan dan keraguan bercampur menjadi satu… Dan seolah ingin melepaskan semuanya tapi diri ini merasa berat…

Seorang anak bisa saja mewarisi sifat dari ayahnya tapi tidak bisa mewarisi keimanannya. Betapa mahalnya harga sebuah iman, tidak dapat di warisi dan tidak dapat di beli bahkan oleh nyawa sekalipun. Iman tiada berceceran di manapun, karena ia hanya berada di tempat tersembunyi nan suci yaitu di kedalaman hati.

Adalah Nabi Yusuf Alaihissalam salah seorang pengemban dakwah itu. Dia pernah digoda dan dirayu oleh seorang istri penguasa di zamannya dengan perhiasan dan keindahan parasnya. Peristiwa ini disebutkan dalam firman Allah Ta’ala, “Dan perempuan yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya menggoda dirinya. Dan dia menutup pintu-pintu, lalu berkata, “Marilah mendekat kepadaku.” Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah, sungguh, tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang yang zhalim itu tidak akan beruntung.” (QS. Yusuf: 23)

Rabb, nafas demi nafas yang kuhirup tiada harga, Kau berikan padaku dengan cinta. Rabb, nikmat demi nikmat dunia Kau silih pergantikan, selalu saja namun Kau tak pernah mengazabku secara langsung kala ku lupa bersyukur. Rabb, ujian demi ujian bagiku, setelah kucermati, tak pernah melebihi derita dakwah NabiMu, yang diejek dan ditertawakan dalam amal. Aku menjadi malu kalau tak mampu sabar seperti khalil-Mu.

Salah satu kesabaran seorang anak manusia adalah ketegaran dari perlakuan zhalim yang dia terima. Ketika kehidupan bermasyarakat sudah mensyaratkan kasta-kasta, lalu ego manusiawi turut meramaikan pergolakan hati. Antara ambisi pribadi dan panggilan nurani yang ingin selalu memberi. Pun saat dunia kerja tak lagi mampu dipercaya. Kemudian tercipta kesenjangan antar golongan, pemimpin dengan bawahan, yang kaya dengan yang kurang berada.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyatakan, secara hukum Islam anak yang lahir dari hasil hubungan di luar nikah tidak memiliki hak perwalian dari bapak biologisnya. “Anak perempuan yang lahir di luar perkawinan, ayah biologisnya tetap tidak boleh menjadi wali saat anaknya menikah,” kata Said Aqil di Jakarta, Selasa (28/2).

Ormas Islam bernama Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) dideklarasikan. Tujuannya untuk membantu umat dan bangsa dalam menghadapi berbagai persoalan berdasarkan otoritas ulama. Dalam acara deklarasi hadir sejumlah pejabat negara seperti Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD dan Ketua KPK Abraham Samad, Wakil Ketua KPK Bambang Widjajanto dan Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin dan tokoh partai politik.

Wakil Kepala Biro Politik Hamas, Musa Abu Marzuq mengatakan, bahwa dirinya dan pejabat Hamas lainnya yang tersisa di Suriah mulai saat ini resmi meninggalkan Suriah, dikarenakan kondisi yang semakin buruk akibat serangan membabi buta yang dilancarkan pemerintah Basyar Asad terhadap kubu oposisi.

vAksi penggalangan dana untuk rakyat Palestina yang berlangsung di sejumlah wilayah di NTB berlangsung sukses. Dalam aksi yang digelar 23 hingga 26 Februari tersebut terkumpul dana Rp 565.921.000. Penggalangan dana untuk rakyat Palestina, dilakukan di sejumlah tempat, seperti di Sumbawa Barat, Lombok Timur, dan Kota Mataram. Khusus di Kota Mataram, penggalangan dana dilakukan Senin kemarin di dua tempat, Narmada Convention Hall dan Hotel Lombok Raya Mataram malam harinya.