Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Lebih Baik Densus 88 Makan Bakso Saja!

Lebih Baik Densus 88 Makan Bakso Saja!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Bakso. (ser-bu.blogspot.com)
Ilustrasi – Bakso. (ser-bu.blogspot.com)

dakwatuna.com Aroma bawangnya menusuk hidung. Mienya buatan sendiri, seperti mie kocok namun ukurannya lebih kecil. Taburan daging ayam cincang goreng pengganti bawang goreng membuatnya menjadi beda. Inilah bakso 99. Warung bakso yang ada di daerah Bekasi. Sore itu akhirnya saya bisa menikmatinya. Gegara menang kuis di Facebook. Tak seberapa memang hadiahnya, namun ini sentuhan persahabatan. Beda. Nama warungnya memang cukup unik; Bakso 99.

“Kenapa memakai nama ini?”  Tanya saya bak wartawan Metro TV pada penjual yang tak lain adalah teman kampus saya.

Dia tersenyum karena sebelumnya saya sudah menebaknya dalam kuis. Iya, diambil dari Asmaul Husna yang berjumlah 99. Namun banyak kemungkinan yang muncul di isi batok kepala saya, nama warungnya Bakso 99 karena;

Pertama; Jumlah bakso yang dihidangkan dalam mangkok ada 99 biji (halah)

Kedua; Seporsi bakso seharga Rp.9.900,- (Rp. 100,- sisa kembalian untuk membayar donasi ke PMI).

Ketiga; Kalau namanya Bakso 88 nanti kayak salep kulit?

Keempat; Kalau namanya Bakso 88 nanti kayak Densus 88 dong?

Ough! Yang terakhir yang saya sebut, yang kehadirannya musiman, sepertinya menjadi bahan diskusi yang cukup ‘seksi’. Apa bedanya Densus 88 dan Bakso 99? Barangkali pertanyaan ini nanti muncul di ujian nasional.

Ah, ngawur! Mana mungkin soal antara Densus 88 dan Bakso 99 bisa muncul di ujian nasional?

Lho, siapa tahu? Lha wong, pertanyaan di ujian CPNS saja ada yang berbunyi seperti ini; apa lagu ciptaan SBY yang masuk dalam album ketiga?”. Pilihan jawabannya, antara lain Matahari Bersinar, Sinar Mentari, dan Mentari Bersinar.

Baiklah, kembali ke perbedaan antara Densus 88 dan Bakso 99. Kita lihat secara definisi terlebih dulu, kalau Densus 88 atau Datasemen Khusus 88 merupakan pasukan elit Mabes Polri yang bertugas menanggulangi terorisme dan penegakan hukum domestik Indonesia. Dianggotai (sepertinya bahasa ini kurang menarik, saya ganti menjadi “beranggotakan”) kurang lebih 400 personil, densus 88 terdiri dari para ahli investigasi, tim gegana dan penembak jitu diharapkan mampu meredam terorisme yang kian marak menghantui kehidupan di Indonesia sehingga melunturkan kepercayaan dunia luar terhadap keamanan dan stabilitas negara.

Pelbagai hal yang beraroma bawang eh maksud saya beraroma “teroris” akan diberangus oleh team – yang setiap penggerebekan ramai sekali seperti rombongan sirkus – ini terutama orang-orang yang berjenggot, celana ngatung atau memakai gamis dan pernah berjihad di konflik Ambon maupun Poso, atau apapun kegiatannya yang dalam upaya membantu saudaranya yang di bantai semacam di perang Bosnia, Ambon, Poso dll. Sejatinya team ini di bentuk dan didanai oleh Negeri Abang Sam untuk memberangus musuh Islamnya karena Amerika dan Bos-nya Amerika yaitu Israel takut akan kebangkitan Islam terutama kaum mujahidin yang terbukti tangguh dalam medan peperangan dalam mengusir penjajah di negaranya dan berusaha sekuat tenaga untuk membentuk public opinion bahwa mujahidin sama dengan teroris. Mungkin juga Rohis juga teroris.

Nah, sementara Bakso 99 adalah warung makan yang menyajikan bakso dari daging sapi asli 100% tanpa oplosan babi hutan atau celeng. Yang aroma bawangnya mengundang nafsu makan para pejalan. Bakso ini permodalannya pakai model keluarga tanpa didanai oleh Amerika. Lalu, kalau Densus 88 itu tugasnya menyerang mujahidin, sementara Bakso 99 dibuat oleh seorang mujahid yang aktif jihad di lembaga dakwah kampus. Pembuatnya bercelana ngatung dan berjenggot tipis. Bakso ini tak termakan isu bakso celeng yang pelan-pelan mematikan dagangan para penjual bakso lain.

Ah, iya. Saya lupa satu hal. Warung Bakso 99 sebelumnya itu bernama Bakso Jakarta, namun karena papan reklame yang bertuliskan Bakso Jakarta terkena angin dan jatuh menimpa warung yang mengakibatkan kerusakan dan kerugian akhirnya diganti menjadi Bakso 99. Mungkin ini teguran dari Allah SWT karena penamaannya yang salah.

Tetiba saya jadi ingat dengan usulan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (28/5) yang mengusulkan kepada pemerintah agar membentuk Tim Densus 99 Antiteror untuk memburu koruptor atau teroris ekonomi di Indonesia. “Kalau Tim Densus 88 untuk memburu teroris, tapi Densus 99 khusus memburu koruptor. Sebab, koruptor bangsa ini tidak jauh beda dengan teroris, bedanya koruptor merupakan teroris ekonomi,” begitu katanya.

Usul lama yang masih menarik untuk disimak. Atau kalau perlu Densus 88 ditiadakan saja namanya dan diubah namanya menjadi Densus 99. Bakso saja peka terhadap peringatan Tuhan, masa Densus enggak? Atau Densus 88 perlu makan bakso yang banyak agar tepat sasaran?

Mari santap Densus 88 eh maksudnya Bakso 99. Yummy!

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 9,29 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhammad Sholich Mubarok
Koordinator Syiar Humas Badan Dakwah Rohani Islam (Badaris) BSI Jakarta. Menulis bagi saya adalah kebutuhan tak ubahnya makanan jiwa. Kebahagiaan sebagai seorang penulis ketika tulisan saya mendatangkan manfaat buat orang lain.

Lihat Juga

Pentingnya Pemilihan Buah dan Makanan yang Tepat untuk Ibu Hamil