Home / Pemuda / Cerpen / Ketika Islam Mekar di Hati

Ketika Islam Mekar di Hati

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

           

Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Mendung menggantung di atas bumi Paris. Langit kelam. Gerimis perlahan turun. Titik-titik air membasahi tanah, jalanan, rerumputan, genting, juga halaman depan rumah sebuah keluarga keturunan bangsa Yahudi. Hujan di luar tidak mengganggu kenyamanan dan kehangatan di dalam rumah tersebut. Raut-raut wajah yang cerah menandakan keadaan harmonis kehidupan mereka.

Gerimis terus turun. Di dalam rumah tersebut, seorang wanita berkebangsaan Perancis berumur 42 tahun telah menyiapkan hidangan makan malam untuk keluarganya.

“Ayah, anak-anak…makan malam sudah siap. Ayo kita makan bersama,” seru Christine kepada keluarganya.

“Iya, sayang. Tunggu sebentar,” sahut Alex, suaminya.

“Iya bu, kami datang,” sahut Maria dan Diana berbarengan. Kedua anak kembar tersebut segera memenuhi ajakan ibunya.

“Ayah ke mana, Bu?” Tanya Diana sambil menarik kursi makannya.

“Di ruang kerjanya. Dia sedang menyelesaikan proposal untuk proyek penting yang akan dia presentasikan di Kongres Anti-Palestine dua hari lagi.”

Mendengar hal itu, Maria merasa sangat senang dan berkata, “Oh, begitu. Semoga proposal Ayah dapat terlaksana. Karena dengan begitu, kemenangan bangsa Yahudi akan segera terwujud.”

“Ya, semoga. Sudah, ayo kita makan. Kalau sudah dingin rasanya sudah tidak nikmat lagi.”

“Ya, Bu.”

Maria segera memasukkan pasta dengan saus ikan tuna ke dalam mulutnya. Diana dan Christine juga melakukan hal yang sama. Mereka bertiga makan dengan lahapnya diselingi dengan obrolan-obrolan mengenai hal-hal menarik yang dialami oleh Diana dan Maria di sekolah. Christine sesekali menimpali cerita kedua putrinya tersebut. Sesekali gelak tawa mengiringi cerita mereka.
Tak lama kemudian, Alex pun bergabung dengan mereka bertiga. Suasana pun menjadi semakin hangat. Selesai makan, mereka berempat menonton TV di ruang keluarga. Tayangan favorit keluarga itu adalah acara berita. Melalui berita mereka bisa mengetahui tentang pendapat media mengenai dunia saat ini. Kebetulan acara berita yang sedang mereka tonton menampilkan berita mengenai penyerangan negara Israel ke negara Palestina. Mereka menyaksikan bagaimana rakyat Palestina memprotes PBB yang bungkam terhadap penderitaan yang mereka alami. Mereka berempat juga menyaksikan korban-korban meninggal dan kritis yang disorot oleh kameramen.

“Rasakan. Itulah akibatnya menentang dan memprotes kami terus menerus. Kalian seharusnya menyerah saja dan memberikan tanah kalian kepada kami karena sejatinya memang tanah itu milik kami,” kata Diana. Maria pun mengiyakan perkataan saudara kembarnya itu.

“Kau benar, Diana. Mereka tidak pantas hidup di bumi ini. Karena bumi ini milik bangsa Yahudi.”

“Hahaha… Ayah bangga kepada kalian. Bangsa Yahudi memang manusia terbaik di muka bumi ini. Kalian memang Yahudi tulen kebanggaan keluarga.” Alex berkata sambil merangkul Diana dan Maria di kanan dan kirinya.

“Ya, Ayah. Kami bangga darah Yahudi mengalir di dalam tubuh kami,” sahut Maria.

Mendengar percakapan suami dan anak-anaknya membuat hati Christine bergejolak. Satu sisi kemanusiaannya, ia tidak tega melihat penderitaan orang-orang Palestina tersebut. Namun di sisi lain ia tidak bisa berbuat apa-apa karena ia harus mendukung ras keturunannya.
Sebenarnya, gejolak itu sudah muncul sejak satu tahun yang lalu ketika ia bertemu dengan seorang dokter muslim berkebangsaan Palestina saat ia bertugas sebagai relawan dokter di Aceh saat kejadian Tsunami tahun 2004 lalu. Awalnya ia membenci dokter muslim yang bernama Azahra tersebut. Namun suatu ketika, Chritine pernah mengalami kecelakaan saat ia menumpang mobil ambulance untuk kembali ke tempat penginapan para relawan. Ia mengalami pendarahan yang cukup serius di bagian kepalanya dan harus menjalani operasi membutuhkan darah yang cukup banyak. Saat itu persediaan darah di rumah sakit yang menangani Christine belum mendapat pasokan darah karena jalanan yang masih tertutup oleh reruntuhan rumah dan mayat-mayat korban tsunami.  Mengetahui keadaan rekannya tersebut, Azahra berinisiatif untuk mendonorkan darahnya. Setelah di cek dan hasilnya darah mereka cocok, Azahra pun segera diminta untuk memasuki ruangan khusus untuk mendonorkan darah.
Tiga hari kemudian, keadaan Christine pun membaik. Dokter yang menangani dirinya pun memberitahu bahwa ada seorang wanita yang rela mendonorkan darahnya sesaat setelah mengetahui bahwa dirinya mengalami kecelakaan. Christine pun penasaran dan menanyakan siapa yang mendonorkan darah untuknya. Dokter itu menjawab bahwa Azahra lah yang telah menolongnya. Christine pun tersentak mengetahuinya. Ia pun berkata bahwa dirinya ingin bertemu dengan dokter Azahra.
Lima belas menit kemudian, dokter Azahra pun sudah berada di samping tempat tidurnya.

“Hai,” sapa dokter Azahra ramah.

“Hai,” balas Christine dengan senyum dinginnya.

“Bagaimana keadaanmu?”

“Sudah baikan. Besok aku sudah bisa bertugas lagi.”

“Alhamdulillah… bagus kalau begitu.”

“Ya, begitulah.”

Keheningan tercipta di antara mereka untuk beberapa saat.

“Hei, ada yang ingin aku tanyakan padamu. Kenapa kau mau menolongku dengan memberikan darahmu saat mengetahui bahwa aku mengalami kecelakaan? Bukankah kamu tahu, aku ini adalah keturunan bangsa Yahudi. Bangsa yang selalu menindas kaum dari agamamu, agama Islam. Kenapa kau tidak membiarkan aku mati atau menganiayaku saja seperti bangsa kami yang tega membunuh rakyat bangsa Palestina? Tahukah kau, bahwa kami, bangsa Yahudi menganggap orang-orang Islam itu adalah sampah di dunia ini? Mengapa kau masih saja menolongku? ”

Azahra kaget mendengar perkataan Christine. Mukanya merah padam. Namun sesaat ia dapat menguasai dirinya. Ia pun tersenyum dan menjawab pertanyaan Christine.

“Saudaraku, aku menolongmu karena kamu adalah manusia, sama sepertiku. Menolong seorang manusia sama saja dengan menolong seluruh manusia di dunia ini, itulah yang diajarkan di dalam agamaku. Dan sekalipun kamu adalah musuhku, tidak pantas bagiku untuk menelantarkanmu ataupun menganiaya musuhku, sekalipun ia pernah menganiaya saudara-saudaraku, karena Rasulku tidak pernah mencontohkan hal itu,” terang Azahra.

Setelah mengatakan hal itu, Azahra pun pamit untuk melanjutkan tugasnya sebagai relawan dokter. Christine masih terpaku setelah mendengar penuturan dari Azahra. Ia terpesona. Seketika hatinya merasa merindukan sesuatu. Ia merindukan Islam hadir di hatinya.

Beberapa waktu setelah menjadi relawan dokter di Aceh, diam-diam ia mempelajari Islam kepada seorang muslimah yang bertemu dengannya ketika ia sedang berjalan-jalan pagi di sekitar rumahnya. Jika ia ketahuan sedang mempelajari Islam oleh keluarganya, maka nyawanya tak akan selamat. Ia pasti akan dibunuh oleh suaminya. Itu karena suaminya merupakan salah satu anggota penting dalam sebuah organisasi rahasia yang berisikan orang-orang Yahudi yang berkompeten untuk menghancurkan Islam di Palestina. Beberapa bulan mempelajari Islam, ia terpesona dengan ajaran-ajaran yang diajarkan di dalam Islam. Pernah terbersit di dalam pikirannya untuk berislam secara diam-diam. Namun ia urungkan karena ia takut menerima konsekuensinya jika ketahuan suatu saat nanti.
Sudah satu tahun berlalu, dan ia masih belum berani untuk berislam. Akan tetapi, gejolak di dalam hatinya terus menerus mendorongnya. Pernah suatu hari ia menangis kepada muslimah tersebut dan mengutarakan niat baiknya. Namun ia belum berani merealisasikannya. Muslimah tersebut hanya bisa menghiburnya dan mendoakannya agar ia diberi hidayah dan keberanian untuk memeluk Islam.

“Ibu, kenapa Ibu melamun?” tanya Diana membuyarkan pikiran Christine.

“Ah, tidak apa-apa. Ibu hanya berpikir, sampai kapan kita harus terus memusuhi bangsa Palestina dan umat Muslim di dunia ini? Bukankah dengan hidup berdampingan, dunia akan terasa menyenangkan. Tak ada lagi perselisihan. Bagaimana pendapatmu, Nak?”

“Tidak, aku tidak mau hidup berdampingan dengan umat Muslim. Kita ini istimewa, Bu. Apakah pantas kita hidup berdampingan dengan orang-orang Islam? Kita jauh lebih pintar bahkan jenius dibandingkan dengan umat Muslim. Coba ibu lihat, kita jauh lebih maju dibandingkan dengan mereka. Contohnya, lihat saja kemajuan teknologi dan kesuksesan ekonomi negara-negara yang dipimpin oleh orang-orang Yahudi dengan negara-negara yang dipimpin oleh orang-orang Islam ataupun bukan penganut Islam dan penganut Yahudi,” jawab Maria nada suara yang sombong.

“Baiklah, baiklah, ibu tidak mau berdebat. Ibu ingin beristirahat. Selamat tidur ya, sayang.” Christine pun beranjak dari tempat duduknya dan menciumi pipi anak kembar dan pipi suaminya.

“Ya Allah, Yang Maha Pemberi Petunjuk, anugerahkanlah kepadaku hidayah-Mu dan keberanian agar aku segera meyakini-Mu secara sempurna. Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Rasulullah adalah utusan Allah,” ucap Christine dalam hati.
Malam itu ia lalui dengan tidur paling pulas seumur hidupnya. Ia pun bermimpi mengucapkan dua kalimat syahadat di sebuah masjid yang memiliki taman yang sangat indah, di mana bunga-bunga bermekaran di sana.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,83 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Kordinator akhwat ROHIS SMAN 62 Jakarta.
  • alghuraba

    subhanallah….

Lihat Juga

Protes terhadap sikap rasis Trump. (aljazeera)

Kemenangan Trump dan Pengaruhnya Terhadap Mesir