Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Sorotan Mata Tajam

Sorotan Mata Tajam

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Mata adalah jendela hati yang bisa menghubungkan manusia dengan dunia luar. Begitu besarnya peran mata sehingga setiap orang dapat melihat tanda-tanda kebesaran Allah dari luasnya hamparan bumi dan tingginya langit serta dapat melihat keanekaragaman yang mengkayakan.

Setiap orang juga dapat merasakan getaran-getaran cinta yang bersumber dari pandangan mata. Tidak bisa dipungkiri bahwa melalui pandangan mata dua insan dapat merasakan getaran-getaran yang menumbuhkan benih-benih “cinta”. Sayangnya, pandangan mata ini dimanfaatkan oleh musuh-musuh manusia (syetan/iblis) untuk menjerumuskan manusia pada hal yang diharamkan. Benih-benih cinta yang seharusnya menumbuhkan kebaikan malah menimbulkan kerusakan yang disebabkan hawa nafsu yang dihembuskan panah-panah iblis yang beracun.

Oleh karena itu, Allah subhanahu wata’ala telah melindungi hamba-Nya melalui firman-Nya dalam Al Qur’an Surat An Nur ayat 30-31 “…agar mereka menjaga pandangannya…”. Dengan ini maka sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga pandangan mata karena termasuk hal yang diperintahkan Allah swt.

Tetapi nyatanya tidak hanya “cinta” yang bisa timbul dari pandangan mata. Benih-benih kebencian pun bisa berawal dari pandangan mata. Inilah kemudian yang menjadi kesempatan berharga bagi para syetan/iblis untuk memanfaatkan getaran kebencian itu. Iblis tidak hanya ingin mempersatukan dua insan ke dalam hubungan yang diharamkan, tetapi juga mencerai beraikan dua insan yang saling mencintai dalam hubungan yang dihalalkan.

Panah-panah beracun iblis yang menimbulkan getaran cinta ditujukan kepada dua orang bukan mahram agar terperangkap pada hawa nafsu mereka. Sedangkan panah-panah beracun iblis yang menimbulkan getaran kebencian ditujukan kepada dua orang yang saling mencintai. Mereka berusaha untuk bisa menceraiberaikan orang tua dengan anaknya, suami dengan istrinya, saudara dengan saudaranya, sahabat dengan sahabatnya, tetangga dengan tetangganya.

Seperti halnya getaran cinta dari mata turun ke hati, getaran kebencian pun berawal dari mata turun ke hati. Perbedaannya adalah sorotan mata yang mengawali dan gelombang positif atau negative yang ditimbulkan. Sebenarnya gelombang positif ini akan menimbulkan benih-benih cinta jika dikondisikan dengan sebaik-baiknya dan ditujukan pada orang yang tepat (mahramnya). Sedangkan gelombang negative yang ditimbulkan oleh pandangan mata bisa menghadirkan getaran kebencian seharusnya bisa diredam.

Dalam hal ini bisa diilustrasikan dari cerita seorang istri yang sedang memiliki masalah tentang perasaannya. Dia seringkali mendapati suaminya bertingkah aneh. Karena tidak ada komunikasi, sang istri hanya mendahulukan perasaannya. Timbul kekesalan dalam dirinya terhadap suaminya. Setiap hal yang dilakukan oleh suaminya seolah menimbulkan masalah dalam dirinya. Hal ini berlangsung cukup lama sehingga pada suatu hari dia ungkapkan kekesalannya dengan tangisan dan kemarahan. Dalam waktu yang bersamaan sang suami yang telah lelah bekerja seharian berazam untuk memberikan senyuman terbaiknya kepada sang istri. Meskipun dia lelah dan sedang memikirkan banyak masalah pekerjaan, dia berusaha masuk ke dalam rumahnya dengan wajah yang telah dirapihkan semampunya. Namun yang terjadi adalah dia dapati istrinya menyambutnya dengan pandangan mata penuh kebencian. Bisa dibayangkan yang terjadi selanjutnya, pandangan mata yang begitu tajam lagi menembus relung hatinya yang begitu dalam mengalirkan benih-benih kebencian dalam darahnya. Inilah kemudian yang dimanfaatkan iblis untuk membisikkan hawa nafsu yang bisa menceraiberaikan mereka.

Hal ini yang sering terlupakan tentang pandangan mata. Seharusnya ghodul bashor (menahan pandangan) tidak hanya dilakukan untuk orang yang bukan mahram tetapi juga untuk setiap orang (dalam kondisi tertentu). Terutama ketika sedang marah kepada siapa pun ghodul bashor perlu dilakukan agar tidak menimbulkan perpecahan, dan minimal tidak menimbulkan su’uzhon. Ghodul bashor ketika sedang marah (penuh kebencian) adalah untuk menghargai perasaan orang yang menerima pandangan mata, terlebih kepada orang yang tidak bersalah dan tidak tahu menahu tentang permasalahan yang mengawali kemarahan.

Ketika sedang marah, kesal atau benci terhadap seseorang akan mempengaruhi aliran darah sehingga warna dan sorotan mata pun akan terlihat berbeda. Seperti halnya cinta yang bisa menular hanya dari pandangan mata, tanpa disadari kebencian pun bisa menular karena hati yang terkontaminasi oleh buruknya pandangan mata. Sedangkan telah kita ketahui bahwa terkontaminasinya hati maka akan mengkontaminasi anggota tubuh lain yang pada akhirnya malah merusak amal-amal.

Apalagi bagi muslimah yang lebih banyak menggunakan perasaan daripada logika, maka ungkapan perasaan akan dengan mudahnya diungkapkan melalui sorotan mata. Ketika seorang saudari bertemu saudarinya, “cipika-cipiki” adalah bentuk penyaluran energi, entah itu energi positif maupun energi negative. Raut wajah dan sorotan mata mampu mempengaruhi suasana pertemuan (baik disadari maupun tidak disadari). Memberikan senyuman dan pandangan penuh kasih sayang harus selalu diikhtiarkan (bagaimanapun keadaan suasana hati). Prasangka baik tidak hanya berawal dari pikiran yang positif, tetapi juga berawal dari perasaan penuh kasih sayang karena-Nya.

Semoga ini menjadi reminder (terutama bagi penulis) agar senantiasa menjaga pandangan mata dan menyalurkannya pada yang hak, baik pandangan penuh kasih sayang maupun kebencian. Meskipun hal ini seringkali dianggap sepele, tetapi setidaknya menjaga pandangan merupakan bagian dari bentuk rasa syukur kepada Allah swt yang telah memberi mata untuk memandang.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,83 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Atik NH
Lulus dari Universitas Pendidikan Indonesia. Tinggal di Sumedang. Berharap tulisannya bisa bermanfaat bagi orang lain (pembaca maupun dirinya). Mari bersama kita mencari ilmu pengetahuan.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Surat Cinta dari Mahasiswa untuk MUI

Organization