Home / Pemuda / Cerpen / Al-Kautsar

Al-Kautsar

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Allahu Akbar, Allahu Akbar, suara adzan bergema begitu indah. Saat mentari mulai beranjak menampakkan cerahnya. Gema itu merasuk ke lapisan kulit yang kedinginan dihempas udara pagi. Merasuk ke dalam jiwa, memberi ketenangan di tiap-tiap ruang dalam hati. Suara itu berlomba bersamaan nyanyian ayam yang tak mau kalah sedikit pun untuk membangunkan setiap insan yang masih dalam dunia mimpinya. Hembusan angin hadirkan rasa haru, beriringan dengan tetesan embun disela-sela rerumputan. Suara jangkrik mulai redup. Nauzubillahi Min dzalik, sungguh indah ciptaan Allah.

Suara itu yang membangunkanku setiap pagi. Sebenarnya suara itu sama sekali tak bagus nadanya. Dan memang takkan sama dengan suara adzan yang kudengar di televisi. Nada-nadanya agak rancuh dan meliuk-liuk. Tak ada keselarasan bunyi antara kalimat ke kalimat lainnya. Aku paham sekali kakek Gharin lah aktor utamanya. Jelas sekali Toa-nya tak layak pakai. Seperti radio butut yang mendesir dan tak enak di dengar. Arahnya dari mushalla tua pinggiran kota ini.

Di sana terpampang plakat nama yang tulisannya sudah buram sekali, tapi dapat ku tangkap maknanya. Ya, Al-Kautsar nama mushalla reot itu. Cat dindingnya pun sudah luntur dan berbaur dengan tanah. Jua, atapnya banyak kebocoran, sehingga ketika hujan, sebagian lantai mushalla berlinang dengan air. Pantas sekali jika disebut tak layak pakai. Tapi entah kenapa kakek gharin masih mempertahankan mushalla tua itu.

Kalau nak dibilang, ketika shalat berjamaah, bisa dikatakan jamaah yang datang hanya itu-itu saja. Tiga orang nenek-nenek, satu orang wanita paruh baya, serta dua orang kakek-kakek. Yang salah satunya adalah kakek gharin sendiri. Jikalau pun jamaahnya lebih itu pun aku yang selalu singgah di mushalla tua itu untuk shalat dan sekadar bercakap-cakap bersama kakek. Kakek juga suka bercanda, dan sering mencandaiku dengan lelucon-lelucon baru. Pernah suatu ketika beliau mencandaiku dengan tenang. “Nak, lihat dagumu, sepertinya ada yang kotor”. Canda kakek beriringan saat beliau memegang keningnya. Aku pun spontan memegang daguku, karena kurasa itu yang di maksud oleh kakek. Tapi beliau sebenarnya bermaksud memberi tahu bahwa keningku yang kotor tapi beliau menyebutnya dagu untuk mengerjaiku. Aku hanya terdiam malu saat kakek mencandaiku dengan lelucon tersebut. Itulah kakek.

Seusai shalat Isya berjamaah, hujan pun sedikit demi sedikit bernada lirih di atas atap. Spontan tetesan-tetesan hujan menggenangi sebagian lantai mushalla. Aku dan kakek mencoba menampung rintik-rintik hujan tersebut dengan ember. Tapi masih ada yang bocor dan tak cukup ember untuk menampungnya. Kakek hanya pasrah dengan keadaan. Beliau tak punya cukup biaya untuk merawat mushalla tua itu. Bantuan dana dari masyarakat pun tak ada. Beliau hanya pekerja kuli angkut di pasar. Buat makan saja tak cukup. Apalagi untuk keperluan mushalla.

Hujan semakin membalut setiap setiap sudut gubuk reot ini. Menyusuri setiap bocoran atap dan mencari celah-celah untuk di singgahi. Malam ini tampak guratan sedih di wajah kakek. Sontak, aku pun ikut sedih. Beliau seperti menahan duka berkepanjangan.

“Nak, bagaimana nanti saat kakek tiada, siapa yang akan merawat mushalla ini?”, tutur kakek dengan wajah tajam menatapku.

“Kenapa kakek bicara seperti itu?”, tanyaku agak penasaran. Tak pernah ku lihat kakek seperti ini. Biasanya hanya tawa yang beliau bagi kepada ku.

“Jikalau mushalla ini hancur dan tiada lagi, kakek lah orang yang paling bersalah dalam diri kakek sendiri, di setiap doa kakek, kakek selalu berharap untuk menjaga Al-Kautsar ini”

“Kenapa kakek bicara seperti itu?” lanjutku makin ragu pada kakek.

“Nak, kau tahu kenapa mushalla ini kubangun?”

“Kau tahu kenapa mushalla ini kubangun?”, nada bicara kakek semakin berat, kakek meneteskan air mata, seraya menceritakan kenapa beliau begitu gigih untuk menjaga dan mempertahankan mushalla itu. Aku hanya terdiam saat beliau mulai bercerita.

“Dua puluh tahun yang lalu saya adalah juragan tempe di sini, saya mempunyai seorang anak bernama Aina, Aina adalah anak saya satu-satunya. Semenjak ibunya tiada, saya lah yang sekaligus menjadi ibu baginya. Aina sangat manja sekali. Bahkan ketika sibuk pun ia selalu ingin di manja. Kadang saya marah dan memintanya untuk masuk ke kamar. Ia menutup pintu kamarnya, dan menangis di dalam kamar. Karena kasihan saya selalu membujuknya dengan hal-hal yang disukainya”.  Aku menyimak dengan seksama apa yang disampaikan oleh kakek.

“Aina suka sekali mengaji, ia tak pernah absen datang ke surau untuk mengaji, seringkali ia ingin mengajakku untuk menemaninya belajar mengaji di surau. Tapi saya selalu menolaknya dengan alasan pekerjaan. Ia hanya terdiam dan berjalan pelan menuju surau. Aku berpikir nanti ia akan ceria kembali. Jika tidak saya selalu membawanya jalan-jalan untuk menghiburnya”.

“Ia suka sekali membaca surat Al-Kautsar. Maklumlah si kecil itu baru bisa menghafal surat terpendek. Kadang kala ia menyanyikannya sesuai dengan nada lagu yang ia sukai. INNA-A’THAINAKAL-KAUTSAR, FASHAL-LI-LIRABBIKA-WANHAR, INNA-TSA-NIAKA-HUWAL-ABTAR. Sepulang dari surau ia selalu membaca surat itu. Bahkan ia selalu memamerkan pada saya bahwa ia sudah hafal surat Al-Kautsar”.

Kakek terdiam sejenak dan kembali meneteskan air mata.

“Tapi, suatu ketika Aina jatuh sakit, ia terkena penyakit demam berdarah. Ia sangat lama di rawat di rumah sakit. Saya berkata dalam hati, apapun akan saya lakukan, Agar Aina lekas sembuh, agar ia kembali ceria, dan menemani ia bermanja-manja di pangkuan saya. Saat sakit pun ia masih ingin melantunkan Al-Kautsar meski agak terbata-bata. Ayah, temani Aina menyanyikan surat Al-Kautsar ya, kata pak ustadz Al-Kautsar itu artinya sungai di surga, aina selalu bermimpi loh yah, mandi di sungai surga itu. Tapi ayah tak ada. Makanya aina ingin ajak ayah menyanyikannya saat ini. Ya nak, saya menjawab dengan rasa haru dan bangga pada si kecil, bismli- la- hi- rah-ma-ni- rahim, jelas sekali wajahnya pucat saat membaca basmallah. Ia terus lanjut membacanya dan saya mengiringinya membaca surat tersebut.” Kakek semakin meneteskan airmata tapi beliau kembali menyambung ceritanya, beliau begitu antusias menyampaikan cerita itu padaku. Maklumlah hanya aku yang selalu menjadi tempat beliau berbagi cerita.

ayo yah, ayo kita nyanyikan bersama-sama, ayah kok malah diam dan bengong, ayah gak mau ya, menemani Aina, tidak, ayah mau kok menemani Aina, ayo kita baca sama-sama, inna-a’thaina-kaalkaut-sar, Fashal li-li-rabika-wan-har,ada jeda di sana dan saya kembali melanjutkan, inna-tsa-niaka-huwal-abtar, saat itu saya tak mendengar suara Aina lagi, sepertinya ia telah tertidur, saya tatap baik-baik wajahnya, wajah lugu itu, senyumnya dan keceriaannya yang memenuhi pemikiranku, saya pegang erat-erat tangan mungilnya, dan tak lupa mencium keningnya. Tak ada pekerjaan, tak ada kesibukan, kini hanya tinggal keheningan di sana”. Airmata kakek tak mampu di bendungnya lagi. Aku sangat terharu mendengar cerita kakek dan merinding mendengar cerita itu, sekaligus aku juga meneteskan airmata. Sebegitu cintanya anak beliau pada surat pendek itu. Aku saja tak mampu menandinginya. Aku saja belum punya surat special untuk selalu kubaca, hanya tiga surat pendek terakhir yang sering ku baca dalam shalatku. Al-Ikhlas, Al-fAlaq, dan An-naas.

Aku mencoba menjadi pendengar yang baik bagi kakek. Tanpa memotong sedikit pun pembicaraan kakek. Karena harunya, aku saat ini bak berada di ruangan yang begitu indah. Padahal aku hanya berada di gubuk tua Al-Kautsar.

“Tak lama, dokter pun datang membangunkan saya yang telah tertidur bersama Aina. Dokter kembali memeriksa keadaan Aina. Melihat setiap detail perkembangan Aina. Setelah selesai memeriksa Aina, dokter mendesah nafas lirih. Pak, Aina telah berpulang pada pemiliknya. Aina sudah tenang, lihat ia tersenyum begitu indah, walau ia telah meninggalkan bapak. Saya hanya terdiam, dengan reflek Airmata berguguran, bak air terjun Niagara memecah tepian di bawahnya. Lama sekali saya terdiam dan menangis kala itu, tak bisa berkata apa-apa. Bapak harus sabar, ia akan selalu bersama bapak, yakinlah. Bujuk dokter. Saya mulai berkata-kata. Aina, kamu pasti bisa, bertahanlah nak, kamu pasti bi-sa, saya terbata saat mengucapkan kata-kata itu. Akhirnya saya sadar bahwa Allah lah yang lebih berhak. Innalillahi wa innailaihi rajiun. Saya mengikhlaskan ia pergi. Semoga ia menjadi anak surga. Ternyata saat selesai ia membaca Al-Kautsar, ia telah di panggil sang pencipta”.

Mendengar bahwa Aina anak kakek ternyata telah meninggal, tangisanku makin menjadi-jadi. Seperti air terjun lembah anai. Yang hadirkan suasana kaget, haru, serta rasa kehilangan dan kesunyian. Kakek menyapu air matannya dengan sapu tangan lusuh miliknya.

“Sabar dan tabah ya kek, semua itu sudah takdir yang maha kuasa. Kita sebagai hamba hanya mampu menjalaninya”. Ungkapku mencoba menghibur kakek. Tapi kakek tak lagi meneteskan airmata dan melanjutkan kisahnya.

“Iya nak, kakek pasti sabar. Semenjak kehilangan Aina, saya selalu membaca surat Al-Kautsar. Surat yang paling di sukai oleh Aina. Berbeda dari kebanyakan orang yang membaca surat yassin. Tapi saya hanya membaca surat Al-Kautsar, berulang-ulang. Dan berharap Aina bisa mendengar Ayahnya yang bodoh ini, dan Semoga Allah Bisa membuatkan sungai yang indah di surga seperti apa yang ia ceritakan pada saya, saat ia sakit. Saya selalu berdoa seperti itu. Dan juga ia bisa bermanja-manja bersama ibunya di sana. Amien.”

Jam telah menujukan Pukul sebelas lewat empat puluh menit. Hampir tengah malam. Tapi kakek terus bercerita. Aku hanya terdiam di balik kesabaran dan ketabahan kakek.

“Satu musibah lagi menimpa saya, usaha tempe saya bangkrut total. Sehingga untuk membiayai hidup. Saya harus menjual tanah rumah untuk kebutuhan hidup. Dan itu tak membuat saya sedih. Karena semua itu tiada lagi artinya bagi saya. Saat membereskan kamar Aina, ada agenda kecil di sudut sofa tempat Aina biasa tidur. Saya membuka catatan itu inci demi inci, ada satu hal mengganjal di sana yang Aina Tulis. Untuk ayah yang Aina sayangi, mungkin hari ini  ayah tak mau Aina ajak ke surau, karena mungkin ayah sibuk, tapi Aina takkan berhenti mengajak ayah, karena Aina pingin sekali ayah membacakan surat Al-Kautsar di hadapan  Aina. Tapi ayah selalu menolak. Aina takkan menyerah sampai ayah mau. Aina tidak pernah marah sama ayah, bahkan Aina lah yang seharusnya minta maaf pada ayah, karena terlalu memaksakan kehendak aina. Maafin aina ya ayah, Aina sangat sayang Ayah dan juga ibu. Saya sungguh terharu dengan apa yang di tulisnya itu. Dan saya tak mau meratapi hal tersebut. Aku hanya tersenyum bahagia betapa mulianya hati anak ini. Dia lah hal yang paling berharga dari apa pun di dunia ini.” kakek mendesah nafas sejenak sembari hujan mulai reda. Rasa haru masih menyelimuti hatiku, kakek pun kembali menatap tajam padaku.

”nak, tahukah engkau mushalla yang kau duduki ini adalah, Kamar Aina. Saya memang menjual tanah Rumah, Tapi tidak untuk kamar Aina. Sebagai penebus rasa salah saya pada Aina dan sebagai taubat saya pada Allah, karena sering melupakannya. Makanya saya dirikan Mushalla ini. Dan saya beri nama sesuai dengan nama surat yang Aina sukai”.

“Saya tahu itu kek, Al-Kautsar kan!” sedikit candaku pada kakek. Memotong cerita dan itu berpengaruh. Kakek pun sedikit tersenyum dan tertawa padaku.

“Semoga dengan adanya mushalla Al-Kautsar, Allah juga membukakan mushalla yang lebih megah di surga sana. Di samping sungai yang di idolakan Aina. Tempat keluarga kami berkumpul suatu hari nanti”.

“Amin”. Sambungku mendahului kakek.

Akhir malam yang begitu indah dibalik semua cerita cerita kakek, semoga Allah memberikan ketegaran, kesabaran, dan ketabahan pada kakek. Aku bangga sekali kakek dengan gigihnya mempertahankan Mushalla Al-Kautsar.

***

Dua bulan setelah kakek memberikan Inspirasi dan motivasi dibalik kisah-kisah beliau. Suatu kisah hidup beliau, yang mengharukan. Perjuangan beliau, ketabahan beliau, serta kesabaran beliau. Aku banyak belajar dari apa yang disampaikan oleh kakek. Dan Akhirnya kakek pun menyusul anak dan istri beliau. Aku yakin Allah telah mempertemukan Aina dengan idolanya. Dan Allah juga telah membuatkan Mushalla Al-Kautsar yang lebih megah di surga untuk keluarga kakek.

“Kini tinggallah mushalla Al-Kautsar penuh kebahagiaan. Meski tak terawat, aku yakin semua ini hanyalah secuil dari keindahan Mushalla Al-Kautsar di Surga”.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 7,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Putra bin Aldawiyah
Mahasiswa Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Padang.

Lihat Juga

(Foto: Abdul Hakim)

Buktikan Kualitas, Sekolah Islam Terpadu Dominasi Pemenang Lomba Nasional Budaya Mutu SD