08:36 - Kamis, 24 April 2014
Cahyadi Takariawan

Meredakan Ketegangan dalam Rumah Tangga

Rubrik: Pendidikan Keluarga | Oleh: Cahyadi Takariawan - 28/12/12 | 14:30 | 14 Safar 1434 H

keluargadakwatuna.com - Kondisi kehidupan keluarga sangat fluktuatif. Kadang berada dalam suasana yang bahagia, nyaman, tenteram dan tenang. Namun kadang bergolak, ada suasana ketegangan yang membuat suami dan istri tertekan secara psikologis sehingga tidak bahagia hidupnya. Ada banyak faktor yang mempengaruhi munculnya aneka suasana dalam kehidupan rumah tangga.

Perubahan suasana tersebut kadang begitu cepatnya. Sebuah keluarga yang semula demikian tampak bahagia dan ceria, tiba-tiba keesokan harinya mengalami ketegangan dan konflik yang memuncak. Sebaliknya, keluarga yang semua sudah berada di ambang kehancuran, tiba-tiba tampak sedemikian mesra dan bahagia pada hari berikutnya. Para konselor di Jogja Family Center sering terkejut atas perubahan yang sedemikian cepat pada klien. Dikira masih berada dalam masalah keluarga, ternyata mereka tengah berlibur di Australia dalam kondisi bahagia.

Ketegangan Keluarga

Setiap keluarga pasti pernah mengalami suasana ketegangan hubungan antara suami dan istri, atau antara orang tua dengan anak. Ada dua jenis ketegangan yang biasa terjadi dalam kehidupan keluarga, yaitu ketegangan psikis dan ketegangan fisik. Yang dimaksud dengan ketegangan psikis adalah suasana tidak nyaman yang terjadi antara suami dan istri. Misalnya tidak nyaman untuk bicara, tidak nyaman untuk bercengkerama, sering salah paham dalam berkomunikasi, dan sering emosi terhadap pasangan. Suami dan istri saling melukai perasan dan menyakiti hati pasangan.

Sedangkan ketegangan fisik adalah tidak adanya kelembutan dalam sentuhan dan hubungan fisik antara suami dan istri. Suami berlaku kasar kepada istri, atau istri berlaku kasar kepada suami. Mereka melakukan kekerasan fisik, seperti pukulan, tendangan, tamparan, bahkan ada yang menggunakan peralatan dan senjata untuk melukai fisik pasangan. Tidak jarang berbuntut pembunuhan kepada suami atau istri sendiri.

Sangat banyak faktor penyebab munculnya ketegangan dalam keluarga. Ada faktor internal, yang bersumber dari suami dan istri sendiri; dan ada faktor eksternal, yang bersumber dari pihak lain di luar keluarga. Faktor internal bisa berupa temperamen suami atau istri yang emosional, ketidakmampuan menahan diri, ketidakmampuan berkomunikasi, sifat ego yang diikuti, ingin menang sendiri, tidak mau mengalah, sulit meminta maaf, kesulitan ekonomi, dan lain sebagainya.

Faktor eksternal bisa berupa munculnya WIL atau PIL, masalah saudara, ipar, problem dengan mertua, persoalan dengan tetangga, masalah di tempat kerja yang dibawa masuk ke rumah tangga, masalah pembantu rumah tangga, dan lain sebagainya. Baik faktor internal maupun eksternal, keduanya sangat dekat dan ada di sekitar kita bahkan ada dalam diri kita sendiri. Artinya, faktor penyebab munculnya ketegangan ada di mana-mana tidak jauh dari kita, sehingga sangat mudah untuk menyerang semua keluarga.

Meredakan Ketegangan

Ketegangan dalam keluarga adalah konsekuensi dari interaksi tanpa jarak dan terjadi setiap hari. Suami dan istri bertemu dan hidup di rumah yang sama, di kamar yang sama, di ranjang yang sama. Setiap saat berinteraksi dan berkomunikasi, tanpa jeda, tanpa batas waktu. Ketegangan juga muncul karena tingginya harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Dengan kata lain, ketegangan hubungan adalah sebuah kemestian dalam kehidupan keluarga. Yang diperlukan adalah upaya untuk meredakan dan meminimalisir peluang kejadiannya. Suami dan istri harus memiliki kesadaran dan keterampilan untuk mengelola berbagai faktor pemicu munculnya ketegangan, dan meredakan ketegangan apabila sudah terlanjur terjadi.

Ada banyak cara untuk meredakan ketegangan hubungan antara suami dan istri, di antaranya adalah:

1. Kegiatan Spiritual

Suami dan istri menguatkan aktivitas spiritual dengan melakukan ibadah secara tekun dan khusyu’. Misalnya suami dan istri menyengaja untuk bangun malam berdua, melakukan shalat malam dan berdoa bersama untuk mendapatkan kebaikan kehidupan keluarga. Atau menyengaja untuk mengundang tokoh spiritual, seperti ustadz atau ulama, untuk memberikan nasihat dan pencerahan untuk semua anggota keluarga. Bahkan jika memiliki keluangan dana, bisa melakukan umrah bersama satu keluarga.

Kegiatan spiritual seperti ini diharapkan mampu menjauhkan dan meredakan berbagai ketegangan hubungan antara suami dan istri. Dengan suasana spiritualitas keluarga yang terjaga, semua pihak akan selalu berusaha menjadi orang yang terbaik. Menjadi suami yang ideal, menjadi istri idaman, menjadi orang tua teladan, menjadi anak-anak sesuai harapan.

2. Kegiatan Rekreatif

Sesekali waktu suami dan istri perlu meluangkan kesempatan untuk melakukan rekreasi berdua saja, atau bersama semua anggota keluarga. Rekreasi ini tidak mesti menuju tempat wisata yang jauh dan mahal. Suasana rekreatif bahkan bisa dilakukan di rumah sendiri, dengan jalan melakukan hal yang tidak biasanya. Misalnya, makan malam berdua di teras samping rumah, atau mengobrol berdua di kebun belakang rumah, atau tidur di tenda yang dipasang di halaman belakang.

Kegiatan rekreasi diperlukan untuk menghindarkan kejenuhan akibat kegiatan yang rutin dan monoton dalam keluarga. Ketegangan bisa muncul karena suasana yang monoton, mekanistik, rutin dan membuat kejenuhan yang bertumpuk. Tidak ada variasi dan tidak ada rekreasi, membuat ketegangan mudah muncul. Harapannya, dengan kegiatan rekreasi keluarga, membuat suasana segar, mengendurkan syaraf, meredakan ketegangan sehingga suasana menjadi nyaman dan tenteram,

3. Kegiatan Sosial

Di antara hal yang bisa meredakan ketegangan dalam keluarga adalah kegiatan sosial. Aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan, membantu tetangga, menolong orang yang memerlukan, mengunjungi panti yatim piatu, menjenguk orang sakit, dan lain sebagainya, menjadi sarana untuk meredakan ketegangan hubungan antara suami dan istri. Dengan kegiatan sosial, suami dan istri dituntut untuk memberikan contoh keteladanan bagi masyarakat sekitar, minimal ada perasaan malu apabila ada keributan dalam keluarga mereka.

Selain itu, kegiatan sosial akan memberikan sikap empati atas masalah dan penderitaan yang dialami orang lain, sehingga diharapkan menjadi suatu pelajaran berharga bagi suami dan istri untuk kembali ke rumah dalam suasana yang bahagia. Mereka bisa melihat kesulitan yang dialami banyak kalangan masyarakat, sehingga akan memberikan pelajaran penting agar selalu menjaga keutuhan keluarga.

Selamat menikmati kebahagiaan bersama keluarga. Teh poci sore hari, pisang goreng panas ditambah sedikit keju dan coklat, mungkin sangat membahagiakan Anda berdua pada sore ini.

Cahyadi Takariawan

Tentang Cahyadi Takariawan

Senior Editor di PT Era Intermedia, Pembina di Harum Foundation, Direktur Jogja family Center, Staf Ahli Lembaga Psikologi Terapan Cahaya Umat. Alumni Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM). [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Samin Barkah, Lc

Topik:

Keyword: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (12 orang menilai, rata-rata: 9,08 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • 4247 hits
  • Email 2 email
Iklan negatif? Laporkan!
110 queries in 1,138 seconds.