Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Seratus Ribu dari Ibu

Seratus Ribu dari Ibu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Sebenarnya ini hanya kisah sederhana tentang pulang kampung. Bulan lalu saya berkesempatan pulang ke rumah dari studi saya di luar negeri yang sudah lebih dari setahun saya jalani. Untuk pertama kalinya setelah satu tahun tiga bulan, akhirnya saya pulang kampung juga. Jatah libur dua pekan dari lab tidak saya sia-siakan.

Ketika hari berlalu, dan tiba saatnya untuk kembali ke perantauan, saya mohon pamit pada ayah ibu juga keluarga. Di saat itulah saya harus mencium tangan ibu dan mengucapkan selamat tinggal, hingga waktunya nanti kembali bertemu. Di depan pintu rumah saya menyalami ibu bapak dan adik-adik. Bersalaman dan berpelukan saling mendoakan.

Pada saat itu, saya tidak menyangka Ibu saya mengambil uang selembar seratus ribu dari dalam dompet. Dan memberikannya pada saya, Ibu bilang “Untuk uang saku nak”. Saya kaget. Saya yang merasa sudah cukup besar untuk diberi uang saku menolaknya secara halus. Bukan apa-apa. Saya hanya merasa uang tersebut lebih baik ibu simpan atau diberikan pada adik saya yang masih kecil, atau diberikan pada budhe yang biasa bantu-bantu rumah. Saya merasa saya sudah membawa cukup uang untuk berangkat pulang pergi dan seingat saya di dompet juga masih ada uang cukup untuk sampai nanti tiba di tujuan.

Saya menyodorkan lagi uang yang diberikan ibu dengan halus, namun ibu saya memaksanya. Saya bilang “Untuk apa bu? Saya sudah ada uang cukup”. Lalu ibu saya bilang, “Untuk apa… ya untuk di jalan nanti nak, simpanlah” ucapnya sambil terus mendoakan saya agar selamat, mencium kedua pipi saya. Akhirnya terpaksa saya masukkan juga uang tersebut ke saku celana dan sekali lagi saya cium punggung tangannya.

Setelah diantar sepupu, bapak dan adik ke bandara, saya berangkat juga ke Jakarta dari Jogja. Ketika masuk bandara Adisucipto Jogja saya kena pungutan pajak dua kali. Saya keluarkan uang dari dalam dompet, hampir tujuh puluh ribu. Setibanya di Jakarta di toko kecil saya membeli roti dan minum. Hampir sepuluh ribu. Saya tidak begitu perhatian bahwa uang dalam dompet saya tersisa tidak lebih dari seratus lima puluh ribu. Uang rupiah yang lain sudah saya tukarkan ke dolar semua sehari sebelum berangkat. Namun saya berpikir uang tersebut masih cukup, insya Allah tidak ada lagi pengeluaran macam-macam.

Saat itu saya tiba di bandara Soekarno Hatta terminal 3. Saya harus pindah ke terminal 2 untuk penerbangan selanjutnya. Dengan barang titipan teman yang banyak, hampir 30 kg, tidak mungkin saya bawa dengan shuttle bus. Terpaksa saya pesan taksi. Dan saya baru ingat ternyata taksi bandara itu tidak murah! Dan dengan sangat terkejut, ternyata uang saya setelah sampai di terminal 2 tidak lebih dari tiga puluh ribu rupiah di tangan!

Dalam hati saya berpikir, toh tidak ada lagi pungutan yang lain. Sesampainya nanti di tujuan saya sudah punya uang dolar yang cukup, yang kemarin sudah saya tukarkan. Ketika mengantri di loket check-in bagasi saya berpikir aman sudah perjalanan saya. Namun betapa kagetnya saya ketika petugas di loket tersebut meminta saya untuk membayar airport tax. Saya benar-benar lupa kalau ini adalah bandara Indonesia. Dan lebih terkejut lagi karena uang yang diminta adalah seratus dua puluh lima ribu rupiah.

Saya lihat dompet saya, tinggal dua puluh sekian ribu. Dari mana saya harus membayar kekurangannya?!

Saat itulah saya ingat seratus ribu yang ibu berikan sebelum berangkat tadi. Seratus ribu yang awalnya saya tolak karena menganggap bahwa uang saya sudah cukup. Seratus ribu yang saya anggap lebih baik diberikan pada adik atau budhe saya. Saya benar-benar terkejut, antara senang dan sedih, antara kaget dan gembira. Beberapa detik saya terdiam, sebelum kemudian saya teringat bahwa saya harus mengambil uang tersebut dari saku celana. Saya bayarkan ke petugas loket itu. Dan sisanya adalah dua ribu perak! Dua ribu perak di dalam dompet, mengantar saya yang terdiam terpaku masuk ke pesawat.

Ketika mesin pesawat menderu, lalu tinggal landas, meninggalkan tanah Jawa, meninggalkan tumpah ruah tanah surga, saya benar-benar tak bisa berkata-kata. Hanya desis-desis dzikir yang sesekali terucap. Subhanallah walhamdulillah… Betapa Allah tidak pernah melewatkan sedikit pun peristiwa tanpa rencana-Nya yang agung. Betapa kita manusia ternyata sangat kerdil dan bodoh. Dan ketika ingat ibu, saya jadi semakin sedih. Ya Allah… Betapa kasih sayang ibu adalah bagian dari rahmatMu yang Engkau titipkan untuk manusia. Ia adalah lautan, mentari, ia adalah alam raya… segalanya…

Ibu… Maafkan anakmu ini yang kadang lupa, ah, mungkin terlalu sering lupa. Kami lupa akan kasih sayangmu. Bahkan untuk sekadar menerima pemberianmu, menerimanya dengan segala kerendahan hati seorang anak, kami lupa melakukannya.

Rabbighfirlii waliwalidayya warhamhuma kamaa rabbayaanii shaghiiraa…

Pelajaran penting: di segala kondisi, segala situasi, orang tua terutama ibu adalah orang pertama yang harus kita tempatkan dan kita rendahkan hati kita. Pelajaran kedua: periksa uang rupiah cukup sebelum perjalanan udara, terutama lewat bandara Indonesia! :D

Taiwan, 23122012

Untuk Ibu dan Mama…

Everyday is mother day.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 9,63 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ashif Aminulloh
Mahasiswa Master of Semiconductor Technology di Asia University Taiwan. Penggiat Forum Lingkar Pena Taiwan dan Forum Mahasiswa Muslim Indonesia Taiwan.

Lihat Juga

gadget

Anak-Anak di Era Digital dan Media Sosial